alexametrics
31.8 C
Denpasar
Tuesday, May 17, 2022

Sepakat Mediasi, Ratusan Warga Guwang Serempak Teriak di Luar Gedung

GIANYAR – Kasus klaim tanah di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali kembali bergulir di PN Gianyar, Kamis (2/8).

 

Kedua pihak, baik penggugat maupun tergugat, dari Dinas Pendidikan; Desa Adat dan Desa Dinas sepakat mediasi.

 

Usai mediasi yang berlangsung pukul 10.00 WITA hingga pukul 11.30 WITA, Bendesa dan perbekel Guwang turun dari gedung PN.

 

Massa yang tidak diizinkan masuk halaman PN pun teriak dari luar gedung. “Guwang bersatu tak bisa dikalahkan,” teriak masa menyambut Bendesa dan Perbekel.

 

Juru bicara PN Gianyar, Ida Bagus Ari Suamba, menyatakan kedua pihak sepakat dilakukan mediasi. “Dalam lima hari kerja menyiapkan resume. Berkaitan tawaran perdamaian,” ujar Ari Suamba, usai memediasi. 

 

Kata Ari, kesepakatan mediasi ini dinilai sebagai itikad baik dari kedua pihak.

 

“Kedua pihak hadir. Untuk isi materi mediasi, tidak bisa diungkapkan. Majelis tidak boleh mengetahui, pihak luar juga tidak boleh mengetahui. Adanya itikad baik mudah-mudahan bisa diselesaikan dengan perdamaian pada mediasi Kamis depan,” pintanya.

 

Selanjutnya, dengan mediasi, kata Ari Suamba, gugatan tanah seluas 6100 M2 yang dia atasnya berdiri SD, Kantor Perbekel, dan Pasar Desa, belum berjalan.

Baca Juga:  Main Narkoba di Kota Seni, Pembeli dan Penjual Narkoba Diciduk

 

“Ini proses berusaha secara damai. Ini proses terbaik kalau bisa diselesaikan secara damai. Perkara selesai tidak perlu diselesaikan sampai Pengadilan Tinggi maupun Mahkamah Agung,” jelas Ari Suamba.

 

Terkait mediasi, lanjut dia, masing-masing pihak punya kemauan. “Tugas mediator menurunkan ekspetasi masing-masing pihak. Mudah-mudahan mencapai titik temu. Kalau damai, aman.

 

Selanjutnya jika nantinya mediasi tidak mencapai titik temu, proses sidang masih berlanjut,” terang Ari Suamba.

 

Mengenai kehadiran masa, pihak PN sejak mediasi pertama, sudah disampaikan imbauan.

 

“Kami sudah koordinasi dengan kepolisian. Imbauan sudah disampaikan ke tokoh Guwang, jangan sampai terjadi pelanggaran prokes. Kami serahkan ke kepolisian dan Satgas Covid-19,” pungkasnya.

 

Sedangkan selaku pihak penggugat, Ketut Gede Dharma Putra menyatakan dari awal, dirinya ingin berdamai.

 

“Gak ada ke ranah hukum. Makanya disini ada mediasi. Sama-sama mau, maunya apa. Kami di pihak, wajar menggugat. Menemukan titik temu yang baik,” ujar Dharma Putra.

 

Untuk bukti kepemilikan tanah seluas 6100 meter persegi pihaknya akan memperlihatkan di sidang.

 

Baca Juga:  JAHAT! Begini Kronologis 5 ABG Bekasi Direkrut Jadi PSK Anak di Bali

“Yang jelas, yang dikatakan kami ingin damai. Ini punya leluhur kami. Kenapa tanah kami di situ, berarti kan ada hubungan yang baik leluhur tiyang dengan Desa Guwang,” ujar pria asal Desa Celuk, Kecamatan Sukawati itu.

 

Didampingi kuasa hukum, dirinya mengaku sudah sejak lama memperjuangkan tanah atas nama almarhum kakeknya, I Ketut Bawa.

 

“Sebenarnya sudah dari dulu, dari ibu tiyang, cuma kasusnya dipending. Sampai ibu tiyang meninggal. Karena sekarang satu-satunya cowok, saya meneruskan,” terangnya. . 

Sementara itu, Bendesa Adat Guwang, Ketut Karben Wardana, menyatakan mediasi hari ini penyerahan resume ke hakim mediator. “Akan ada mediasi ketiga, untuk tanggapan masing-masing prinsipal,” ujar Wardana

 

Diakui, sidang kemarin, tidak ada dialog. “Minggu depan ada dialog dengan penggugat. Sekarang karena resume, hadir terpisah,” jelas Wardana.

 

Mengenai kedatangan warga Bendesa mengaku spontanitas.

 

“Apapun yang kami lakukan memang minta dukungan doa dan moril, berjuang untuk tanah warisan kita,” ujarnya.

 

Dari pihak desa tidak ada mengkondisikan kehadiran masa. “Tapi kami setiap sidang wajib beritahu, kalau datang tanpa pemberitahuan. Kami mau terbuka dengan masyarakat,” pungkasnya.

GIANYAR – Kasus klaim tanah di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali kembali bergulir di PN Gianyar, Kamis (2/8).

 

Kedua pihak, baik penggugat maupun tergugat, dari Dinas Pendidikan; Desa Adat dan Desa Dinas sepakat mediasi.

 

Usai mediasi yang berlangsung pukul 10.00 WITA hingga pukul 11.30 WITA, Bendesa dan perbekel Guwang turun dari gedung PN.

 

Massa yang tidak diizinkan masuk halaman PN pun teriak dari luar gedung. “Guwang bersatu tak bisa dikalahkan,” teriak masa menyambut Bendesa dan Perbekel.

 

Juru bicara PN Gianyar, Ida Bagus Ari Suamba, menyatakan kedua pihak sepakat dilakukan mediasi. “Dalam lima hari kerja menyiapkan resume. Berkaitan tawaran perdamaian,” ujar Ari Suamba, usai memediasi. 

 

Kata Ari, kesepakatan mediasi ini dinilai sebagai itikad baik dari kedua pihak.

 

“Kedua pihak hadir. Untuk isi materi mediasi, tidak bisa diungkapkan. Majelis tidak boleh mengetahui, pihak luar juga tidak boleh mengetahui. Adanya itikad baik mudah-mudahan bisa diselesaikan dengan perdamaian pada mediasi Kamis depan,” pintanya.

 

Selanjutnya, dengan mediasi, kata Ari Suamba, gugatan tanah seluas 6100 M2 yang dia atasnya berdiri SD, Kantor Perbekel, dan Pasar Desa, belum berjalan.

Baca Juga:  Sebelum Bunuh Suaminya, Istri Korban Sempat sodori Pelaku Telur Rebus

 

“Ini proses berusaha secara damai. Ini proses terbaik kalau bisa diselesaikan secara damai. Perkara selesai tidak perlu diselesaikan sampai Pengadilan Tinggi maupun Mahkamah Agung,” jelas Ari Suamba.

 

Terkait mediasi, lanjut dia, masing-masing pihak punya kemauan. “Tugas mediator menurunkan ekspetasi masing-masing pihak. Mudah-mudahan mencapai titik temu. Kalau damai, aman.

 

Selanjutnya jika nantinya mediasi tidak mencapai titik temu, proses sidang masih berlanjut,” terang Ari Suamba.

 

Mengenai kehadiran masa, pihak PN sejak mediasi pertama, sudah disampaikan imbauan.

 

“Kami sudah koordinasi dengan kepolisian. Imbauan sudah disampaikan ke tokoh Guwang, jangan sampai terjadi pelanggaran prokes. Kami serahkan ke kepolisian dan Satgas Covid-19,” pungkasnya.

 

Sedangkan selaku pihak penggugat, Ketut Gede Dharma Putra menyatakan dari awal, dirinya ingin berdamai.

 

“Gak ada ke ranah hukum. Makanya disini ada mediasi. Sama-sama mau, maunya apa. Kami di pihak, wajar menggugat. Menemukan titik temu yang baik,” ujar Dharma Putra.

 

Untuk bukti kepemilikan tanah seluas 6100 meter persegi pihaknya akan memperlihatkan di sidang.

 

Baca Juga:  Pesta Minum Arak, ABK Penusuk Teman Sendiri Diganjar 2 Tahun Bui

“Yang jelas, yang dikatakan kami ingin damai. Ini punya leluhur kami. Kenapa tanah kami di situ, berarti kan ada hubungan yang baik leluhur tiyang dengan Desa Guwang,” ujar pria asal Desa Celuk, Kecamatan Sukawati itu.

 

Didampingi kuasa hukum, dirinya mengaku sudah sejak lama memperjuangkan tanah atas nama almarhum kakeknya, I Ketut Bawa.

 

“Sebenarnya sudah dari dulu, dari ibu tiyang, cuma kasusnya dipending. Sampai ibu tiyang meninggal. Karena sekarang satu-satunya cowok, saya meneruskan,” terangnya. . 

Sementara itu, Bendesa Adat Guwang, Ketut Karben Wardana, menyatakan mediasi hari ini penyerahan resume ke hakim mediator. “Akan ada mediasi ketiga, untuk tanggapan masing-masing prinsipal,” ujar Wardana

 

Diakui, sidang kemarin, tidak ada dialog. “Minggu depan ada dialog dengan penggugat. Sekarang karena resume, hadir terpisah,” jelas Wardana.

 

Mengenai kedatangan warga Bendesa mengaku spontanitas.

 

“Apapun yang kami lakukan memang minta dukungan doa dan moril, berjuang untuk tanah warisan kita,” ujarnya.

 

Dari pihak desa tidak ada mengkondisikan kehadiran masa. “Tapi kami setiap sidang wajib beritahu, kalau datang tanpa pemberitahuan. Kami mau terbuka dengan masyarakat,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/