alexametrics
29.8 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Ipung Rilis Buku Biografi, Pencarian Identitas dan Story Hidup

DENPASAR – Aktivis perempuan dan anak, Siti Sapurah atau Ipung akhirnya merilis buku biografi. Ditulis oleh salah satu wartawan Vivi Suryanitta, buku berisi 186 halaman itu berjudul True Story’ Mbak Ipung (Daeng Ipung). Buku itu secara resmi dilaunching di Denpasar pada Selasa (29/3/2022).

 

Dalam acara launching tersebut, Ipung menuturkan, bahwa sejatinya dia sudah lama ingin membuat sebuah buku biografi tentang dirinya. Bahkan jauh sebelum dia menangani kasus Angeline tahun 2015 silam. 

 

“Buku ini sudah saya ingin buat jauh sebelum saya tangani kasus Angeline. Saya tahu saya bukan siapa-siapa. Bukan anak pejabat. Hanya anak nelayan. Bukan karena saya pengacara atau aktivis. Saya hanya ingin mencari identitas diri saya,” katanya. 

 

Menurutnya, pencarian identitas yang dia maksudkan adalah bahwa dirinya ingin mencari garis keturunan dari keluarga ayah dan ibunya yang menurut dia hingga kini masih abu-abu. Dia ingin, lewat buku ini, keluarga besarnya akan menemukannya.

- Advertisement -

 

“Saya ingin memberi pesan untuk keluarga besar Daeng Abdul Kadir. Bahwa di Denpasar Bali ada saya keluarga kalian yang masih hidup. Untuk keluarga saya yang di Bugis dan Sulawesi pada umumnya. Leluhur saya juga di Celukan bawang. Saya minta mereka mencari saya. Saya tidak bisa mencari mereka Karena saya tidak punya satu pun bukti identitas tentang diri saya atau pun tentang ayah saya Daeng Abdul Kadir. Lewat buku ini semoga keluarga besar saya menemui saya,” jelasnya. 

Baca Juga:  Bendesa Adat Serangan Terkejut Ipung Tutup Jalan Pakai Batako

 

Menurutnya di dalam buku ini juga memuat kisah hidupnya dari kecil yang terbilang cukup berat. Dari kecil dia ditinggal oleh orang tuanya. Saat itu beberapa orang di sekitarnya mendoktrin bahwa dirinya hanyalah seorang anak pembantu yang diasuh keluarga kaya raya.

Kendati demikian, Ipung tetap meyakini bahwa dirinya adalah anak dari Daeng Abdul Kadir keturunan Bugis Sulawesi yang juga dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses di Serangan, Denpasar Selatan saat itu. 

 

“Jadi di buku ini tentang perjalanan hidup saya sejak ayah saya hidup dan meninggalkan saya tahun 1973 saat saya kecil. Saya hidup seakan tidak punya siapa-siapa. Saya diasuh bak putri raja oleh seorang ibu yang saya pikir dulu dia hanya seorang pengasuh. Tetapi saya meyakini bahwa dia adalah orang yang melahirkan saya. Dan sampai sekarang dia tidak pernah menemui saya. Saya ingin dia menemui saya,” ungkapnya. 

Baca Juga:  Ipung: Penanda Tangan Hak Jalan untuk BTID Harus Tanggung Jawab!

 

Melalui buku ini juga dia ingin menyenangkan anak dan perempuan Indonesia untuk selalu gigih dalam meraih cita-cita.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Vivi Suryanitta menerangkan bahwa penulisan buku ini tercetus saat dirinya dan Ipung bertemu di suatu momen di Denpasar. Di mana beberapa tahun lalu, Ipung dan Vivi sama-sama ikut dalam aksi unjuk rasa yang digelar oleh wartawan di Denpasar terkait pemberian remisi terhadap Nyoman Susrama, pelaku pembunuhan wartawan Jawa Pos Radar Bali, AA  Prabangsa. 

 

“Dari sana saya dan mbak Ipung memulai ide untuk menuliskan buku ini. Karena sebelumnya teman-teman wartawan hanya mengenal Mbak Ipung sebagai aktivis dan pengacara. Tidak mengenalnya lebih dalam termasuk story’ hidupnya,” pungkas Vivi.

- Advertisement -

DENPASAR – Aktivis perempuan dan anak, Siti Sapurah atau Ipung akhirnya merilis buku biografi. Ditulis oleh salah satu wartawan Vivi Suryanitta, buku berisi 186 halaman itu berjudul True Story’ Mbak Ipung (Daeng Ipung). Buku itu secara resmi dilaunching di Denpasar pada Selasa (29/3/2022).

 

Dalam acara launching tersebut, Ipung menuturkan, bahwa sejatinya dia sudah lama ingin membuat sebuah buku biografi tentang dirinya. Bahkan jauh sebelum dia menangani kasus Angeline tahun 2015 silam. 

 

“Buku ini sudah saya ingin buat jauh sebelum saya tangani kasus Angeline. Saya tahu saya bukan siapa-siapa. Bukan anak pejabat. Hanya anak nelayan. Bukan karena saya pengacara atau aktivis. Saya hanya ingin mencari identitas diri saya,” katanya. 

 

Menurutnya, pencarian identitas yang dia maksudkan adalah bahwa dirinya ingin mencari garis keturunan dari keluarga ayah dan ibunya yang menurut dia hingga kini masih abu-abu. Dia ingin, lewat buku ini, keluarga besarnya akan menemukannya.

 

“Saya ingin memberi pesan untuk keluarga besar Daeng Abdul Kadir. Bahwa di Denpasar Bali ada saya keluarga kalian yang masih hidup. Untuk keluarga saya yang di Bugis dan Sulawesi pada umumnya. Leluhur saya juga di Celukan bawang. Saya minta mereka mencari saya. Saya tidak bisa mencari mereka Karena saya tidak punya satu pun bukti identitas tentang diri saya atau pun tentang ayah saya Daeng Abdul Kadir. Lewat buku ini semoga keluarga besar saya menemui saya,” jelasnya. 

Baca Juga:  Teater Kalangan Hadirkan Wisata Monolog

 

Menurutnya di dalam buku ini juga memuat kisah hidupnya dari kecil yang terbilang cukup berat. Dari kecil dia ditinggal oleh orang tuanya. Saat itu beberapa orang di sekitarnya mendoktrin bahwa dirinya hanyalah seorang anak pembantu yang diasuh keluarga kaya raya.

Kendati demikian, Ipung tetap meyakini bahwa dirinya adalah anak dari Daeng Abdul Kadir keturunan Bugis Sulawesi yang juga dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses di Serangan, Denpasar Selatan saat itu. 

 

“Jadi di buku ini tentang perjalanan hidup saya sejak ayah saya hidup dan meninggalkan saya tahun 1973 saat saya kecil. Saya hidup seakan tidak punya siapa-siapa. Saya diasuh bak putri raja oleh seorang ibu yang saya pikir dulu dia hanya seorang pengasuh. Tetapi saya meyakini bahwa dia adalah orang yang melahirkan saya. Dan sampai sekarang dia tidak pernah menemui saya. Saya ingin dia menemui saya,” ungkapnya. 

Baca Juga:  Memanas, Ipung Tutup Jalan di Serangan Pakai Batako

 

Melalui buku ini juga dia ingin menyenangkan anak dan perempuan Indonesia untuk selalu gigih dalam meraih cita-cita.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Vivi Suryanitta menerangkan bahwa penulisan buku ini tercetus saat dirinya dan Ipung bertemu di suatu momen di Denpasar. Di mana beberapa tahun lalu, Ipung dan Vivi sama-sama ikut dalam aksi unjuk rasa yang digelar oleh wartawan di Denpasar terkait pemberian remisi terhadap Nyoman Susrama, pelaku pembunuhan wartawan Jawa Pos Radar Bali, AA  Prabangsa. 

 

“Dari sana saya dan mbak Ipung memulai ide untuk menuliskan buku ini. Karena sebelumnya teman-teman wartawan hanya mengenal Mbak Ipung sebagai aktivis dan pengacara. Tidak mengenalnya lebih dalam termasuk story’ hidupnya,” pungkas Vivi.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/