alexametrics
27.6 C
Denpasar
Tuesday, July 5, 2022

Dana Rp 12 Miliar Ditilep Oknum Pengurus, LPD Ngis Langsung Kolaps

SINGARAJA– Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Adat Ngis, Kecamatan Tejakula, kini tengah limbung alias kolaps.

Oknum pengurus di LPD Ngis berinisial NB, diduga menilep dana nasabah. Masalah itu pun telah dilaporkan ke Polda Bali.

Sementara pengurus adat, berusaha melakukan upaya menyelamatkan LPD sehingga dana nasabah tetap aman.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, nasabah mulai mengalami keresahan sejak pekan lalu.

Krama gelisah setelah mendengar adanya dugaan pembobolan dana nasabah. Krama pun silih berganti mendatangi LPD, menanyakan nasib dana mereka. Berharap dana itu dapat diselamatkan.

Bendesa Adat Ngis, I Made Arjaya mengungkapkan, masalah mencuat sejak Selasa (25/1) pekan lalu.

Saat itu slip tarikan dana nasabah menumpuk. Arjaya pun heran. Sebab berdasarkan laporan per Desember 2021, likuiditas dana LPD masih berada di angka Rp 1,9 miliar. Seharusnya pencairan dana nasabah bisa dilakukan kapan saja.

Mengacu temuan tersebut, pihaknya pun meminta klarifikasi pada oknum tersebut. Klarifikasi itu dilakukan di hadapan prajuru dan badan pengawas. “Akhirnya dia akui ada transaksi fiktif. Jadi kas (LPD) yang tersisa di bank BPD hanya sisa Rp 3 juta,” ungkap Arjaya kemarin (2/2).

Ia pun terus berupaya menggali keterangan dari pengurus. Ternyata oknum tersebut melakukan modus kredit fiktif. Ia mencatut nama keluarganya sebagai kreditur. Dari 411 rekening pinjaman, sebanyak 86 rekening diantarnya diduga fiktif.

“Proses ini dia lakukan sendiri. Tidak melalui staf maupun pengawas. Total kerugian itu sekitar Rp 12 miliar. Ini sudah dilaporkan ke Polda oleh krama kami yang tinggal di Denpasar,” jelasnya.



SINGARAJA– Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Adat Ngis, Kecamatan Tejakula, kini tengah limbung alias kolaps.

Oknum pengurus di LPD Ngis berinisial NB, diduga menilep dana nasabah. Masalah itu pun telah dilaporkan ke Polda Bali.

Sementara pengurus adat, berusaha melakukan upaya menyelamatkan LPD sehingga dana nasabah tetap aman.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali, nasabah mulai mengalami keresahan sejak pekan lalu.

Krama gelisah setelah mendengar adanya dugaan pembobolan dana nasabah. Krama pun silih berganti mendatangi LPD, menanyakan nasib dana mereka. Berharap dana itu dapat diselamatkan.

Bendesa Adat Ngis, I Made Arjaya mengungkapkan, masalah mencuat sejak Selasa (25/1) pekan lalu.

Saat itu slip tarikan dana nasabah menumpuk. Arjaya pun heran. Sebab berdasarkan laporan per Desember 2021, likuiditas dana LPD masih berada di angka Rp 1,9 miliar. Seharusnya pencairan dana nasabah bisa dilakukan kapan saja.

Mengacu temuan tersebut, pihaknya pun meminta klarifikasi pada oknum tersebut. Klarifikasi itu dilakukan di hadapan prajuru dan badan pengawas. “Akhirnya dia akui ada transaksi fiktif. Jadi kas (LPD) yang tersisa di bank BPD hanya sisa Rp 3 juta,” ungkap Arjaya kemarin (2/2).

Ia pun terus berupaya menggali keterangan dari pengurus. Ternyata oknum tersebut melakukan modus kredit fiktif. Ia mencatut nama keluarganya sebagai kreditur. Dari 411 rekening pinjaman, sebanyak 86 rekening diantarnya diduga fiktif.

“Proses ini dia lakukan sendiri. Tidak melalui staf maupun pengawas. Total kerugian itu sekitar Rp 12 miliar. Ini sudah dilaporkan ke Polda oleh krama kami yang tinggal di Denpasar,” jelasnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/