Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Anak SD Beradu Vokal di Lomba Gending Rare Bulan Bahasa Bali 2026

Ni Kadek Novi Febriani • Senin, 9 Februari 2026 | 09:48 WIB
Lomba Gending Rare tingkat Sekolah Dasar (SD) dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (8/2/2026).
Lomba Gending Rare tingkat Sekolah Dasar (SD) dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (8/2/2026).

DENPASAR, radarbali.jawapos.com – Juri menetapkan tiga pemenang dari 24 peserta Lomba Gending Rare tingkat Sekolah Dasar (SD) dalam rangka Bulan Bahasa Bali 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (8/2/2026). Peserta kualitas vokal peserta yang dinilai berkualitas.

Tiga pemenang tersebut adalah, Made Amisha Rheata Distmika sebagai Juara I, disusul Ni Luh Putu Eka Octaviani sebagai Juara II, dan Ni Made Raisa Cempaka Ariana meraih Juara III.

Tiga dewan juri yang menilai lomba tersebut yakni Dr. I Ketut Sumerjana, S.Sn., M.Sn, Dr. I Gusti Putu Sumerjana, S.Sn., dan dr. Luh Putu Liana Indayana Dewi, M.Biomed (AAM). Mereka menilai hampir seluruh peserta tampil dengan kualitas vokal yang sangat baik.

I Ketut Sumerjana mengungkapkan, sebagian besar peserta sudah mampu menjangkau paksel atau nada tinggi dengan teknik pernapasan diafragma yang tepat. Hal ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Dari 24 peserta, hampir semuanya sudah menyentuh nada-nada tinggi. Biasanya anak-anak jarang berani ke paksel, tetapi kali ini mereka mampu membawakan dengan sangat baik,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan peserta tidak hanya terlihat dari sisi teknik vokal, tetapi juga pada aransemen lagu yang semakin kompleks. Jika sebelumnya masih sederhana, kini banyak peserta tampil dengan format ensemble hingga orkestra, bahkan meningkat hingga tiga level.

“Kami bertiga sangat menikmati penampilan peserta. Pesan lagunya jelas, penyajiannya luar biasa. Anak-anak ini berkembang pesat,” kata dosen ISI Bali tersebut.

Sumerjana juga menyoroti kekayaan cengkok yang semakin kuat, terutama saat peserta membawakan lagu wajib “Bebeke Putih Jambul” yang dikenal padat dan menuntut penguasaan napas.

Ia bahkan mengusulkan agar para pemenang dibuatkan kompilasi lagu sebagai koleksi gending rare karena masing-masing memiliki ciri khas tersendiri.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa Lomba Gending Rare bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sarana memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya Bali di tengah tantangan era digital.

“Anak-anak sekarang hidup dengan ‘kotak ajaib’ di tangan mereka. Lewat lomba ini, mereka kembali berinteraksi, bersosialisasi, dan memahami nilai budaya Bali,” harapnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Rosihan Anwar
#Bulan Bahasa Bali #Disbud Bali