30.4 C
Denpasar
Thursday, December 8, 2022

I Made Bayu Pramana : Raih Doktor Berkah Foto-Foto Zaman Belanda

Tak banyak karya tentang fotografi dalam disertasi. Pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar I Made Bayu Pramana, S.Sn. M.Sn mempertahankan hasil disertasi dalam ujian terbuka Program Studi Seni, Program Doktor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Rabu (22/11/2022).

SOSOK  Bayu Permana yang merupakan dosen fotografi ISI Denpasar itu berhasil meraih doktor setelah  melakukan  penelitian yang berjudul “ Fotografi Orientalistik “ Pariwisata Bali era Kolonial Hindia -Belanda 1920-1930 an.

Sidang ujian promosi doktor dipimpin Rektor ISI Denpasar Prof. DR. I Wayan Kun Adnyana, menyatakan menerima disertasi Bayu Pramana serta dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dengan IPK 3,95.

Dalam disertasinya, Bayu Pramana menyebutkan fotografi dikontruksi oleh pemerintah Belanda, sejak 1908. Dalam Fotografi Orientalistik ditemukan konstruksi bentuk secara imajiner yang diatur sesuai dengan kepentingan pemerintah Kolonial Hindia-Belanda untuk mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan pariwisata.

Bali dipromosikan sebagai daerah tujuan pariwisata dalam rangka meningkatkan pendapatan devisa pemerintah kolonial Hindia-Belanda.  Melalui foto orientalistik, Bali menjadi daerah kunjungan  wisata, yang berimplikasi pada ketergantungan Bali terhadap wisatawan Barat.

Fotografi Orientalistik Bali yang secara historis dan estetis, ditandai dengan potongan potongan ikonik dan peluang ideologis yang diatur sedemikian rupa oleh fotografer, yang menaturalisasikan dengan serangkaian mode representasi khusus.

Baca Juga:  Parade Wayang Kulit Ungkap Perjalanan Brahmana Keling dari Jawa

Suami Ni Putu Dian Kartika memaparkan, hasil dari konstruksi imajiner itu akan menampakkan hasil yang tampak natural, alami, seolah begitulah adanya. Namun sejatinya hampir keseluruhan proses visual dirancang dan diatur sedemikian rupa untuk merepresentasikan gagasan tertentu.

Visual Fotografi Bali yang diungkapkan dengan gambar-gambar indah tidak seindah “surga dunia” yang ditawarkan dalam narasi pariwisata. Gambar-gambar perempuan Bali dengan pose telanjang dada sebagian besar merupakan rekayasa para juru potret.

“Dalam proses konstruksi fotografi orientalistik terjadi persilangan antara karakteristik budaya Bali dengan kepentingan-kepentingan rasionalistik pemerintah Kolonial Belanda yang dapat diwujudkan dalam berbagai konstruksi foto tentang aparatus kerajaan Bali, Kesenian Bali dan kegiatan masyarakat Bali,” jelas putra dari I Nyoman Suamba, dari Banjar Kedaton  Kesiman itu.

Secara estetik, lanjut Bayu, fotografi orientalistik tidak hanya mengandung nilai keindahan dan nilai kenikmatan, tetapi fotografi orientalistik mempunyai tujuan untuk membangun, menggugah rasa ingin tahu para wisatawan Barat mengenai kultur dan struktur masyarakat Bali yang memiliki ke-khasan dan keunikan sendiri.

Baca Juga:  Umbu Beristirahat Sementara di Ruang Sunyi dengan Ritual Sumba

Berhasilnya meraih gelar doktor, Bayu merasakan seperti mimpi,  dirinya tak pernah membayangkan bisa berdiri  dan sekolah hingga S3. “ Perjuangan yang cukup melelahkan, selama 4 rahun ini dan berbagai kesibukan di prodi akhirnya bisa menyelesaikan  progran ini,” kata ayah dari tiga anak itu.

Sementara itu Rektor ISI Prof. Kun Adnyana mengatakan  merasa bangga dan selamat kepada Bayu yang kini resmi menyandang sebagai doktor. “Saat membimbing Bayu, seperti menemukan partner baru,  sahabat baru juga mendapat data otentik. Dia menemukan  di jaman kolonial kehidupan orang Bali yang sederhana dan itu adalah konstruksi orientalistik. Kita mendapatkan gambaran sesungguhnya. Pariwisata ini tak datang begitu saja tetapi ada banyak kepentingan di dalamnya,” kata Prof. Kun.

Ia menambahkan,   dari fotografi menyumbangkan beberapa hal untuk fotogarfi yang sebelumnya  tak kita lihat.  selanjutnya, sumbangan terbesar risert Bayu ini merupakan keberanian untuk menjawab kejadian di  tahun 29 – 30an dibangun atas hasrat pariwisata, tetapi ada hegomoni intervensi yang  diatur oleh imajinasi orang barat.” Sekali lagi selamat kepada Bayu dan keluarga,” pungkas Prof. Kun. (ni kadek novi febriani/radar bali)



Tak banyak karya tentang fotografi dalam disertasi. Pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar I Made Bayu Pramana, S.Sn. M.Sn mempertahankan hasil disertasi dalam ujian terbuka Program Studi Seni, Program Doktor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Rabu (22/11/2022).

SOSOK  Bayu Permana yang merupakan dosen fotografi ISI Denpasar itu berhasil meraih doktor setelah  melakukan  penelitian yang berjudul “ Fotografi Orientalistik “ Pariwisata Bali era Kolonial Hindia -Belanda 1920-1930 an.

Sidang ujian promosi doktor dipimpin Rektor ISI Denpasar Prof. DR. I Wayan Kun Adnyana, menyatakan menerima disertasi Bayu Pramana serta dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dengan IPK 3,95.

Dalam disertasinya, Bayu Pramana menyebutkan fotografi dikontruksi oleh pemerintah Belanda, sejak 1908. Dalam Fotografi Orientalistik ditemukan konstruksi bentuk secara imajiner yang diatur sesuai dengan kepentingan pemerintah Kolonial Hindia-Belanda untuk mempromosikan Bali sebagai daerah tujuan pariwisata.

Bali dipromosikan sebagai daerah tujuan pariwisata dalam rangka meningkatkan pendapatan devisa pemerintah kolonial Hindia-Belanda.  Melalui foto orientalistik, Bali menjadi daerah kunjungan  wisata, yang berimplikasi pada ketergantungan Bali terhadap wisatawan Barat.

Fotografi Orientalistik Bali yang secara historis dan estetis, ditandai dengan potongan potongan ikonik dan peluang ideologis yang diatur sedemikian rupa oleh fotografer, yang menaturalisasikan dengan serangkaian mode representasi khusus.

Baca Juga:  Seniman Berkolaborasi dalam Lagu tentang Kelaparan di saat Pandemi

Suami Ni Putu Dian Kartika memaparkan, hasil dari konstruksi imajiner itu akan menampakkan hasil yang tampak natural, alami, seolah begitulah adanya. Namun sejatinya hampir keseluruhan proses visual dirancang dan diatur sedemikian rupa untuk merepresentasikan gagasan tertentu.

Visual Fotografi Bali yang diungkapkan dengan gambar-gambar indah tidak seindah “surga dunia” yang ditawarkan dalam narasi pariwisata. Gambar-gambar perempuan Bali dengan pose telanjang dada sebagian besar merupakan rekayasa para juru potret.

“Dalam proses konstruksi fotografi orientalistik terjadi persilangan antara karakteristik budaya Bali dengan kepentingan-kepentingan rasionalistik pemerintah Kolonial Belanda yang dapat diwujudkan dalam berbagai konstruksi foto tentang aparatus kerajaan Bali, Kesenian Bali dan kegiatan masyarakat Bali,” jelas putra dari I Nyoman Suamba, dari Banjar Kedaton  Kesiman itu.

Secara estetik, lanjut Bayu, fotografi orientalistik tidak hanya mengandung nilai keindahan dan nilai kenikmatan, tetapi fotografi orientalistik mempunyai tujuan untuk membangun, menggugah rasa ingin tahu para wisatawan Barat mengenai kultur dan struktur masyarakat Bali yang memiliki ke-khasan dan keunikan sendiri.

Baca Juga:  HEBAT! Kakak-Adik Asal Bali Terlibat Proyek Seni PBB dan WHO

Berhasilnya meraih gelar doktor, Bayu merasakan seperti mimpi,  dirinya tak pernah membayangkan bisa berdiri  dan sekolah hingga S3. “ Perjuangan yang cukup melelahkan, selama 4 rahun ini dan berbagai kesibukan di prodi akhirnya bisa menyelesaikan  progran ini,” kata ayah dari tiga anak itu.

Sementara itu Rektor ISI Prof. Kun Adnyana mengatakan  merasa bangga dan selamat kepada Bayu yang kini resmi menyandang sebagai doktor. “Saat membimbing Bayu, seperti menemukan partner baru,  sahabat baru juga mendapat data otentik. Dia menemukan  di jaman kolonial kehidupan orang Bali yang sederhana dan itu adalah konstruksi orientalistik. Kita mendapatkan gambaran sesungguhnya. Pariwisata ini tak datang begitu saja tetapi ada banyak kepentingan di dalamnya,” kata Prof. Kun.

Ia menambahkan,   dari fotografi menyumbangkan beberapa hal untuk fotogarfi yang sebelumnya  tak kita lihat.  selanjutnya, sumbangan terbesar risert Bayu ini merupakan keberanian untuk menjawab kejadian di  tahun 29 – 30an dibangun atas hasrat pariwisata, tetapi ada hegomoni intervensi yang  diatur oleh imajinasi orang barat.” Sekali lagi selamat kepada Bayu dan keluarga,” pungkas Prof. Kun. (ni kadek novi febriani/radar bali)


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/