DENPASAR, radarbali.id – Usai perang besar, Panca Pandawa berkuasa. Yudistira menjadi raja. Namun kekuasaannya tidak sampai seumur hidup. Sebab, Yudistira memilih turun tahta.
Sebagai penguasa bangsa Kuru, Yudistira memberikan wilayah Kerajaan Indra Prasta dan Hastina Pura kepada cucu-cucunya.
Parisketu dipanggil menjadi Raja dari Kerajaan Indra Prasta. Sedangkan Parikesit sebagai Raja dari Kerajaan Hastina Pura.
Dua raja baru ini kemudian dinasihati oleh Yudistira. Agar mereka mengenang pengabdian dan pengorbanan Abimanyu serta Karna yang gugur di medan perang. Keduanya juga diminta menjaga negara dan berdampingan secara damai.
Usai melantik dua raja, Yudistira pensiun. Ia melepas jubah dan mahkotanya. Yudistira mengenakan pakaian sederhana.
Ia kemudian membuka pintu istana.
Kemana tujuan Yudistira? Adik-adiknya penasaran dengan langkah Yudistira.
”Waktuku telah tiba untuk menjadi pertapa,” ujar Yudistira kepada adik-adiknya. Ia memilih ke puncak Gunung Himalaya.
Melihat langkah Yudistira, adik-adiknya pun tidak mau berpisah. ”Kami ikut serta, kemana pun kakak pergi,” ujar Bima, adik kedua.
Arjuna juga tidak mau ketinggalan. Bahkan istrinya, Drupadi ikut mendampingi perjalanan spiritual sang Yudistira.
Di tengah perjalanan suci tersebut, turun Dewa Indra yang memberikan petuah ke Panca Pandawa. ”Ini adalah perjalanan yang sulit (menuju puncak Himalaya, red). Semoga kalian mencapai moksa,” pinta Dewa Indra. ***
Editor : Ida Bagus Indra Prasetia