27.6 C
Denpasar
Tuesday, January 31, 2023

Bila Stephan Spicher “Menghidupkan” Mendiang Made Wianta di “Between Chaos and Form”

Mendiang maestro lukis Bali, Made Wianta,  telah berpulang. Namun kini karyanya “dihidupkan” kembali dalam sebuah pameran bersama Stephan Spicher. Wianta, seniman nyentrik kelahiran Tabanan, 20 Desember 1949 silam yang berpulang dua tahun lalu karena sakit yang dideritanya itu kini karyanya bisa dinikmati lagi.

ADALAH  Stephan Spicher asal Swiss, yang merupakan kawan lama dari Made Wianta kini menggelar pameran bersama. Made Wianta memamerkan 17 lukisan dan sahabatnya Stephan Spicher memamerkan 19 lukisan.

Pameran yang digelar di Komaneka Art Gallery di Komaneka at Keramas Beach, Gianyar,  24 Januari sampai 7 Februari 2023 ini mengusung tema “Between Chaos and Form”.

“Ini bukan pameran biasa. Tetapi pameran dialogis antara suatu penggalian bersama, sebagai bentuk pertalian spirit yang tidak akan pernah berhenti walaupun Wianta telah tiada,” tutur  kurator pameran,  Jean Couteau ditemui di lokasi pameran, Selasa (24/1/2023) malam.

Dituturkan, bahwa karya dari Wianta yang ditampilkan merupakan hasil proses kreatif di Rancate dan Basel Swiss serta sebagian di Bali. Jadi, ini merupakan karya beberapa tahun.

Baca Juga:  4 Tarian Diusulkan Badung Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Ini Daftarnya

Sedangkan karya-karya Spicher sebagian dibuat di Ticino, Basel, dan Bali. Jauh sebelumnya, persahabatan keduanya itu telah menghasilkan perjalanan seni yang cukup panjang.

Jean Couteau mengatakan bahwa pameran ini ibarat menggaungkan keteraturan dan kekacauan. Sebagaimana makna tema “Order and Chaos”, yang terjadi baik di barat maupun Indonesia. Sehingga pengaruh modern membawakan keduanya dalam order dan chaos. “Dialektika itu tampil di dalam karya kedua seniman,” ujarnya.

Menurutnya, karya Spicher  maupun Wianta tidak hanya mempertanyakan makna. Tetapi justru menawarkan pemaknaan baru yang hakiki. “Dari kedua seniman ini, hanyalah Spicher  yang masih hidup. Baginya, kini, Wianta bukan hanya seorang teman dekat. Dia adalah juga “sang lain” yang memberikan arti,” tandasnya.

Sementara itu, dulu Spicher dan Wianta saling menghormati sebagai sahabat. Mereka berbagi pengalaman. Pengalaman seniman barat yang tinggal di Bali untuk Spicher, dan seniman Bali yang pernah tinggal di barat untuk Wianta.

Baca Juga:  Ajang Reuni Perupa Lintas Generasi

Ketika di Bali, Stephan dan Wianta kerap bertemu di Apuan, Tabanan, kampung halaman Wianta. Spicher  sendiri sempat tinggal di lokasi tersebut selama berbulan-bulan.

Sementara itu, Wianta yang punya pengalaman tinggal di Brussel, Belgia (1975-1977). Dia sudah memahami cara berpikir serta kesenian dan budaya orang barat.

Dari pengalamannya tinggal dengan Spicher di Swiss, dia memahami betul bagaimana dunia barat dan seninya.

Mereka selanjutnya menjadikan gagasan mereka menjadi proyek berkesenian bersama. Beberapa  proyek yang telah mereka lakukan bersama di antaranya, bekerja bersama di studio Spicher  di Rancate, Ticino, dan Basel Swiss, serta Crossing Lines yang telah dipamerkan baik di Bali (2001) maupun di Basel (2002), serta St. Petersburg dan Art Moscow Rusia (2005). [marcellus pampur/radar bali]

 



Mendiang maestro lukis Bali, Made Wianta,  telah berpulang. Namun kini karyanya “dihidupkan” kembali dalam sebuah pameran bersama Stephan Spicher. Wianta, seniman nyentrik kelahiran Tabanan, 20 Desember 1949 silam yang berpulang dua tahun lalu karena sakit yang dideritanya itu kini karyanya bisa dinikmati lagi.

ADALAH  Stephan Spicher asal Swiss, yang merupakan kawan lama dari Made Wianta kini menggelar pameran bersama. Made Wianta memamerkan 17 lukisan dan sahabatnya Stephan Spicher memamerkan 19 lukisan.

Pameran yang digelar di Komaneka Art Gallery di Komaneka at Keramas Beach, Gianyar,  24 Januari sampai 7 Februari 2023 ini mengusung tema “Between Chaos and Form”.

“Ini bukan pameran biasa. Tetapi pameran dialogis antara suatu penggalian bersama, sebagai bentuk pertalian spirit yang tidak akan pernah berhenti walaupun Wianta telah tiada,” tutur  kurator pameran,  Jean Couteau ditemui di lokasi pameran, Selasa (24/1/2023) malam.

Dituturkan, bahwa karya dari Wianta yang ditampilkan merupakan hasil proses kreatif di Rancate dan Basel Swiss serta sebagian di Bali. Jadi, ini merupakan karya beberapa tahun.

Baca Juga:  Keren, Seniman Buleleng Sulap Sampah Jadi Karya Seni Bernilai Tinggi

Sedangkan karya-karya Spicher sebagian dibuat di Ticino, Basel, dan Bali. Jauh sebelumnya, persahabatan keduanya itu telah menghasilkan perjalanan seni yang cukup panjang.

Jean Couteau mengatakan bahwa pameran ini ibarat menggaungkan keteraturan dan kekacauan. Sebagaimana makna tema “Order and Chaos”, yang terjadi baik di barat maupun Indonesia. Sehingga pengaruh modern membawakan keduanya dalam order dan chaos. “Dialektika itu tampil di dalam karya kedua seniman,” ujarnya.

Menurutnya, karya Spicher  maupun Wianta tidak hanya mempertanyakan makna. Tetapi justru menawarkan pemaknaan baru yang hakiki. “Dari kedua seniman ini, hanyalah Spicher  yang masih hidup. Baginya, kini, Wianta bukan hanya seorang teman dekat. Dia adalah juga “sang lain” yang memberikan arti,” tandasnya.

Sementara itu, dulu Spicher dan Wianta saling menghormati sebagai sahabat. Mereka berbagi pengalaman. Pengalaman seniman barat yang tinggal di Bali untuk Spicher, dan seniman Bali yang pernah tinggal di barat untuk Wianta.

Baca Juga:  CATAT! Karya Anonim Seniman Bali Bakal Diambil Alih Pemprov

Ketika di Bali, Stephan dan Wianta kerap bertemu di Apuan, Tabanan, kampung halaman Wianta. Spicher  sendiri sempat tinggal di lokasi tersebut selama berbulan-bulan.

Sementara itu, Wianta yang punya pengalaman tinggal di Brussel, Belgia (1975-1977). Dia sudah memahami cara berpikir serta kesenian dan budaya orang barat.

Dari pengalamannya tinggal dengan Spicher di Swiss, dia memahami betul bagaimana dunia barat dan seninya.

Mereka selanjutnya menjadikan gagasan mereka menjadi proyek berkesenian bersama. Beberapa  proyek yang telah mereka lakukan bersama di antaranya, bekerja bersama di studio Spicher  di Rancate, Ticino, dan Basel Swiss, serta Crossing Lines yang telah dipamerkan baik di Bali (2001) maupun di Basel (2002), serta St. Petersburg dan Art Moscow Rusia (2005). [marcellus pampur/radar bali]

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru