27.6 C
Denpasar
Tuesday, January 31, 2023

Ary Wijaya Kawinkan Pentatonik Bali-Musik Barat dengan Peranti Digital

DENPASAR – Melahirkan karya monumental,  Wayan Ary Wijaya mengolaborasikan musik tradisional Bali dengan musik Barat. Seniman asal Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod, Denpasar, ini tidak serta merta berpuas diri.

Dia memanfaatkan peranti teknologi dengan software yang disesuaikan  dengan kebutuhan musikalitasnya. Meski, ide itu lebih dulu dibuat orang Barat, namun  tak membuatnya gentar karena ia percaya karya yang dibuat lebih baik dibandingkan orang asing.

Butuh waktu bertahun-tahun. Idenya itu saat ia kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia)  Denpasar namun dirinya memiliki keterbatasan alat untuk membuat komposisi musik. Eksperimen tersebut dilakukan sejak tahun 1998 dan baru rampung tahun 2005.

Prosesnya, Ary merekam suara gamelan satu persatu dan dijadikannya sampling atau semacam template. “Zaman itu sulit mencari software untuk menyimpan sampling yang saya buat. Setiap ke luar Bali saya selalu datang ke tempat penjualan software,” kata Ary Wijaya saat diwawancarai usai tampil di Penggak Men Mersi, Jalan WR Supratman Denpasar.

Dalam menyempurnakan garapannya, ia pun masuk ke dapur rekaman dengan menjadi soundman dengan bergabung ke dalam band. Ia membawa misi pengembangan visi bermusiknya.”Tidak hanya belajar  hasil kerjanya juga digunakannya untuk membeli software,” terangnya.

Baca Juga:  Tika Pagraky Lepas Lagu Idaman, Kisah Romansa Anak SMA

Dan akhirnya, tahun 2005 proyeknya tersebut pun rampung dan ia berhasil membuat sebuah gamelan gong kebyar dengan menggunakan template gamelan yang ia rekam dan diolah memanfaatkan software.

Berkat kreasinya, Ary Wijaya pendiri Palawara Music Company ini pun menjadi pengisi musik untuk backsound Pesta Kesenian Bali (PKB), Bali Jani, hingga Wonderfull Indonesia.

Tidak hanya itu, ia  membuat gamelan bale ganjur termasuk gender dengan teknologi. Diakuinya dalam proses tersebut, Ary kerap dicibir karena penggabungan yang dia lakukan sudah lebih dulu dikerjakan oleh orang Barat.

 

Ya,  walau pernah dibuat orang Barat, saya tidak puas karena yang dibuat barat hanya polifoni saja seperti nada di HP, tidak bernyawa seperti musik khas Bali,” paparnya.

Setelah itu, kemudian dirinya menggabungkan musik Bali dengan berbagai musik barat seperti musik rock, blues dan sejenisnya. Hingga tahun 2010, ia mulai bisa menjual proyek yang dibuatnya tersebut.

Baca Juga:  Ini Kisah Romeo and Juliet Ala Buleleng, Kritis dan Mengelitik…

Dengan memanfaatkan teknologi ini, ia juga bisa memainkan gamelan tanpa banyak orang. Hanya dengan menggunakan alat musik Bali dan keyboard sekaligus dalam waktu bersamaan, misalnya bermain gender.“Hanya dengan satu media saja kita bisa memainkan satu barung gamelan,” katanya.

 

Kini dirinya pun telah banyak mengumpulkan sampling alat musik bahkan menerjemahkan musik pada trailer film Avatar, Harry Potter, hingga Black Panther: Wakanda Forever.

Selain itu, bersama Palawara, ia juga melakukan rekaman musik dimana salah satunya yang terkenal adalah Om Santih.

Ke depannya, Ary ingin membuat software yang memuat sampling musik tradisi Bali sehingga bisa menjangkau pasar dunia. Ia tidak ingin menjadi penonton saja, walau orang Barat lebih visioner. “Karena saat ini orang barat sudah banyak yang mulai membuat sampling kidung Bali, jadi kita sudah keduluan mereka. Kita tidak harus jadi penonton saja,” katanya.  (ni kadek novi febriani/radar bali)

 



DENPASAR – Melahirkan karya monumental,  Wayan Ary Wijaya mengolaborasikan musik tradisional Bali dengan musik Barat. Seniman asal Tanjung Bungkak, Desa Sumerta Kelod, Denpasar, ini tidak serta merta berpuas diri.

Dia memanfaatkan peranti teknologi dengan software yang disesuaikan  dengan kebutuhan musikalitasnya. Meski, ide itu lebih dulu dibuat orang Barat, namun  tak membuatnya gentar karena ia percaya karya yang dibuat lebih baik dibandingkan orang asing.

Butuh waktu bertahun-tahun. Idenya itu saat ia kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia)  Denpasar namun dirinya memiliki keterbatasan alat untuk membuat komposisi musik. Eksperimen tersebut dilakukan sejak tahun 1998 dan baru rampung tahun 2005.

Prosesnya, Ary merekam suara gamelan satu persatu dan dijadikannya sampling atau semacam template. “Zaman itu sulit mencari software untuk menyimpan sampling yang saya buat. Setiap ke luar Bali saya selalu datang ke tempat penjualan software,” kata Ary Wijaya saat diwawancarai usai tampil di Penggak Men Mersi, Jalan WR Supratman Denpasar.

Dalam menyempurnakan garapannya, ia pun masuk ke dapur rekaman dengan menjadi soundman dengan bergabung ke dalam band. Ia membawa misi pengembangan visi bermusiknya.”Tidak hanya belajar  hasil kerjanya juga digunakannya untuk membeli software,” terangnya.

Baca Juga:  Kolaborasi Musik Tradisional Jepang dan Bali Bius Panggung Ayodya

Dan akhirnya, tahun 2005 proyeknya tersebut pun rampung dan ia berhasil membuat sebuah gamelan gong kebyar dengan menggunakan template gamelan yang ia rekam dan diolah memanfaatkan software.

Berkat kreasinya, Ary Wijaya pendiri Palawara Music Company ini pun menjadi pengisi musik untuk backsound Pesta Kesenian Bali (PKB), Bali Jani, hingga Wonderfull Indonesia.

Tidak hanya itu, ia  membuat gamelan bale ganjur termasuk gender dengan teknologi. Diakuinya dalam proses tersebut, Ary kerap dicibir karena penggabungan yang dia lakukan sudah lebih dulu dikerjakan oleh orang Barat.

 

Ya,  walau pernah dibuat orang Barat, saya tidak puas karena yang dibuat barat hanya polifoni saja seperti nada di HP, tidak bernyawa seperti musik khas Bali,” paparnya.

Setelah itu, kemudian dirinya menggabungkan musik Bali dengan berbagai musik barat seperti musik rock, blues dan sejenisnya. Hingga tahun 2010, ia mulai bisa menjual proyek yang dibuatnya tersebut.

Baca Juga:  Lama Vakum dari Publik, MDW Lepas Album Kedua

Dengan memanfaatkan teknologi ini, ia juga bisa memainkan gamelan tanpa banyak orang. Hanya dengan menggunakan alat musik Bali dan keyboard sekaligus dalam waktu bersamaan, misalnya bermain gender.“Hanya dengan satu media saja kita bisa memainkan satu barung gamelan,” katanya.

 

Kini dirinya pun telah banyak mengumpulkan sampling alat musik bahkan menerjemahkan musik pada trailer film Avatar, Harry Potter, hingga Black Panther: Wakanda Forever.

Selain itu, bersama Palawara, ia juga melakukan rekaman musik dimana salah satunya yang terkenal adalah Om Santih.

Ke depannya, Ary ingin membuat software yang memuat sampling musik tradisi Bali sehingga bisa menjangkau pasar dunia. Ia tidak ingin menjadi penonton saja, walau orang Barat lebih visioner. “Karena saat ini orang barat sudah banyak yang mulai membuat sampling kidung Bali, jadi kita sudah keduluan mereka. Kita tidak harus jadi penonton saja,” katanya.  (ni kadek novi febriani/radar bali)

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru