alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, July 6, 2022

P2TP2A Buleleng Minta Siswi Korban Perkosaan Diberikan Terapi Psikis

SINGARAJA-Kasus persetubuhan/perkosaan yang menimpa salah seorang siswi SMP berinisial KMW, 12 terus menuai perhatian serius dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Buleleng.

Seperti disampaikan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Buleleng Made Wibawa, Senin (2/11).

Dikatakan, selain melakukan pendampingan sejak awal proses pelaporan, dalam kasus ini, pihaknya juga mendorong agar korban diberikan terapi psikis lebih dulu.

Permintaan adanya terapi psikis bagi korban itu dilakukan sebelum penyidik meminta keterangan korban.

Selanjutnya, usai proses pemulihan psikis dilakukan selama 3-4 sesi, barulah penyidik meminta keterangan kepada korban.

“Saat ini masih terus proses pendampingan dan terus kami jadwalkan untuk pendampingan psikisnya. Kami bersyukur sekarang kondisi psikisnya sudah mulai pulih. Anak juga sudah mulai berkomunikasi dan menerima keadaan saat ini,” ujarnya.

Selain pendampingan terhadap anak, keluarga juga diberikan pemahaman. Pihak P2TP2A berharap agar keluarga bisa melakukan pengawasan ekstra.

Selain itu, lingkungan tempat tinggal juga harus memberikan dukungan moral, agar anak dapat beraktifitas kembali seperti biasa.

“Intinya jangan ditanya-tanya kejadian yang dulu. Itu akan membuat anak ingat dan tertekan lagi. Kalau misalnya ada yang datang, entah kerabat atau tetangga, cukup bicarakan hal yang lain saja. Jangan bicarakan masalah yang menimpa si anak ini,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi menangkap 10 orang yang diduga terlibat dalam aksi persetubuhan yang menimpa KMW, 12, pelajar asal Kecamatan Buleleng.

Mereka adalah Kadek Arya Gunawan alias Berit, Putu Rudi Ariawan alias Rudi, Gede Putra Ariawan alias Wawan, serta tujuh orang lainnya yang masih di bawah umur. Pelaku di bawah umur berinisial KD yang mengaku sebagai pacar korban, KJ, T, GP, GA, E, dan S.

Seluruh pelaku akan tetap menjalani proses pemeriksaan dan pemberkasan sebagaimana proses pro justitia.

Khusus para pelaku di bawah umur, nantinya akan menjalani proses diversi di pengadilan. 



SINGARAJA-Kasus persetubuhan/perkosaan yang menimpa salah seorang siswi SMP berinisial KMW, 12 terus menuai perhatian serius dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Buleleng.

Seperti disampaikan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Buleleng Made Wibawa, Senin (2/11).

Dikatakan, selain melakukan pendampingan sejak awal proses pelaporan, dalam kasus ini, pihaknya juga mendorong agar korban diberikan terapi psikis lebih dulu.

Permintaan adanya terapi psikis bagi korban itu dilakukan sebelum penyidik meminta keterangan korban.

Selanjutnya, usai proses pemulihan psikis dilakukan selama 3-4 sesi, barulah penyidik meminta keterangan kepada korban.

“Saat ini masih terus proses pendampingan dan terus kami jadwalkan untuk pendampingan psikisnya. Kami bersyukur sekarang kondisi psikisnya sudah mulai pulih. Anak juga sudah mulai berkomunikasi dan menerima keadaan saat ini,” ujarnya.

Selain pendampingan terhadap anak, keluarga juga diberikan pemahaman. Pihak P2TP2A berharap agar keluarga bisa melakukan pengawasan ekstra.

Selain itu, lingkungan tempat tinggal juga harus memberikan dukungan moral, agar anak dapat beraktifitas kembali seperti biasa.

“Intinya jangan ditanya-tanya kejadian yang dulu. Itu akan membuat anak ingat dan tertekan lagi. Kalau misalnya ada yang datang, entah kerabat atau tetangga, cukup bicarakan hal yang lain saja. Jangan bicarakan masalah yang menimpa si anak ini,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, polisi menangkap 10 orang yang diduga terlibat dalam aksi persetubuhan yang menimpa KMW, 12, pelajar asal Kecamatan Buleleng.

Mereka adalah Kadek Arya Gunawan alias Berit, Putu Rudi Ariawan alias Rudi, Gede Putra Ariawan alias Wawan, serta tujuh orang lainnya yang masih di bawah umur. Pelaku di bawah umur berinisial KD yang mengaku sebagai pacar korban, KJ, T, GP, GA, E, dan S.

Seluruh pelaku akan tetap menjalani proses pemeriksaan dan pemberkasan sebagaimana proses pro justitia.

Khusus para pelaku di bawah umur, nantinya akan menjalani proses diversi di pengadilan. 



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/