alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Seniman Made Adnyana Ole dan Wayan Arnawa Raih Penghargaan Wija Kusuma

SINGARAJA, radarbali.id – Sempat vakum selama dua tahun, anugerah seni Wija Kusuma dari Pemkab Buleleng akhirnya kembali diberikan. Pada tahun 2022 ini, penghargaan itu diberikan kepada dua orang seniman atau pekerja budaya Made Adnyana Ole dan Wayan Arnawa.

 

Made Adnyana yang berkecimpung di dunia sastra, serta Wayan Arnawa yang menggeluti dunia seni rupa. Keduanya dinilai berdedikasi pada iklim seni di Bali Utara.

 

Penghargaan diserahkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana di sela-sela upacara peringatan HUT Kota Singaraja ke-418.

 

Made Adnyana lebih dikenal dengan panggilan Ole. Kebetulan dia berasal dari Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, atau Desa Adat Ole. Dia merupakan seorang sastrawan.

- Advertisement -

 

Adnyana Ole telah menulis sejumlah buku. Di antaranya buku kumpulan cerpen berjudul Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci yang terbit pada 2018, dan buku kumpulan esai berjudul Lolohin Malu yang terbit pada 2019. Kini dia bergiat di Komunitas Mahima untuk melahirkan penulis-penulis muda.

Baca Juga:  Lestarikan Warisan, Disbud Bikin Duplikat Senjata Raja-Raja Klungkung

 

Sementara Wayan Arnawa merupakan pegiat lukisan wayang kaca dari Desa Nagasepaha. Leluhurnya adalah Jro Dalang Diah. Setidaknya selama dua dasa warsa terakhir, Arnawa telah menggeluti rutinitas sebagai pelukis wayang kaca.

 

Selama pandemi, tatkala pelukis lain banting profesi, dia masih memiliki ikhtiar bergiat di jalur lukis wayang kaca. Sekaligus mewariskan pengetahuan pada anak-anaknya.

 

Kabid Kesenian pada Dinas Kebudayaan Buleleng, Wayan Sujana mengungkapkan, penghargaan Wija Kusuma sempat ditiadakan pada 2020 dan 2021 lalu karena pandemi tidak ada anggaran.

 

“Biasanya sekali penghargaan ada 5-6 orang. Tapi tahun ini karena anggaran terbatas, kami usulkan 2 orang. Ini juga sebenarnya usulan yang tertunda tahun 2020 lalu,” kata Sujana saat dihubungi kemarin (30/3).

Baca Juga:  Usai Lengser, Ini yang Akan Dilakukan Bupati Buleleng Agus Suradnyana

 

Menurut Sujana, pemerintah telah memiliki sejumlah kriteria untuk penerima Wija Kusuma. Mereka yang masuk dalam daftar nominasi, setidaknya harus bergelut selama 10 tahun di bidang yang ditekuni. Selain itu mereka juga harus melahirkan karya.

 

“Di samping itu mereka juga harus bergiat secara rutin dan menjaga eksistensi. Nanti akan dilihat apakah peran mereka berpengaruh terhadap iklim seni di daerah. Kedua penerima ini kami nilai sudah memenuhi kriteria-kriteria tersebut,” ujar Sujana.

 

Lebih lanjut Sujana mengatakan, para penerima penghargaan Wija Kusuma juga akan diusulkan menerima penghargaan Dharma Kusuma dari Pemprov Bali. Hanya saja untuk meraih penghargaan tersebut, butuh proses dan kurasi yang lebih ketat.

 

“Mudah-mudahan saja tahun ini ada seniman asal Buleleng yang mendapat Dharma Kusuma. Kami akan usulkan penerima Wija Kusuma yang sekiranya memenuhi persyaratan tersebut,” demikian Sujana.

- Advertisement -

SINGARAJA, radarbali.id – Sempat vakum selama dua tahun, anugerah seni Wija Kusuma dari Pemkab Buleleng akhirnya kembali diberikan. Pada tahun 2022 ini, penghargaan itu diberikan kepada dua orang seniman atau pekerja budaya Made Adnyana Ole dan Wayan Arnawa.

 

Made Adnyana yang berkecimpung di dunia sastra, serta Wayan Arnawa yang menggeluti dunia seni rupa. Keduanya dinilai berdedikasi pada iklim seni di Bali Utara.

 

Penghargaan diserahkan Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana di sela-sela upacara peringatan HUT Kota Singaraja ke-418.

 

Made Adnyana lebih dikenal dengan panggilan Ole. Kebetulan dia berasal dari Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, atau Desa Adat Ole. Dia merupakan seorang sastrawan.

 

Adnyana Ole telah menulis sejumlah buku. Di antaranya buku kumpulan cerpen berjudul Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci yang terbit pada 2018, dan buku kumpulan esai berjudul Lolohin Malu yang terbit pada 2019. Kini dia bergiat di Komunitas Mahima untuk melahirkan penulis-penulis muda.

Baca Juga:  Kisah Jayaprana-Layonsari akan Diangkat ke Layar Lebar

 

Sementara Wayan Arnawa merupakan pegiat lukisan wayang kaca dari Desa Nagasepaha. Leluhurnya adalah Jro Dalang Diah. Setidaknya selama dua dasa warsa terakhir, Arnawa telah menggeluti rutinitas sebagai pelukis wayang kaca.

 

Selama pandemi, tatkala pelukis lain banting profesi, dia masih memiliki ikhtiar bergiat di jalur lukis wayang kaca. Sekaligus mewariskan pengetahuan pada anak-anaknya.

 

Kabid Kesenian pada Dinas Kebudayaan Buleleng, Wayan Sujana mengungkapkan, penghargaan Wija Kusuma sempat ditiadakan pada 2020 dan 2021 lalu karena pandemi tidak ada anggaran.

 

“Biasanya sekali penghargaan ada 5-6 orang. Tapi tahun ini karena anggaran terbatas, kami usulkan 2 orang. Ini juga sebenarnya usulan yang tertunda tahun 2020 lalu,” kata Sujana saat dihubungi kemarin (30/3).

Baca Juga:  Wayan Balawan Raup Keuntungan dari Youtube

 

Menurut Sujana, pemerintah telah memiliki sejumlah kriteria untuk penerima Wija Kusuma. Mereka yang masuk dalam daftar nominasi, setidaknya harus bergelut selama 10 tahun di bidang yang ditekuni. Selain itu mereka juga harus melahirkan karya.

 

“Di samping itu mereka juga harus bergiat secara rutin dan menjaga eksistensi. Nanti akan dilihat apakah peran mereka berpengaruh terhadap iklim seni di daerah. Kedua penerima ini kami nilai sudah memenuhi kriteria-kriteria tersebut,” ujar Sujana.

 

Lebih lanjut Sujana mengatakan, para penerima penghargaan Wija Kusuma juga akan diusulkan menerima penghargaan Dharma Kusuma dari Pemprov Bali. Hanya saja untuk meraih penghargaan tersebut, butuh proses dan kurasi yang lebih ketat.

 

“Mudah-mudahan saja tahun ini ada seniman asal Buleleng yang mendapat Dharma Kusuma. Kami akan usulkan penerima Wija Kusuma yang sekiranya memenuhi persyaratan tersebut,” demikian Sujana.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/