alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Tumpek Ngatag; Tradisi Manusia Hormati “Kakek” Tumbuh-tumbuhan

AMLAPURA – Tumpek Ngatag di Karangasem berjalan dengan khusyuk kemarin. Sekalipun ditengah pandemic corona, warga tetap melaksanakan upacara  dan ritual tersebut.

Hanya saja pelaksanaan upacara dilakukan lebih sederhana. Biasanya warga sampai menggunakan sarana upacara dengan babi guling, kali ini sebagian cukup dengan memotong ayam.

Tumpek Ngatag atau Tumpek Bubuh bagi warga Selat, Karangasem cukup special. Karena warga di wilayah tersebut memang mayoritas pekerjanya bercocok tanam.

Tumpek Ngatag atau wariga ini khusus untuk merayakan otonan tumbuh tumbuhan. Menurut kepercayaan warga setempat, pepohonan itu seperti kakek atau orang yang dituakan.

Ini sebagai wujud penghormatan manusia kepada alam. Karena menurut kepercayaan  warga, tumbuh tumbuhan lebih dulu ada dari manusia. Sehingga layak dihormati sebagai kakek.

Baca Juga:  Galungan dan Ramadhan Barengan, Satgas Covid Izinkan Umat Sembahyang

“Ya, warga disini menghormati tumbuh tumbuhan sebagai kakek (kaki, red),” ujar Wayan Sekep Aryana, warga Desa Sukaluwih, Selat.

Di Desa Sukaluwih sendiri tumpek landek juga odalan di Pura Jurang. Dimana pura ini upacara dilakukan terkait dengan nangkul merana atau persembahan kepada alam agar tidak terjadi hama.

Nangluk merana sendiri merupakan upacara pembasmian hama. Dengan upacara nangkul merana ini diharapkan  tumbuh tumbuhan tidak diganggau hama sehingga bisa berbuah dan mengasilkan buah yang banyak.

Tumpek Ngatag juga terkait dengan akan datangnya Hari Raya Galungan. Galungan sendiri merupakan hari raya besar umat Hindu.

Tumpek Ngatag dilakukan 25 hari sebelum Galungan.  Siklus 25 hari juga masa siklus tumbuh tumbuhan berbuah. Sehingga saat Galungan nanti pohon berbuah dan bisa dipersembahkan untuk hari raya Galungan.

Baca Juga:  Bikin Wayang Kulit Itu Sulit, Ini Resep Khusus Dalang Sembroli…

Tumpek Ngatag dilakukan di Desa Duda Utara, warga sebagian besar memberikan upacara terhadap tanaman salak.

Karena rata-rata warga disana memiliki tanaman salak. Yang menarik, tradisi Ngatag di desa satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Di Duda Utara Tumpek Ngatag dilakukan dengan memukul mukul pohon kemudian memasang tipat taluh (ketupat berbentuk telur, red). Ketupat ini sebagai simbul dari buah. 



AMLAPURA – Tumpek Ngatag di Karangasem berjalan dengan khusyuk kemarin. Sekalipun ditengah pandemic corona, warga tetap melaksanakan upacara  dan ritual tersebut.

Hanya saja pelaksanaan upacara dilakukan lebih sederhana. Biasanya warga sampai menggunakan sarana upacara dengan babi guling, kali ini sebagian cukup dengan memotong ayam.

Tumpek Ngatag atau Tumpek Bubuh bagi warga Selat, Karangasem cukup special. Karena warga di wilayah tersebut memang mayoritas pekerjanya bercocok tanam.

Tumpek Ngatag atau wariga ini khusus untuk merayakan otonan tumbuh tumbuhan. Menurut kepercayaan warga setempat, pepohonan itu seperti kakek atau orang yang dituakan.

Ini sebagai wujud penghormatan manusia kepada alam. Karena menurut kepercayaan  warga, tumbuh tumbuhan lebih dulu ada dari manusia. Sehingga layak dihormati sebagai kakek.

Baca Juga:  Pandemi, Tradisi “Nyakan Diwang” di Banjar Buleleng Tetap Lestari

“Ya, warga disini menghormati tumbuh tumbuhan sebagai kakek (kaki, red),” ujar Wayan Sekep Aryana, warga Desa Sukaluwih, Selat.

Di Desa Sukaluwih sendiri tumpek landek juga odalan di Pura Jurang. Dimana pura ini upacara dilakukan terkait dengan nangkul merana atau persembahan kepada alam agar tidak terjadi hama.

Nangluk merana sendiri merupakan upacara pembasmian hama. Dengan upacara nangkul merana ini diharapkan  tumbuh tumbuhan tidak diganggau hama sehingga bisa berbuah dan mengasilkan buah yang banyak.

Tumpek Ngatag juga terkait dengan akan datangnya Hari Raya Galungan. Galungan sendiri merupakan hari raya besar umat Hindu.

Tumpek Ngatag dilakukan 25 hari sebelum Galungan.  Siklus 25 hari juga masa siklus tumbuh tumbuhan berbuah. Sehingga saat Galungan nanti pohon berbuah dan bisa dipersembahkan untuk hari raya Galungan.

Baca Juga:  Disperindag Denpasar Ungkap Mengapa Harga Daging Babi Mahal

Tumpek Ngatag dilakukan di Desa Duda Utara, warga sebagian besar memberikan upacara terhadap tanaman salak.

Karena rata-rata warga disana memiliki tanaman salak. Yang menarik, tradisi Ngatag di desa satu dengan yang lainnya berbeda-beda.

Di Duda Utara Tumpek Ngatag dilakukan dengan memukul mukul pohon kemudian memasang tipat taluh (ketupat berbentuk telur, red). Ketupat ini sebagai simbul dari buah. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/