alexametrics
27.6 C
Denpasar
Wednesday, July 6, 2022

Sudah Tahan 3 Pemalsu PCR, Penumpang Pesawat Tidak Wajib PCR Lagi

DENPASAR – Kebijakan wajib PCR bagi penumpang pesawat di Jawa-Bali akhirnya akan direvisi lagi. Pemerintah baru saja merevisi aturan itu, sehingga hasil tes antigen akan diperbolehkan bagi penumpang pesawat.

 

Padahal, ketentuan wajib PCR ini baru saja memakan tiga orang penumpang pesawat yang dijebloskan ke sel tahanan. Itu karena calon penumpang pesawat yang akan berangkat dari Bandara Ngurah Rai nekat membuat PCR palsu dari hasil tes antigen.

 

Keputusan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam jumpa pers evaluasi mingguan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam jumpa pers virtual, Senin (1/11).

 

“Untuk perjalanan ada perubahan yaitu untuk wilayah Jawa dan Bali, perjalanan udara tidak lagi mengharuskan tes PCR tetapi cukup tes Antigen,” kata Muhadjir, sebagaimana dilansir jawapos.com.

 

Keputusan baru dari pemerintah ini direspons Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Pihak Kemenhub masih menunggu penetapan Surat Edaran (SE) Satgas dan Intruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri).

 

“Untuk implementasinya kami masih menunggu penetapan melalui Inmendagri dan SE Satgas seperti yang jadi rujukan kami dalam menyusun ketentuan syarat perjalanan dalam negeri,” ujar Juri Bicara Menteri Perhubungan Adita Irawati.

 

Hingga saat ini belum ada dasar hukum yang diterbitkan oleh pemerintah mengenai perubahan yang disampaikan oleh Muhadjir.

 

Seperti diketahui, aturan wajib PCR bagi penumpang pesawat penerbangan domestik di wilayah Jawa-Bali (PPKM Level 1-4) dan luar Jawa-Bali (PPKM Level 4-3) sudah berlaku sejak 24 Oktober 2021

 

Aturan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Satgas No. 21 tahun 2021, Instruksi Menteri Dalam Negeri (InMendagri) No. 53 dan No. 54 Tahun 2021 dan 4 SE dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) No. 86, 87, 88 dan 89 Tahun 2021.

 

Di sisi lain, kebijakan wajib PCR membuat orang nekat mencoba mengelabuhi aturan ini. Seperti terungkap dari hasil tangkapan Polresta Denpasar terhadap tiga calon penumpang di Bandara Ngurah Rai.

 

Tiga calon penumpang itu adalah Anggie Chaerunnisa Azhari, 26, Muhammad Firdaus, 25, dan Lutfi Lanisya, asal Cibodas, Ciamis, Jawa Barat.

 

Kapolresta Denpasar Kombes Jansen Avitus Panjaitan menyebut penangkapan Anggie dan Firdaus berlangsung terminal keberangkatan Bandara Ngurah Rai, Jumat (29/10) sekitar pukul 22.30. Keduanya

 

“Kedua tersangka hendak berangkat menuju Jakarta,” ujar Kapolresta  Jansen, Senin (1/11) di lobby Mako Polresta Denpasar.

 

Kata dia, sebelum menuju pesawat, keduanya menjalani pengecekan hasil PCR melalui scan barcode di counter validasi KKP keberangkatan domestik Bandara Ngurah Rai. Hasil interogasi, kedua tersangka membawa hasil PCR palsu yang ternyata hasil editan dari hasil tes antigen asli.

 

“Modus pemalsuan itu dengan cara mengedit surat antigen menjadi PCR,” ungkap Jansen.

 

Sedangkan satu pelaku lagi adalah Lutfi Lanisya yang ditangkap Minggu (31/10) sekitar pukul 08.00. Perempuan asal Dusun Cibodas, Ciamis, Jawa Barat itu juga diduga mengedit surat hasil tes antigen menjadi PCR.

 

Tersangka sebelum berangkat ke Jakarta membeli tiket pesawat seharga Rp 1.022.369 untuk jadwal penerbangan, Minggu (31/10) pukul 09.10. Kemudian, ia melakukan tes antigen di RS Siloam. Ia pun memfoto dan mengedit surat antigen menjadi PCR melalui handphone, kemudian di-print. Namun, upaya itu gagal saat dilakukan validasi oleh petugas KKP.

Ketiga tersangka pemalsuan PCR ini pun ditahan di Mapolresta Denpasar. Atas aksinya, ketiga pelaku dikenai Pasal 263 ayat 1 dan 2 KUHP dan atau Pasal 268 ayat 2 KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama 6  hingga 12 tahun penjara.



DENPASAR – Kebijakan wajib PCR bagi penumpang pesawat di Jawa-Bali akhirnya akan direvisi lagi. Pemerintah baru saja merevisi aturan itu, sehingga hasil tes antigen akan diperbolehkan bagi penumpang pesawat.

 

Padahal, ketentuan wajib PCR ini baru saja memakan tiga orang penumpang pesawat yang dijebloskan ke sel tahanan. Itu karena calon penumpang pesawat yang akan berangkat dari Bandara Ngurah Rai nekat membuat PCR palsu dari hasil tes antigen.

 

Keputusan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam jumpa pers evaluasi mingguan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam jumpa pers virtual, Senin (1/11).

 

“Untuk perjalanan ada perubahan yaitu untuk wilayah Jawa dan Bali, perjalanan udara tidak lagi mengharuskan tes PCR tetapi cukup tes Antigen,” kata Muhadjir, sebagaimana dilansir jawapos.com.

 

Keputusan baru dari pemerintah ini direspons Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Pihak Kemenhub masih menunggu penetapan Surat Edaran (SE) Satgas dan Intruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri).

 

“Untuk implementasinya kami masih menunggu penetapan melalui Inmendagri dan SE Satgas seperti yang jadi rujukan kami dalam menyusun ketentuan syarat perjalanan dalam negeri,” ujar Juri Bicara Menteri Perhubungan Adita Irawati.

 

Hingga saat ini belum ada dasar hukum yang diterbitkan oleh pemerintah mengenai perubahan yang disampaikan oleh Muhadjir.

 

Seperti diketahui, aturan wajib PCR bagi penumpang pesawat penerbangan domestik di wilayah Jawa-Bali (PPKM Level 1-4) dan luar Jawa-Bali (PPKM Level 4-3) sudah berlaku sejak 24 Oktober 2021

 

Aturan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Satgas No. 21 tahun 2021, Instruksi Menteri Dalam Negeri (InMendagri) No. 53 dan No. 54 Tahun 2021 dan 4 SE dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) No. 86, 87, 88 dan 89 Tahun 2021.

 

Di sisi lain, kebijakan wajib PCR membuat orang nekat mencoba mengelabuhi aturan ini. Seperti terungkap dari hasil tangkapan Polresta Denpasar terhadap tiga calon penumpang di Bandara Ngurah Rai.

 

Tiga calon penumpang itu adalah Anggie Chaerunnisa Azhari, 26, Muhammad Firdaus, 25, dan Lutfi Lanisya, asal Cibodas, Ciamis, Jawa Barat.

 

Kapolresta Denpasar Kombes Jansen Avitus Panjaitan menyebut penangkapan Anggie dan Firdaus berlangsung terminal keberangkatan Bandara Ngurah Rai, Jumat (29/10) sekitar pukul 22.30. Keduanya

 

“Kedua tersangka hendak berangkat menuju Jakarta,” ujar Kapolresta  Jansen, Senin (1/11) di lobby Mako Polresta Denpasar.

 

Kata dia, sebelum menuju pesawat, keduanya menjalani pengecekan hasil PCR melalui scan barcode di counter validasi KKP keberangkatan domestik Bandara Ngurah Rai. Hasil interogasi, kedua tersangka membawa hasil PCR palsu yang ternyata hasil editan dari hasil tes antigen asli.

 

“Modus pemalsuan itu dengan cara mengedit surat antigen menjadi PCR,” ungkap Jansen.

 

Sedangkan satu pelaku lagi adalah Lutfi Lanisya yang ditangkap Minggu (31/10) sekitar pukul 08.00. Perempuan asal Dusun Cibodas, Ciamis, Jawa Barat itu juga diduga mengedit surat hasil tes antigen menjadi PCR.

 

Tersangka sebelum berangkat ke Jakarta membeli tiket pesawat seharga Rp 1.022.369 untuk jadwal penerbangan, Minggu (31/10) pukul 09.10. Kemudian, ia melakukan tes antigen di RS Siloam. Ia pun memfoto dan mengedit surat antigen menjadi PCR melalui handphone, kemudian di-print. Namun, upaya itu gagal saat dilakukan validasi oleh petugas KKP.

Ketiga tersangka pemalsuan PCR ini pun ditahan di Mapolresta Denpasar. Atas aksinya, ketiga pelaku dikenai Pasal 263 ayat 1 dan 2 KUHP dan atau Pasal 268 ayat 2 KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama 6  hingga 12 tahun penjara.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/