30.4 C
Denpasar
Thursday, December 8, 2022

Mengikuti Tradisi Ngredag, Desa Peliatan,untuk Menetralkan Pengaruh Buruk

Ribuan warga Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, menggelar tradisi Ngeredag Desa pada Rabu sore (23/11) pukul 15.00. Warga turun ke jalan mengusung puluhan barong dan pratima. Yang unik adalah pengawalan dari Bala Ngeredag yang bertelanjang dada sambil memukul kentongan.

RITUAL  ini selalu digelar bulan keenam.  Dari penuturan Bendesa Adat Peliatan, I Ketut Sandi,  mengatakan, ritual ini disebut dengan Sesuhunan Nguya Nyatur Desa atau istilah lama disebut Ngeredag Desa.

“Upacara unik ini  dimaksudkan untuk menetralisir unsur-unsur dasar alam sehingga memberi kedamaian dan kesejahteraan,” ujarnya.

Menurut kalender Bali, bulan keenam diyakini sangat keramat.  Segala macam penyakit dan hama sedang mewabah. Itu ditandai dengan kehadiran hujan lebat. Termasuk lalat dan hama tanaman sedang berkembang biak.

Baca Juga:  Bandesa Adat Mas Terpilih Tak Kunjung Di-SK-kan, Prajuru Geruduk MDA

Karena itulah, umat diingatkan untuk waspada dan senantiasa memperhatikan alam. Karena secara faktual, sasih kaenem merupakan musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau panjang menuju musim hujan.

Hujan yang akan turun pada sasih kaenem (bulan yang keenam, kalender Bali)  ini diyakini akan membawa bencana jika tidak diantisipasi.

“Secara sekala (upaya terlihat) kami rutin menggelar kegiatan bersih-bersih lingkungan, sungai dan lainnya. Ini bentuk penyeimbangan laku umat selain prosesi upakara,” pungkasnya. (ib indra prasetia/radar bali)

 



Ribuan warga Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, menggelar tradisi Ngeredag Desa pada Rabu sore (23/11) pukul 15.00. Warga turun ke jalan mengusung puluhan barong dan pratima. Yang unik adalah pengawalan dari Bala Ngeredag yang bertelanjang dada sambil memukul kentongan.

RITUAL  ini selalu digelar bulan keenam.  Dari penuturan Bendesa Adat Peliatan, I Ketut Sandi,  mengatakan, ritual ini disebut dengan Sesuhunan Nguya Nyatur Desa atau istilah lama disebut Ngeredag Desa.

“Upacara unik ini  dimaksudkan untuk menetralisir unsur-unsur dasar alam sehingga memberi kedamaian dan kesejahteraan,” ujarnya.

Menurut kalender Bali, bulan keenam diyakini sangat keramat.  Segala macam penyakit dan hama sedang mewabah. Itu ditandai dengan kehadiran hujan lebat. Termasuk lalat dan hama tanaman sedang berkembang biak.

Baca Juga:  Ubud Village Jazz Festival 2022 Siap Menghentak

Karena itulah, umat diingatkan untuk waspada dan senantiasa memperhatikan alam. Karena secara faktual, sasih kaenem merupakan musim pancaroba, peralihan dari musim kemarau panjang menuju musim hujan.

Hujan yang akan turun pada sasih kaenem (bulan yang keenam, kalender Bali)  ini diyakini akan membawa bencana jika tidak diantisipasi.

“Secara sekala (upaya terlihat) kami rutin menggelar kegiatan bersih-bersih lingkungan, sungai dan lainnya. Ini bentuk penyeimbangan laku umat selain prosesi upakara,” pungkasnya. (ib indra prasetia/radar bali)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/