alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Sembilan Tahun Buron, Penipu Rp 9,3 Miliar Asal Jerman Serahkan Diri

Berakhir sudah pelarian panjang Karl Gunther Meyer, 61.

Warga Negara Asing (WNA) asal Jerman itu akhirnya dijebloskan ke Lapas Singaraja pada Senin (2/8).

Ia mengakhiri pelarian setelah bersembunyi selama sembilan tahun dengan menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Singaraja. Seperti apa?

 

EKA PRASETYA, Buleleng

 

SEMPAT menghilang tanpa jejak selama 9 (Sembilan) tahun, Karl akhirnya kembali ke hotel prodeo.

Terpidana dua tahun kasus penipuan asal Jerman terhadap warga asing bernama Michael Brag, ini akhirnya harus meringkuk kembali di balik jeruji besi di Lapas Singaraja.

Humas Kejaksaan Negeri Buleleng, A.A. Jayalantara mengatakan, Karl memang sudah buron selama bertahun-tahun. Bahkan sebelum pelariannya berakhir, ia sempat pulang ke Jerman saat proses kasasi tengah berlangsung.

Sedangkan sepekan terakhir, pihaknya menerima informasi bahwa terdakwa kembali datang ke Indonesia.

Kejaksaan Negeri Buleleng dan Kejaksaan Tinggi Bali akhirnya membentuk Tim Tangkap Buron (Tabur).

“Kami sempat mencium keberadaan yang bersangkutan di Jalan Subak, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dia tinggal di sana bersama anaknya. Informasinya dia sudah berada di sana (Mataram) selama seminggu,” kata Jayalantara.

Tim sempat menggerebek rumah Karl di Mataram pada pukul 14.00, Minggu (1/8) siang.

Namun saat penggerebekan itu, Karl tidak ada di rumah. Ternyata dari penelusuran tim Tabur, Karl sudah pergi ke Bali melalui pelabuhan pada Minggu subuh dengan menumpang truk.

Baca Juga:  Amankan Pedang Sopir Truk Lintas Jawa Bali Lombok, saat Disidik Bilang

Mendapat informasi itu, pihak kejaksaan langsung meminta kepada keluarga dan penjaminnya, agar Karl menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Singaraja.

Sebab kejaksaan wajib melakukan eksekusi. Tim sempat menghubungi terdakwa melalui video call, namun ia tak mau menyebutkan dimana posisinya. Justru mengakhiri panggilan.

“Kami curiga dia mau keluar lagi dari Indonesia lewat Bali. Akhirnya kami tutup semua jalur keluar Bali. Baik dari pelabuhan maupun bandara, agar yang bersangkutan tidak kabur lagi. Kami juga pantau keberadaan kontaknya di mana, karena dia juga punya keluarga di Lombok dan Bali,” ujar Jayalantara.

Tak disangka Karl justru datang sendiri ke Kejaksaan Negeri Buleleng pada, Senin (2/8) sekitar pukul 12.00 WITA.

Ia diantar oleh sopirnya dan langsung menyerahkan diri pada pihak kejaksaan.

“Terpidana langsung kami lakukan proses eksekusi. Selanjutnya kami akan serahkan pada pihak Lapas Singaraja untuk menjalani hukuman, sebagaimana perintah pengadilan,” jelas Jayalantara.

Menurut Jayalantara, kasus penipuan yang dilakukan Karl terjadi sejak awal tahun 2003 hingga 17 Januari 2005.

Saat itu modusnya, Karl menawarkan divestasi saham PT. Bali Melka kepada korban Michael Brag dengan menawarkan untuk melepas 25 persen saham dengan harga USD 400.000 .

Baca Juga:  Ternyata, Jaksa dan Polisi Juga Bidik Eks Wabup Buleleng Arga Pynatih

Perusahaan ini ketika itu menanungi pengelolaan Hotel Melka Excelcisor.

Tawaran itu disambut oleh korban. Korban pun secara berturut-turut mengirim sejumlah dana melalui transfer bank sejak 2003 hingga 2008.

Transfer itu dilakukan melalui beberapa jenis mata uang. Baik itu dolar amerika, euro, maupun rupiah.

Selanjutnya pada tahun 2005, Karl mengubah kepemilikan saham dan kepengurusan pada PT. Bali Melka.

Ternyata dalam akta terbaru, nama Michael Brag tak dicantumkan sebagai pemilik saham.

Alih-alih membagi saham pada kroban, pada tahun 2011 Karl justru mengalihkan seluruh kepemilikan saham PT. Bali Melka pada pihak ketiga.

Sehingga korban merugi sebesar Rp 9,3 miliar. Kasus itu langsung dilaporkan pada kepolisian.

Perkara itu sempat bergulir di Pengadilan Negeri Singaraja.

Bahkan hingga kasasi di tingkat Mahkamah Agung. Dalam putusan kasasi Nomor 2236.K/PID/2012 yang dibacakan pada 22 Juli 2014 lalu, Mahkamah Agung memutuskan bahwa terdakwa Karl Gunther Meyer terbukti melakukan tindak pidana penipuan, dan menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun.

Saat perkara bergulir, Karl sebenarnya telah berada dalam tahanan sejak 17 Februari 2012 hingga 20 April 2012.

Kemudian statusnya dialihkan menjadi tahanan kota sejak 2 April 2012. Saat beralih menjadi tahanan kota itu, tiba-tiba ia menghilang.


Berakhir sudah pelarian panjang Karl Gunther Meyer, 61.

Warga Negara Asing (WNA) asal Jerman itu akhirnya dijebloskan ke Lapas Singaraja pada Senin (2/8).

Ia mengakhiri pelarian setelah bersembunyi selama sembilan tahun dengan menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Singaraja. Seperti apa?

 

EKA PRASETYA, Buleleng

 

SEMPAT menghilang tanpa jejak selama 9 (Sembilan) tahun, Karl akhirnya kembali ke hotel prodeo.

Terpidana dua tahun kasus penipuan asal Jerman terhadap warga asing bernama Michael Brag, ini akhirnya harus meringkuk kembali di balik jeruji besi di Lapas Singaraja.

Humas Kejaksaan Negeri Buleleng, A.A. Jayalantara mengatakan, Karl memang sudah buron selama bertahun-tahun. Bahkan sebelum pelariannya berakhir, ia sempat pulang ke Jerman saat proses kasasi tengah berlangsung.

Sedangkan sepekan terakhir, pihaknya menerima informasi bahwa terdakwa kembali datang ke Indonesia.

Kejaksaan Negeri Buleleng dan Kejaksaan Tinggi Bali akhirnya membentuk Tim Tangkap Buron (Tabur).

“Kami sempat mencium keberadaan yang bersangkutan di Jalan Subak, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dia tinggal di sana bersama anaknya. Informasinya dia sudah berada di sana (Mataram) selama seminggu,” kata Jayalantara.

Tim sempat menggerebek rumah Karl di Mataram pada pukul 14.00, Minggu (1/8) siang.

Namun saat penggerebekan itu, Karl tidak ada di rumah. Ternyata dari penelusuran tim Tabur, Karl sudah pergi ke Bali melalui pelabuhan pada Minggu subuh dengan menumpang truk.

Baca Juga:  Ternyata, Jaksa dan Polisi Juga Bidik Eks Wabup Buleleng Arga Pynatih

Mendapat informasi itu, pihak kejaksaan langsung meminta kepada keluarga dan penjaminnya, agar Karl menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Singaraja.

Sebab kejaksaan wajib melakukan eksekusi. Tim sempat menghubungi terdakwa melalui video call, namun ia tak mau menyebutkan dimana posisinya. Justru mengakhiri panggilan.

“Kami curiga dia mau keluar lagi dari Indonesia lewat Bali. Akhirnya kami tutup semua jalur keluar Bali. Baik dari pelabuhan maupun bandara, agar yang bersangkutan tidak kabur lagi. Kami juga pantau keberadaan kontaknya di mana, karena dia juga punya keluarga di Lombok dan Bali,” ujar Jayalantara.

Tak disangka Karl justru datang sendiri ke Kejaksaan Negeri Buleleng pada, Senin (2/8) sekitar pukul 12.00 WITA.

Ia diantar oleh sopirnya dan langsung menyerahkan diri pada pihak kejaksaan.

“Terpidana langsung kami lakukan proses eksekusi. Selanjutnya kami akan serahkan pada pihak Lapas Singaraja untuk menjalani hukuman, sebagaimana perintah pengadilan,” jelas Jayalantara.

Menurut Jayalantara, kasus penipuan yang dilakukan Karl terjadi sejak awal tahun 2003 hingga 17 Januari 2005.

Saat itu modusnya, Karl menawarkan divestasi saham PT. Bali Melka kepada korban Michael Brag dengan menawarkan untuk melepas 25 persen saham dengan harga USD 400.000 .

Baca Juga:  Terbukti Korupsi, Sekda Pastikan 8 Pejabat Dispar Buleleng Dipecat

Perusahaan ini ketika itu menanungi pengelolaan Hotel Melka Excelcisor.

Tawaran itu disambut oleh korban. Korban pun secara berturut-turut mengirim sejumlah dana melalui transfer bank sejak 2003 hingga 2008.

Transfer itu dilakukan melalui beberapa jenis mata uang. Baik itu dolar amerika, euro, maupun rupiah.

Selanjutnya pada tahun 2005, Karl mengubah kepemilikan saham dan kepengurusan pada PT. Bali Melka.

Ternyata dalam akta terbaru, nama Michael Brag tak dicantumkan sebagai pemilik saham.

Alih-alih membagi saham pada kroban, pada tahun 2011 Karl justru mengalihkan seluruh kepemilikan saham PT. Bali Melka pada pihak ketiga.

Sehingga korban merugi sebesar Rp 9,3 miliar. Kasus itu langsung dilaporkan pada kepolisian.

Perkara itu sempat bergulir di Pengadilan Negeri Singaraja.

Bahkan hingga kasasi di tingkat Mahkamah Agung. Dalam putusan kasasi Nomor 2236.K/PID/2012 yang dibacakan pada 22 Juli 2014 lalu, Mahkamah Agung memutuskan bahwa terdakwa Karl Gunther Meyer terbukti melakukan tindak pidana penipuan, dan menjatuhkan pidana penjara selama dua tahun.

Saat perkara bergulir, Karl sebenarnya telah berada dalam tahanan sejak 17 Februari 2012 hingga 20 April 2012.

Kemudian statusnya dialihkan menjadi tahanan kota sejak 2 April 2012. Saat beralih menjadi tahanan kota itu, tiba-tiba ia menghilang.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/