Bali Bali United Berita Daerah Cover Story Dwipa Ekonomi Ekonomi & Perbankan Events Features Foto Lepas Gaya Hidup Hiburan & Budaya Hiburan & Seni Budaya Hospitality Hukum & Kriminal Inforial Internasional Kesehatan Nasional Opini Otomotif Pariwisata Pendidikan Perbankan Peristiwa Politika Sportainment Sportmania Tamu Redaksi Teknologi Traveling

Upacara Mapeed Sate Tungguh Kembali Digelar Setelah 13 Tahun

Donny Tabelak • Sabtu, 8 April 2023 | 09:05 WIB
Iring-iringan dalam upacara Mapeed Sate Tungguh di Gianyar. (ist)
Iring-iringan dalam upacara Mapeed Sate Tungguh di Gianyar. (ist)
GIANYAR-Upacara Mapeed Sate Tungguh digelar oleh Desa Adat Tiga yangbterdiru dari Desa Adat Tegaltamu, Desa Adat Dlod Tukad, dan Desa Adat Jero Kuta di desa Batubulan, Gianyar. Upacara itu telah dimulai pada Kamis (6/4) dan berlangsung tiga hari hingga Sabtu (8/4).

Untuk diketahui, upacara Mapeed Sate Tungguh merupakan rangkaian dari Karya Padudusan Alit lan Mupuk Pedagingan di Pura Puseh Desa Adat Tiga yang puncaknya berlangsung pada Purnama Kedasa, Rabu (5/4).

Bendesa Adat Tegaltamu, I Nyoman Sudarta menjelaskan, di desa Batubulan Gianyar terdapat 16 Banjar. Dari 16 Banjar itu terbagi ke dalam tiga desa adat. "Tiga Desa Adat ini masing-masing memiliki Pura Bale Agung dan Pura Dalem. Namun hanya memiliki satu Pura Puseh. Inilah disebut Pura Puseh Desa Adat Tiga,”ungkap pria berusia 58 tahun itu pada Jumat (7/4).

Dijelaskannya bahwa berdasarkan penuturan dari para penglingsir, Karya Agung pertama kali digelar di pura tersebut dilakukan sekitar tahun 1949. Dan sebelum 2023 kali ini, upacara serupa berlangsung tahun 2010.

Dijelaskannya, sebelum puncak karya berlangsung, pada Selasa (4/4) lalu, terlebih dahulu dilakukan pecaruan Rsi Gana dan Mendem Pedagingan dipuput oleh Ida Pedanda Griya Gede Kutri Singapadu. Tujuannya yakni untuk membersihkan, menetralisir dan mengharmoniskan alam semesta. Kemudian untuk puncak karya pada Purnama Kedasa dipuput oleh Ida Pedanda Siwa Budha, Ida Pedanda Griya Kutri Singapadu dan Ida Pedanda Budha Griya Batuan.

Sehari setelah Puncak Karya atau biasa disebut Manis Karya dilakukan prosesi Nganyarin yang dilakukan secara bergilir oleh ketiga Desa Adat. Pada prosesi Nganyarin inilah dilangsungkan upacara Mapeed Sate Tungguh.

Itu diisi dengan barisan krama Desa Adat khususnya ibu-ibu yang menyungsung banten menuju Pura Puseh Desa Adat Tiga yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya tersebut. “Diawal barisan akan ada barisan Upakara dulu, seperti banten Pemereman, Peregembal, dan sebagainya. Setelah itu baru barisan krama ibu-ibu, anak-anak, tidak ada batasan umur, semuanya bergabung mengikuti peed," imbuhnya.

Makna dari hal itu yakni untuk menunjukkan rasa bakti kepada Ida Sesuunan dengan manifestasi Desa Wisnu. Lalu kemudian di barisan akhir barulah akan diusung Sate Tungguh sebagai simbol Ista Dewata yang menjaga 9 penjuru dunia atau Pangider Bhuwana.

Sate Tungguh itu sendiri terbuat dari olahan daging bebek atau babi yang dibentuk sedemikian rupa tergantung masing-masing kreatifitas. Mapeed Sate Tungguh ini dilakukan secara bergiliran mulai dari pukul 16.00 Wita sampai selesai, yakni pada Kamis (6/4) Mapeed dilakukan oleh Desa Adat Dlod Tukad yang terdiri dari 7 Banjar. Dengan titik kumpul di Banjar Kalah, Desa Batubulan. Kemudian pada Jumat (7/4) dilakukan oleh Desa Adat Jero Kuta yang terdiri dari 6 Banjar. Dengan titik kumpul di Pura Dalem Tahak, Desa Batubulan. Dan pada Sabtu (8/4) dilakukan oleh Desa Adat Tegaltamu yang terdiri dari 3 Banjar dan mengambil titik kumpul di utara Oleh-oleh Cening Bagus, Batubulan. Editor : Donny Tabelak
#desa adat #Upacara Mapeed Sate Tungguh #pura puseh