alexametrics
25.4 C
Denpasar
Saturday, August 13, 2022

Parade Tari Nusantara, Bali Juara Semua Kategori

RadarBali.com – Para penari handal Bali kembali mengikuti Parade Tari Nusantara ke-36 yang di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (19/8). 

Pada kesempatan tersebut, pihak provinsi Bali juga menyerahkan piala bergilir yang tahun sebelumnya dipegang Provinsi Bali setelah keluar sebagai juara umum.

Penyerahan tersebut dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha.

Dalam parade yang diikuti oleh perwakilan 26 provinsi se Tanah Air tersebut, Bali diwakili oleh Yayasan Pancer Langiit,  berhasil mendapatkan yang terbaik untuk semua kategori yang diparadekan. 

Mulai dari kategori penyaji unggulan, penata tari unggulan (I Gusti Ngurah Agung Giri Putra), penata musik unggulan (I Wayan Sudiarsa), serta penata rias dan busana unggulan (I Gusti Ngurah Agung Sasmitra). 

Pada pagelaran tersebut, sanggar seni asal kabupaten Badung ini membawakan tari kreasi Patemon Teruna Daha. 

Baca Juga:  Delegasi IMF-WB Meeting Bakal Disajikan Parade Budaya Nusantara

Kata “patemon” sendiri bermakna pertemuan, “teruna” berarti remaja putra dan “daha” artinya remaja putri. 

Artinya, tari tersebut dimaknai sebagai tarian yang mempertemukan remaja putra dan putri dengan tujuan membangun rasa saling mengenal dan menyukai satu sama lainnya, sesuai dengan tari Abuang Luh Muani dari Tenganan Pegringsingan yang menginspirasi penciptaan tari kreasi tersebut. 

“Bagi masyarakat Tenganan dengan adatnya yang ketat dimana para pemuda-pemudinya tidak boleh kawin keluar desa. Maka dari itu dilakukan upaya untuk membangun kedekatan rasa antara pemuda dan pemudi di Tenganan Pegringsingan dilakukan lewat Abuang Luh Muani itu” kata Kepala Dinas kebudayaan provinsi Bali, Dewa Putu Beratha, di Denpasar, Minggu (20/8) siang.

Dipilihnya tari tersebut untuk ditampilkan di ajang tersebut, untuk menyesuaikan dengan tema Parade Tari Nusantara tahun ini yang bertajuk “Kreativitas Tari pada Proses (rangkaian) Adat Masyarakat Daerah Berbasis Seni Kerakyatan”. 

Baca Juga:  Woow...Malam Puncak Anugerah Musik Bali 2019 Bakal Ada Sesi Red Carpet

Di desa yang termasuk desa Bali Aga terseut, tari Abuang Luh Muani dibawakan oleh pemuda-pemudi dengan cara berdiri dan berhadap-hadapan, dengan posisi tangan dibentangkan, serta digerakkan mengikuti alunan gamelan selonding. 

“Parade Tari Nusantara juga merupakan salah satu upaya untuk melestarikan, mengembangkan dan juga untuk memperkenalkan khazanah tari daerah sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia kepada seluruh masyarakat Indonesia terutama generasi muda sebagai penerus bangsa,”tambah Beratha.

Ditambahkan, sesuai dengan pernyataan dari Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, parade ini memang mempertunjukkan tari garapan baru yang berpijak pada tari tradisi daerah sehingga produksi yang dihasilkan adalah  tari yang tetap mencerminkan kekhasan seni budaya tradisi.

“Tetapi tari tersebut bisa memberikan corak baru yang memperkaya khazanah tari Indonesia,” pungkasnya.



RadarBali.com – Para penari handal Bali kembali mengikuti Parade Tari Nusantara ke-36 yang di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Sabtu (19/8). 

Pada kesempatan tersebut, pihak provinsi Bali juga menyerahkan piala bergilir yang tahun sebelumnya dipegang Provinsi Bali setelah keluar sebagai juara umum.

Penyerahan tersebut dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha.

Dalam parade yang diikuti oleh perwakilan 26 provinsi se Tanah Air tersebut, Bali diwakili oleh Yayasan Pancer Langiit,  berhasil mendapatkan yang terbaik untuk semua kategori yang diparadekan. 

Mulai dari kategori penyaji unggulan, penata tari unggulan (I Gusti Ngurah Agung Giri Putra), penata musik unggulan (I Wayan Sudiarsa), serta penata rias dan busana unggulan (I Gusti Ngurah Agung Sasmitra). 

Pada pagelaran tersebut, sanggar seni asal kabupaten Badung ini membawakan tari kreasi Patemon Teruna Daha. 

Baca Juga:  Roy Ungkap Boomerang Telah Sirna & Tak Ada Peluang Reuni Seiring Henry Wafat

Kata “patemon” sendiri bermakna pertemuan, “teruna” berarti remaja putra dan “daha” artinya remaja putri. 

Artinya, tari tersebut dimaknai sebagai tarian yang mempertemukan remaja putra dan putri dengan tujuan membangun rasa saling mengenal dan menyukai satu sama lainnya, sesuai dengan tari Abuang Luh Muani dari Tenganan Pegringsingan yang menginspirasi penciptaan tari kreasi tersebut. 

“Bagi masyarakat Tenganan dengan adatnya yang ketat dimana para pemuda-pemudinya tidak boleh kawin keluar desa. Maka dari itu dilakukan upaya untuk membangun kedekatan rasa antara pemuda dan pemudi di Tenganan Pegringsingan dilakukan lewat Abuang Luh Muani itu” kata Kepala Dinas kebudayaan provinsi Bali, Dewa Putu Beratha, di Denpasar, Minggu (20/8) siang.

Dipilihnya tari tersebut untuk ditampilkan di ajang tersebut, untuk menyesuaikan dengan tema Parade Tari Nusantara tahun ini yang bertajuk “Kreativitas Tari pada Proses (rangkaian) Adat Masyarakat Daerah Berbasis Seni Kerakyatan”. 

Baca Juga:  Kandas Jadi Putri Indonesia, Nadia Masih Ucap Syukur, Bilang…

Di desa yang termasuk desa Bali Aga terseut, tari Abuang Luh Muani dibawakan oleh pemuda-pemudi dengan cara berdiri dan berhadap-hadapan, dengan posisi tangan dibentangkan, serta digerakkan mengikuti alunan gamelan selonding. 

“Parade Tari Nusantara juga merupakan salah satu upaya untuk melestarikan, mengembangkan dan juga untuk memperkenalkan khazanah tari daerah sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia kepada seluruh masyarakat Indonesia terutama generasi muda sebagai penerus bangsa,”tambah Beratha.

Ditambahkan, sesuai dengan pernyataan dari Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, parade ini memang mempertunjukkan tari garapan baru yang berpijak pada tari tradisi daerah sehingga produksi yang dihasilkan adalah  tari yang tetap mencerminkan kekhasan seni budaya tradisi.

“Tetapi tari tersebut bisa memberikan corak baru yang memperkaya khazanah tari Indonesia,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/