alexametrics
28.7 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Soal Tato, Dewi Pradewi Sebut Bukti Simbol Kesetaraan Gender

RadarBali.com – Cantik, haus ilmu, pekerja keras, dan berani. Kesan inilah yang melekat dalam diri artis serba bisa Putu Dewi Ariantini, 30. Selain memukau di bidang tarik suara, asisten pribadi Ketua PHRI Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) itu ternyata juga seorang guru privat yoga. Pencapaian itu tak lantas membuat bajang jegeg asal Banjar Pemeregan, Kelurahan Pemecutan, Denpasar itu puas. Kini wanita single pemilik nama panggung Dewi Pradewi itu sedang mengejar gelar magister di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

“Wanita bertato dalam Diskursus Gender di Kota Denpasar. Itu judul tesisku nanti,” ucap alumnus SMP Negeri 2 Denpasar tahun 2002 itu, Selasa (19/9) kemarin. Kepada Jawa Pos Radar Bali, Dewi menyebut dirinya sedang menggali teori-teori ilmu kajian budaya, khususnya yang terkait dengan teori Semiotika, ilmu tentang simbol atau tanda-tanda. Sungguh berani, tak sekadar jadi penghias bibir, Dewi Pradewi khusyuk mendalami seni tato.

Baca Juga:  Seniman Bali Kompak Melawan Korupsi dengan Karya

Bahkan merajah tubuh mulusnya. Menurutnya, tato pada wanita menunjukkan kesetaraan gender dengan kaum pria. Bila stigma atau pandangan negatif melekat pada wanita yang bertato terang Dewi berarti tidak ada kesetaraan gender. “Hello apa kabar laki-laki? Bukankah yang membedakan kami hanya pada kodrat? Tato dan tak bertato bukan kodrat,” ucapnya.

Artis Pop Bali yang mulai manggung tahun 2001 dan menelorkan album single Bunga Tresna selang tahun setelahnya mengatakan bahwa salah atau benar dalam memandang perempuan bertato bersifat relatif. “Yang buat salah benar siapa? Buatku salah benar hanya pengkategorian yang dibuat oleh seseorang dan itu sah. Karena itu sebuah perspektif. Kodrat kami perempuan hamil dan haid. Itu contoh yang laki-laki tak mungkin mengalaminya,” tandasnya.

Lebih lanjut, pemilik album Muani Buaya (rilis perdana 2005) dan lawan duet penyanyi senior antara lain Yong Sagita, De Antoni, Yan Wi, dan Dewa Paris itu menyebut tato membuat dirinya lebih seksi. “Dulu mungkin tato sebuah simbol, tapi buatku sekarang tato itu aksesoris. Tato ini bikin aku lebih seksi,” ungkapnya sembari menegaskan bahwa tato bukan bentuk perlawanannya pada masyarakat ataupun negara. “Tapi lebih pada aku suka melihat foto-fotoku, khususnya di bagian punggung,” tuturnya.

Baca Juga:  Woow...Ditengah Pandemi Covid-19, JRX Sukses Bikin Konser di Twice Bar

Ditanyai tentang tato di bagian punggung, Dewi yang mengidamkan pencapaian cumlaude pada karir akademik di jenjang S-2 itu menjawab bergambar burung phoenix dan naga. “Burung phoenix dan naga sebagai lambang yin dan yang; keseimbangan,” bebernya. Mantan kekasih filmmaker Bali, Dwitra Juli Ariana tersebut diketahui baru saja meluncurkan album duet terbaru bersama Dek Arya dengan judul album Bermain Cantik produksi SMA Pro. “Baru 9 September lalu,” jelasnya.



RadarBali.com – Cantik, haus ilmu, pekerja keras, dan berani. Kesan inilah yang melekat dalam diri artis serba bisa Putu Dewi Ariantini, 30. Selain memukau di bidang tarik suara, asisten pribadi Ketua PHRI Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) itu ternyata juga seorang guru privat yoga. Pencapaian itu tak lantas membuat bajang jegeg asal Banjar Pemeregan, Kelurahan Pemecutan, Denpasar itu puas. Kini wanita single pemilik nama panggung Dewi Pradewi itu sedang mengejar gelar magister di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

“Wanita bertato dalam Diskursus Gender di Kota Denpasar. Itu judul tesisku nanti,” ucap alumnus SMP Negeri 2 Denpasar tahun 2002 itu, Selasa (19/9) kemarin. Kepada Jawa Pos Radar Bali, Dewi menyebut dirinya sedang menggali teori-teori ilmu kajian budaya, khususnya yang terkait dengan teori Semiotika, ilmu tentang simbol atau tanda-tanda. Sungguh berani, tak sekadar jadi penghias bibir, Dewi Pradewi khusyuk mendalami seni tato.

Baca Juga:  Seniman Bali Kompak Melawan Korupsi dengan Karya

Bahkan merajah tubuh mulusnya. Menurutnya, tato pada wanita menunjukkan kesetaraan gender dengan kaum pria. Bila stigma atau pandangan negatif melekat pada wanita yang bertato terang Dewi berarti tidak ada kesetaraan gender. “Hello apa kabar laki-laki? Bukankah yang membedakan kami hanya pada kodrat? Tato dan tak bertato bukan kodrat,” ucapnya.

Artis Pop Bali yang mulai manggung tahun 2001 dan menelorkan album single Bunga Tresna selang tahun setelahnya mengatakan bahwa salah atau benar dalam memandang perempuan bertato bersifat relatif. “Yang buat salah benar siapa? Buatku salah benar hanya pengkategorian yang dibuat oleh seseorang dan itu sah. Karena itu sebuah perspektif. Kodrat kami perempuan hamil dan haid. Itu contoh yang laki-laki tak mungkin mengalaminya,” tandasnya.

Lebih lanjut, pemilik album Muani Buaya (rilis perdana 2005) dan lawan duet penyanyi senior antara lain Yong Sagita, De Antoni, Yan Wi, dan Dewa Paris itu menyebut tato membuat dirinya lebih seksi. “Dulu mungkin tato sebuah simbol, tapi buatku sekarang tato itu aksesoris. Tato ini bikin aku lebih seksi,” ungkapnya sembari menegaskan bahwa tato bukan bentuk perlawanannya pada masyarakat ataupun negara. “Tapi lebih pada aku suka melihat foto-fotoku, khususnya di bagian punggung,” tuturnya.

Baca Juga:  Cassete Store Day; Hari Kembalikan Kenangan Pecinta Musik Pita Kaset

Ditanyai tentang tato di bagian punggung, Dewi yang mengidamkan pencapaian cumlaude pada karir akademik di jenjang S-2 itu menjawab bergambar burung phoenix dan naga. “Burung phoenix dan naga sebagai lambang yin dan yang; keseimbangan,” bebernya. Mantan kekasih filmmaker Bali, Dwitra Juli Ariana tersebut diketahui baru saja meluncurkan album duet terbaru bersama Dek Arya dengan judul album Bermain Cantik produksi SMA Pro. “Baru 9 September lalu,” jelasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/