28.5 C
Denpasar
Thursday, December 1, 2022

Anggota Mata Elang Diadili,Sadia Terancam Hukuman Tertinggi

DENPASAR– Kasus pengeroyokan dan penebasan yang dilakukan anggota mata elang atau deb collector di Perumnas Munang-Maning, Denpasar, Barat, pada Juli lalu mulai disidangkan di PN Denpasar.

 

Kronologi kejadian pun dipaparkan secara gamblang dalam dakwaan JPU Kejari Denpasar, Selasa (30/11).

 

Dari peristiwa tersebut, salah satu korban yakni Gede Budiarsana meninggal dunia karena menderita luka bacok. Dalam sidang daring kemarin, JPU Bagus Putu Swadharma Diputra membagi berkas menjadi dua bagian.

 

Berkas pertama untuk terdakwa Benny Bakarbessy, 41, (terdakwa 1), Jos Bus Likumahwa, 30 (terdakwa 2); Fendy Kainama, 31 (terdakwa 3): Gerson Pattiwaelapia, 33 (terdakwa 4); I Gusti Bagus Christian Alevanto, 23 (terdakwa 5); Dominggus Bakar Bessy, 23, (terdakwa 6). Sedangkan berkas kedua untuk terdakwa I Wayan Sadia, 39. “Yang kena Pasal 338 KUHP (tentang pembunuhan) adalah terdakwa I Wayan Sadia,” ujar JPU Bagus diwawancarai usai sidang kemarin.

 

Sementara terdakwa Benny dkk didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) UU Darurat Nomor 12/1951 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Pasal 170 ayat (1) KUHP; dan Pasal 351 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

 

Meski pasal yang dikenakan untuk terdakwa Benny dkk berlapis, namun ancaman hukuman penjara paling lama tetap pada terdakwa Sadia. Ancaman hukuman Pasal 338 KUHP yakni 15 tahun penjara. “Setelah dakwaan dibacakan, mereka (para terdakwa) mengajukan eksepsi atau keberatan,” ungkap JPU Bagus.

 

Dijelaskan dalam dakwaan, pada 23 Juli 2021 sekitar pukul 14.30, saksi Ketut Widiada alias Jero dolah dan saksi korban Gede Budiarsana mendatangi kantor PT Beta Mandiri Muti Solution, di Jalan Gunung Patuha, Munang-Maning, Denpasar Barat.

Baca Juga:  Putusan Tak Sesuai Fakta, PH Zainal Tayeb Genjot Memori Banding ke PT

 

Saksi Widiada menanyakan sepeda motor Yamaha Lexi hendak ditarik karena menunggak pembayaran kredit selama satu tahun di Finance BAF. Tak lama berselang terjadi ketegangan antara saksi dengan keenam terdakwa. Saat itu saksi Widiada hendak merekam kejadian menggunakan hand phone (HP) miliknya. Tapi, terdakwa Jos Bus merampasnya. Tidak terima HP-nya dirampas, korban Budiarsana mendorong kening terdakwa Jos Bus. “Tindakan itu membuat terdakwa Gerson memukul pipi kiri Budiarsana menggunakan tangan kanan mengepal sebanyak tiga kali,” beber JPU Bagus.

 

Sejurus kemudian, terdakwa Benny masuk ke dalam kantor untuk mengambil beberapa bilah pedang dan senjata tajam yang tersimpan di dalam kantor. Benny lalu keluar mengacungkan pedang ke arah Widiada dengan berteriak “Habisi! Bunuh dia!”. Benny mengayunkan parangnya kearah saksi Widiada, tapi saksi berhasil memegang gagang pedang tersebut dengan kedua tangannya.

 

Melihat itu, terdakwa Gusti Bagus Christian memukul saksi dengan menggunakan kursi plastik yang ada di tempat tersebut. Terdakwa lain lantas ikut memukul. Saksi terjatuh kemudian ditindih terdakwa Benny. Sementara korban Budiarsana dikeroyok terdakwa Jos Bus, Gerson, dan Fendy Kainama.

 

Terjadi pergulatan dan baku hantam hebat antara saksi dan terdakwa. Namun, karena kalah jumlah saksi berlari dengan berkata kepada korban agar lari. “De, melaib, De (De, lari, De),” teriak saksi.

Baca Juga:  Dituntut 7 Tahun Bui, Mahasiswi NTT Pembuang Bayi Menangis Sigsigan

 

Korban Budiarsana masih dikeroyok dan tak bisa melepaskan diri. Saat itu, terdaka I Wayan Sadia (terdakwa dalam penuntutan terpisah) memiting leher Budiarsana.

 

Setelah berusaha, saksi Widiada dan Budiarsana berhasil melarikan diri. Saat mereka berlari, terdakwa Fendy  sempat melemparkan batu dan mengenai punggung Widiada. Para terdakwa juga sempat mengejar mereka. Saat melakukan pengejaran tersebut para terdakwa membawa pedang dan senjata tajam yang sebelumnya disimpan terdakwa Benny Bakarbessy.

 

Sementara terdakwa Sadia, 39, sempat dilukai terdakwa dengan pedang yang dibawanya. Di mana pedang yang dipegang korban tersebut merupakan pedang yang berhasil direbutnya saat terjadi perkelahian. Karena terdesak, korban dan saksi Widiada keluar dari kantor tersebut. Terdakwa menggunakan kakinya menghalangi jalan korban Budiarsana, sehingga badan korban hampir terjatuh dan pedang yang dipegangnya menjadi terlepas.

 

Terdakwa mengambil pedang yang terjatuh tersebut lalu mengejar korban. “Korban yang lari berusaha naik ke bagian belakang mobil pikap yang melintas sambil bergelantungan. Karena korban tidak kuat bergelantungan, korban terjatuh,” tutur JPU Bagus.

 

Saat terjatuh, terdakwa yang mengejar korban kemudian mendekati korban lalu menebas korban dengan pedang yang dipegang. Korban berusaha menangkis dan melindungi dirinya dengan kedua tangannya, sehingga kedua tangan korban terkena tebasan pedang.

 

Saat korban terjatuh, terdakwa kemudian kembali menebas korban dengan pedang yang dipegangnya dan mengenai bagian belakang kepala korban sebanyak dua kali, sehingga korban mengeluarkan banyak darah serta terkapar di tengah jalan. Akibatnya korban Budiarsana meninggal dunia.



DENPASAR– Kasus pengeroyokan dan penebasan yang dilakukan anggota mata elang atau deb collector di Perumnas Munang-Maning, Denpasar, Barat, pada Juli lalu mulai disidangkan di PN Denpasar.

 

Kronologi kejadian pun dipaparkan secara gamblang dalam dakwaan JPU Kejari Denpasar, Selasa (30/11).

 

Dari peristiwa tersebut, salah satu korban yakni Gede Budiarsana meninggal dunia karena menderita luka bacok. Dalam sidang daring kemarin, JPU Bagus Putu Swadharma Diputra membagi berkas menjadi dua bagian.

 

Berkas pertama untuk terdakwa Benny Bakarbessy, 41, (terdakwa 1), Jos Bus Likumahwa, 30 (terdakwa 2); Fendy Kainama, 31 (terdakwa 3): Gerson Pattiwaelapia, 33 (terdakwa 4); I Gusti Bagus Christian Alevanto, 23 (terdakwa 5); Dominggus Bakar Bessy, 23, (terdakwa 6). Sedangkan berkas kedua untuk terdakwa I Wayan Sadia, 39. “Yang kena Pasal 338 KUHP (tentang pembunuhan) adalah terdakwa I Wayan Sadia,” ujar JPU Bagus diwawancarai usai sidang kemarin.

 

Sementara terdakwa Benny dkk didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) UU Darurat Nomor 12/1951 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Pasal 170 ayat (1) KUHP; dan Pasal 351 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

 

Meski pasal yang dikenakan untuk terdakwa Benny dkk berlapis, namun ancaman hukuman penjara paling lama tetap pada terdakwa Sadia. Ancaman hukuman Pasal 338 KUHP yakni 15 tahun penjara. “Setelah dakwaan dibacakan, mereka (para terdakwa) mengajukan eksepsi atau keberatan,” ungkap JPU Bagus.

 

Dijelaskan dalam dakwaan, pada 23 Juli 2021 sekitar pukul 14.30, saksi Ketut Widiada alias Jero dolah dan saksi korban Gede Budiarsana mendatangi kantor PT Beta Mandiri Muti Solution, di Jalan Gunung Patuha, Munang-Maning, Denpasar Barat.

Baca Juga:  Dituntut 7 Tahun Bui, Mahasiswi NTT Pembuang Bayi Menangis Sigsigan

 

Saksi Widiada menanyakan sepeda motor Yamaha Lexi hendak ditarik karena menunggak pembayaran kredit selama satu tahun di Finance BAF. Tak lama berselang terjadi ketegangan antara saksi dengan keenam terdakwa. Saat itu saksi Widiada hendak merekam kejadian menggunakan hand phone (HP) miliknya. Tapi, terdakwa Jos Bus merampasnya. Tidak terima HP-nya dirampas, korban Budiarsana mendorong kening terdakwa Jos Bus. “Tindakan itu membuat terdakwa Gerson memukul pipi kiri Budiarsana menggunakan tangan kanan mengepal sebanyak tiga kali,” beber JPU Bagus.

 

Sejurus kemudian, terdakwa Benny masuk ke dalam kantor untuk mengambil beberapa bilah pedang dan senjata tajam yang tersimpan di dalam kantor. Benny lalu keluar mengacungkan pedang ke arah Widiada dengan berteriak “Habisi! Bunuh dia!”. Benny mengayunkan parangnya kearah saksi Widiada, tapi saksi berhasil memegang gagang pedang tersebut dengan kedua tangannya.

 

Melihat itu, terdakwa Gusti Bagus Christian memukul saksi dengan menggunakan kursi plastik yang ada di tempat tersebut. Terdakwa lain lantas ikut memukul. Saksi terjatuh kemudian ditindih terdakwa Benny. Sementara korban Budiarsana dikeroyok terdakwa Jos Bus, Gerson, dan Fendy Kainama.

 

Terjadi pergulatan dan baku hantam hebat antara saksi dan terdakwa. Namun, karena kalah jumlah saksi berlari dengan berkata kepada korban agar lari. “De, melaib, De (De, lari, De),” teriak saksi.

Baca Juga:  Tuntut Super Ringan Pelaku Pemerkosa, Jaksa Banjir Kecaman

 

Korban Budiarsana masih dikeroyok dan tak bisa melepaskan diri. Saat itu, terdaka I Wayan Sadia (terdakwa dalam penuntutan terpisah) memiting leher Budiarsana.

 

Setelah berusaha, saksi Widiada dan Budiarsana berhasil melarikan diri. Saat mereka berlari, terdakwa Fendy  sempat melemparkan batu dan mengenai punggung Widiada. Para terdakwa juga sempat mengejar mereka. Saat melakukan pengejaran tersebut para terdakwa membawa pedang dan senjata tajam yang sebelumnya disimpan terdakwa Benny Bakarbessy.

 

Sementara terdakwa Sadia, 39, sempat dilukai terdakwa dengan pedang yang dibawanya. Di mana pedang yang dipegang korban tersebut merupakan pedang yang berhasil direbutnya saat terjadi perkelahian. Karena terdesak, korban dan saksi Widiada keluar dari kantor tersebut. Terdakwa menggunakan kakinya menghalangi jalan korban Budiarsana, sehingga badan korban hampir terjatuh dan pedang yang dipegangnya menjadi terlepas.

 

Terdakwa mengambil pedang yang terjatuh tersebut lalu mengejar korban. “Korban yang lari berusaha naik ke bagian belakang mobil pikap yang melintas sambil bergelantungan. Karena korban tidak kuat bergelantungan, korban terjatuh,” tutur JPU Bagus.

 

Saat terjatuh, terdakwa yang mengejar korban kemudian mendekati korban lalu menebas korban dengan pedang yang dipegang. Korban berusaha menangkis dan melindungi dirinya dengan kedua tangannya, sehingga kedua tangan korban terkena tebasan pedang.

 

Saat korban terjatuh, terdakwa kemudian kembali menebas korban dengan pedang yang dipegangnya dan mengenai bagian belakang kepala korban sebanyak dua kali, sehingga korban mengeluarkan banyak darah serta terkapar di tengah jalan. Akibatnya korban Budiarsana meninggal dunia.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/