alexametrics
25.4 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Divonis Setahun karena Menipu Rp1,5 M, Pria Beristri 3 Belum Dipenjara

DENPASAR – I Wayan Sujena, 64, pria beristri tiga sudah terbukti melakukan penipuan hingga Rp1,5 miliar belum dipenjara. Padahal, dia sudah divonis hukuman pidana penjara selama setahun.

 

I Wayan Sujena, lelaki kelahiran Gianyar ini sudah divonis sejak bulan September 2021 lalu. Namun, proses eksekusi belum bterjadi sebab saat diberikan panggilan pertama sejak pekan lalu oleh Kejaksaan Tinggi Bali, namun dia tak datang.

 

Sujena memang tidak ditahan di rumah tahanan. Dia merupakan tahanan rumah. Cerita dia menjadi tahanan rumah ini terjadi lantaran I Wayan Sujena sempat sakit saraf terjepit.

Kasi Penerangan dan Hukum (Kasipenkum) Kejati Bali A. Luga Herlianto, dikonfirmasi Selasa (1/2) mengakui, I Wayan Sujena memang belum dieksekusi.

 
“Panggilan pertama minggu lalu, dan minggu ini panggilan kedua. Ini kita lakukan sesuai SOP,” kata Luga A. Harlianto.

 

Dia mengatakan, setelah Sujena tidak hadir dalam panggilan pertama, pihaj JPU mengajukan kembali panggian kedua. Bila panggilan kedua juga tidak hadir, kata dia, maka tim JPU akan melakuan upaya penjemputan paksa.

Baca Juga:  Diperiksa 6 Jam, Anak Mantan Sekda Buleleng Tak Ditahan

“Kami memiliki tim tangkap buron. Pasti akan disampaikan ke tim tersebut,” jelas Luga.

Dijelaskan bahwa, jika Jaksa Penuntut Umum melibatkan tim tangkap buren berarti akan dilakukan upaya paksa jika yang bersangkutan tidak memghadiri panggilan kedua. Jadi, sesuai SPO, JPU akan memaksimalkan upaya.

 

“Yang mana, jika tidak dari panghilan ke dua maka JPU akan melakukan upaya, barulah ditetapkan sebagai DPO,” tegas Luga.


Jadi, dengan adanya DPO, JPU akan koordinasi dengan Kepala Lintas Sektor termasuk kepolisian, tentunya instansi terkait. “Intinya, jika panggilan pertama dan kedua nggak hadir, berarti dia nggak menghargai itu. Tentunya akan ada upaya paksa,” jelas Luga.

 

Seperti berita sebelumnya, terpidana I Wayan Sujena sejak kasus ini divonis hakim September 2021 lalu dan sudah berkekuatan hukum tetap. Sebelumnya Sujena dititipkan di Lapas Kerobokan. Karena mengalami sakit terjepit, kemudian Sujena menjadi tahanan rumah.

Baca Juga:  Tak Pernah Jadi Temuan BPK, Agus: Penganggaran Rumjab Sesuai Aturan

I Wayan Sujena sebelumnya oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar divonis satu tahun penjara karena dianggap terbukti melakukan tindak pidana penipuan.

 

Kasus yang mengantarkan I Wayan Sujena hingga ke penjara ini berawal saat terdakwa meminjam uang kepada saksi I Putu Gede Aspartha Putra sebesar Rp1,5 miliar.

Singkat cerita, I Putu Gede Aspartha Putra  butuh uang dan meminta uangnya dikembalikan. Saat ditagih Sujena memberikan kepada saksi korban tiga lembar cek.

 

Kemudian pada tanggal 18 Januari 2018 korban melakukan kliring terhadap ketiga lembar cek tersebut. Namun, dari pihak bank menerangkan bahwa cek tersebut rekeningnya sudah ditutup dan tidak ada uang alias cek kosong.



DENPASAR – I Wayan Sujena, 64, pria beristri tiga sudah terbukti melakukan penipuan hingga Rp1,5 miliar belum dipenjara. Padahal, dia sudah divonis hukuman pidana penjara selama setahun.

 

I Wayan Sujena, lelaki kelahiran Gianyar ini sudah divonis sejak bulan September 2021 lalu. Namun, proses eksekusi belum bterjadi sebab saat diberikan panggilan pertama sejak pekan lalu oleh Kejaksaan Tinggi Bali, namun dia tak datang.

 

Sujena memang tidak ditahan di rumah tahanan. Dia merupakan tahanan rumah. Cerita dia menjadi tahanan rumah ini terjadi lantaran I Wayan Sujena sempat sakit saraf terjepit.

Kasi Penerangan dan Hukum (Kasipenkum) Kejati Bali A. Luga Herlianto, dikonfirmasi Selasa (1/2) mengakui, I Wayan Sujena memang belum dieksekusi.

 
“Panggilan pertama minggu lalu, dan minggu ini panggilan kedua. Ini kita lakukan sesuai SOP,” kata Luga A. Harlianto.

 

Dia mengatakan, setelah Sujena tidak hadir dalam panggilan pertama, pihaj JPU mengajukan kembali panggian kedua. Bila panggilan kedua juga tidak hadir, kata dia, maka tim JPU akan melakuan upaya penjemputan paksa.

Baca Juga:  Pandemi Covid-19, Jaksa Kejati Titipkan JRX SID di Rutan Polda Bali

“Kami memiliki tim tangkap buron. Pasti akan disampaikan ke tim tersebut,” jelas Luga.

Dijelaskan bahwa, jika Jaksa Penuntut Umum melibatkan tim tangkap buren berarti akan dilakukan upaya paksa jika yang bersangkutan tidak memghadiri panggilan kedua. Jadi, sesuai SPO, JPU akan memaksimalkan upaya.

 

“Yang mana, jika tidak dari panghilan ke dua maka JPU akan melakukan upaya, barulah ditetapkan sebagai DPO,” tegas Luga.


Jadi, dengan adanya DPO, JPU akan koordinasi dengan Kepala Lintas Sektor termasuk kepolisian, tentunya instansi terkait. “Intinya, jika panggilan pertama dan kedua nggak hadir, berarti dia nggak menghargai itu. Tentunya akan ada upaya paksa,” jelas Luga.

 

Seperti berita sebelumnya, terpidana I Wayan Sujena sejak kasus ini divonis hakim September 2021 lalu dan sudah berkekuatan hukum tetap. Sebelumnya Sujena dititipkan di Lapas Kerobokan. Karena mengalami sakit terjepit, kemudian Sujena menjadi tahanan rumah.

Baca Juga:  Kulik Misteri Bunuh Diri Eks Kepala BPN Badung, Polisi Periksa 7 Saksi

I Wayan Sujena sebelumnya oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar divonis satu tahun penjara karena dianggap terbukti melakukan tindak pidana penipuan.

 

Kasus yang mengantarkan I Wayan Sujena hingga ke penjara ini berawal saat terdakwa meminjam uang kepada saksi I Putu Gede Aspartha Putra sebesar Rp1,5 miliar.

Singkat cerita, I Putu Gede Aspartha Putra  butuh uang dan meminta uangnya dikembalikan. Saat ditagih Sujena memberikan kepada saksi korban tiga lembar cek.

 

Kemudian pada tanggal 18 Januari 2018 korban melakukan kliring terhadap ketiga lembar cek tersebut. Namun, dari pihak bank menerangkan bahwa cek tersebut rekeningnya sudah ditutup dan tidak ada uang alias cek kosong.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/