alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Menggugah Kelam Masa Lalu dengan Pemutaran Film Rekoleksi Memori

RadarBali.com – Untuk menggugah rasa kebangsaan, pengelola Taman Baca Kesiman menggelar pemutaran film dan diskusi berjudul, Rekoleksi Memori Senin malam (29/8).

Keempat film yang disuguhkan secara khusus mengangkat tema-tema kemanusiaan; sekaligus mempertanyakan kembali hubungan masa kini dan masa lalu.

Diskusi mengedepankan persoalan bahwa menjadi penting menengok kembali ingatan-ingatan yang dipinggirkan.

Ingatan yang hidup melalui orang-orang yang disingkirkan rezim. Refleksi atas pengalaman di masa lalu menjadi penting agar peristiwa yang sama tak terulang di masa depan.

Empat film yang disuguhkan dan didiskusikan berjudul Saudara dalam Sejarah; produser Yulia Evina Bhara dan sutradara Amerta Kusuma.

Film berdurasi 33 menit mengulas kebijakan Presiden Soekarno pada tahun 1960-an. Program Bung Karno untuk memajukan Indonesia kala itu adalah dengan cara mengirim pemuda-pemudi belajar ke luar negeri.

Tragedi 65 membuat ribuan mahasiswa tak bisa kembali ke Indonesia. Mereka membangun kehidupan baru di luar negeri.

Puluhan tahun dibuang oleh negaranya, membuat ikatan yang kuat bersama kawan-kawan yang senasib.

Film kedua berjudul Tidak Lupa.

Film berdurasi 30 menit yang disutradarai Asrida Elisabeth serta produser Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma mengambil setting di Nusa Tenggara Timur.

Dikisahkan jauh di pelosok barat Pulau Flores, NTT orang-orang yang diduga terlibat gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dikumpulkan di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai untuk menjalani pemeriksaan terkait keterlibatan mereka.

Ada yang kemudian dibebaskan dan ada juga yang dieksekusi mati di Pekuburan umum Puni.

Baca Juga:  Rilis Bagia Selantang Yusa, De Ama Dedikasikan ke Sang Putri

Di tengah ketidaktahuan, penyangkalan, juga keterbatasan dokumen-dokumen yang bisa menjelaskan tentang bagaimana peristiwa sejarah itu terjadi di Manggarai, bagaimana memori korban yang bebas dari eksekusi mati?

Bagaimana memori keluarga yang ditinggal? Dan bagaimana memori para saksi? Meski dibungkam, diam begitu lama dalam ketakutan, tapi mereka tidak lupa.

Film ketiga berjudul tarung dan film keempat berjudul On The Origin of Fear. Film tarung yang berdurasi 27 menit disutradarai Steve Pillar Setiabudi dengan produser Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma.

Film ini mengulas sekelompok seniman muda yang terdorong untuk mendukung kebijakan politik Presiden Soekarno dengan membentuk sebuah sanggar yang dinamakan Bumi Tarung pada awal 1960-an.

Tragedi 1965 membuat seluruh anggotanya dipenjara bahkan ada yang dibunuh. Setelah Orde Baru tumbang dan kebebasan berangsur pulih, mereka mencoba berkarya kembali, namun sepertinya pertarungan belum akan usai.

Sementara film berdurasi 12 menit berjudul On The Origin of Fear disutradarai Bayu Prihantoro Filemon dengan produser Amerta Kusuma dan Yulia Evina Bhara. On The Origin of Fear berkisah tentang seorang tentara dan seorang tahanan.

Pada suatu hari mereka berbicara sangat intim tentang penderitaan, kesetiaan, penghianatan, drama, dan teror.

Wayan Jengki Sunarta, salah seorang penonton mengaku dibuat merenung oleh film Saudara dalam Sejarah yang mengulas kehidupan eksil di luar negeri.

Lewat film itu, sastrawan ini menyebut bisa mengetahui kehidupan mereka. “Bagaimana mereka berusaha menghimpun diri. Membuat semacam paguyuban untuk saling bersilaturahmi; menjadi keluarga besar yang terbuang di luar negeri. Bercerita tentang kampung halaman, situasi sosial dan politik yang terjadi di tanah air,” ucapnya.

Baca Juga:  Christian Sugiono & Happy Salma Berbagi Tips Dunia Film Kala Pandemi

Jengki menilai mereka yang kini sudah tua-tua tetap menyimpan kerinduan terhadap tanah lahir.

“Mereka dipersulit oleh aturan dan sebagainya. Semestinya pemerintah Jokowi berusaha bagaimana caranya untuk mengembalikan mereka ke tanah air; ke kampung halamannya. Mereka ini sudah sepuh, pemerintah harus melihat sisi kemanusiaan,” tandasnya.

Jengki menilai para eksil menderita beban psikologis yang luar biasa berat. Hal tersebut digambarkan dalam cerpen terbaik Kompas 2017 karya Martin Aleida yang berjudul Tanah Air.

“Cerpen ditulis berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan seorang eksil di luar negeri. Dia bunuh diri gara-gara dianggap sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab oleh anaknya,” sebutnya.

Lebih lanjut, dirinya menyebut kisah-kisah ini wajib dimunculkan kembali untuk mengetuk rasa kemanusiaan kita sebagai bangsa.

Bagaimana sikap kita terhadap mereka, khususnya generasi muda bangsa Indonesia. Dengan kata lain upaya rekonsiliasi harus dilakukan agar mereka bisa kembali ke dalam negeri.

Lebih-lebih kini stigma negatif Partai Komunis Indonesia (PKI) mulai luntur; mulai berkurang. “Sekarang sudah beda zaman. Ini yang harus dipotong dengan upaya-upaya rekonsiliasi lewat film dan karya sastra. Yang namanya rekonsiliasi ya kita saling maaf-memaafkan. Yang lama sudah dihapus saja,” pungkasnya. 



RadarBali.com – Untuk menggugah rasa kebangsaan, pengelola Taman Baca Kesiman menggelar pemutaran film dan diskusi berjudul, Rekoleksi Memori Senin malam (29/8).

Keempat film yang disuguhkan secara khusus mengangkat tema-tema kemanusiaan; sekaligus mempertanyakan kembali hubungan masa kini dan masa lalu.

Diskusi mengedepankan persoalan bahwa menjadi penting menengok kembali ingatan-ingatan yang dipinggirkan.

Ingatan yang hidup melalui orang-orang yang disingkirkan rezim. Refleksi atas pengalaman di masa lalu menjadi penting agar peristiwa yang sama tak terulang di masa depan.

Empat film yang disuguhkan dan didiskusikan berjudul Saudara dalam Sejarah; produser Yulia Evina Bhara dan sutradara Amerta Kusuma.

Film berdurasi 33 menit mengulas kebijakan Presiden Soekarno pada tahun 1960-an. Program Bung Karno untuk memajukan Indonesia kala itu adalah dengan cara mengirim pemuda-pemudi belajar ke luar negeri.

Tragedi 65 membuat ribuan mahasiswa tak bisa kembali ke Indonesia. Mereka membangun kehidupan baru di luar negeri.

Puluhan tahun dibuang oleh negaranya, membuat ikatan yang kuat bersama kawan-kawan yang senasib.

Film kedua berjudul Tidak Lupa.

Film berdurasi 30 menit yang disutradarai Asrida Elisabeth serta produser Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma mengambil setting di Nusa Tenggara Timur.

Dikisahkan jauh di pelosok barat Pulau Flores, NTT orang-orang yang diduga terlibat gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dikumpulkan di Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai untuk menjalani pemeriksaan terkait keterlibatan mereka.

Ada yang kemudian dibebaskan dan ada juga yang dieksekusi mati di Pekuburan umum Puni.

Baca Juga:  Rilis Bagia Selantang Yusa, De Ama Dedikasikan ke Sang Putri

Di tengah ketidaktahuan, penyangkalan, juga keterbatasan dokumen-dokumen yang bisa menjelaskan tentang bagaimana peristiwa sejarah itu terjadi di Manggarai, bagaimana memori korban yang bebas dari eksekusi mati?

Bagaimana memori keluarga yang ditinggal? Dan bagaimana memori para saksi? Meski dibungkam, diam begitu lama dalam ketakutan, tapi mereka tidak lupa.

Film ketiga berjudul tarung dan film keempat berjudul On The Origin of Fear. Film tarung yang berdurasi 27 menit disutradarai Steve Pillar Setiabudi dengan produser Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma.

Film ini mengulas sekelompok seniman muda yang terdorong untuk mendukung kebijakan politik Presiden Soekarno dengan membentuk sebuah sanggar yang dinamakan Bumi Tarung pada awal 1960-an.

Tragedi 1965 membuat seluruh anggotanya dipenjara bahkan ada yang dibunuh. Setelah Orde Baru tumbang dan kebebasan berangsur pulih, mereka mencoba berkarya kembali, namun sepertinya pertarungan belum akan usai.

Sementara film berdurasi 12 menit berjudul On The Origin of Fear disutradarai Bayu Prihantoro Filemon dengan produser Amerta Kusuma dan Yulia Evina Bhara. On The Origin of Fear berkisah tentang seorang tentara dan seorang tahanan.

Pada suatu hari mereka berbicara sangat intim tentang penderitaan, kesetiaan, penghianatan, drama, dan teror.

Wayan Jengki Sunarta, salah seorang penonton mengaku dibuat merenung oleh film Saudara dalam Sejarah yang mengulas kehidupan eksil di luar negeri.

Lewat film itu, sastrawan ini menyebut bisa mengetahui kehidupan mereka. “Bagaimana mereka berusaha menghimpun diri. Membuat semacam paguyuban untuk saling bersilaturahmi; menjadi keluarga besar yang terbuang di luar negeri. Bercerita tentang kampung halaman, situasi sosial dan politik yang terjadi di tanah air,” ucapnya.

Baca Juga:  Panggung Seni di Bali Mulai Bergeliat di Tengah Pandemi

Jengki menilai mereka yang kini sudah tua-tua tetap menyimpan kerinduan terhadap tanah lahir.

“Mereka dipersulit oleh aturan dan sebagainya. Semestinya pemerintah Jokowi berusaha bagaimana caranya untuk mengembalikan mereka ke tanah air; ke kampung halamannya. Mereka ini sudah sepuh, pemerintah harus melihat sisi kemanusiaan,” tandasnya.

Jengki menilai para eksil menderita beban psikologis yang luar biasa berat. Hal tersebut digambarkan dalam cerpen terbaik Kompas 2017 karya Martin Aleida yang berjudul Tanah Air.

“Cerpen ditulis berdasarkan kisah nyata tentang kehidupan seorang eksil di luar negeri. Dia bunuh diri gara-gara dianggap sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab oleh anaknya,” sebutnya.

Lebih lanjut, dirinya menyebut kisah-kisah ini wajib dimunculkan kembali untuk mengetuk rasa kemanusiaan kita sebagai bangsa.

Bagaimana sikap kita terhadap mereka, khususnya generasi muda bangsa Indonesia. Dengan kata lain upaya rekonsiliasi harus dilakukan agar mereka bisa kembali ke dalam negeri.

Lebih-lebih kini stigma negatif Partai Komunis Indonesia (PKI) mulai luntur; mulai berkurang. “Sekarang sudah beda zaman. Ini yang harus dipotong dengan upaya-upaya rekonsiliasi lewat film dan karya sastra. Yang namanya rekonsiliasi ya kita saling maaf-memaafkan. Yang lama sudah dihapus saja,” pungkasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/