alexametrics
25.4 C
Denpasar
Wednesday, August 10, 2022

Sebelum Tewas, Paginya Korban Sempat Titip Dagangan ke Kontrakan Suami

Kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Warung Jawa ‘Barokah’ di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai No.438, Sanur, Denpasar Selatan, Selasa malam (2/2) benar-benar  menghebohkan warga.

 

Tak hanya membuat geger, kematian tragis Sri Widayu, 49, juga menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

 

Apalagi, korban ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di warungnya.

 

Wanita asal Banyuwangi, Jawa Timur ini ditemukan meregang nyawa dengan posisi tubuh terlentang dengan kepala pecah akibat dihantam tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram.

 

Lalu siapa sebenarnya Sri Widayu, pedagang kripik yang dibunuh secara sadis ini?

 

 

ANDRE SULA, Denpasar

 

 

SUASANA di area parkir kamar jenazah RSUP Sanglah Denpasar, Rabu siang (3/2) terlihat tak begitu cerah.

 

Gumpalan mendung di langit-langit awan seperti menandakan akan turun hujan.

 

Bahkan, suasana mendung itu makin terasa suram saat Jawa Pos Radar Bali berkunjung ke kamar jenazah RSUP Sanglah Denpasar.

 

Aura sedih juga terpancar dari sorot kerumunan beberapa pelayat yang ketika itu duduk di emperan kamar jenazah.

Baca Juga:  PHRI di Bali Berharap Kecipratan Kue MotoGP Mandalika Lombok

 

Diantara kerumunan, Koran ini menghampiri seorang pria paruh baya. Dia adalah Suwarno, 56, suami mendiang Sri Widayu.

 

Suwarno duduk bersebelahan dengan Eko Agus Wahyudi alias Yudi, 27, anak pertamanya.

 

Sesekali, tampak Suwarno dan anaknya mengusap air mata. Helaan nafas juga tak henti terdengar saat keduanya berbincang dengan wartawan Koran ini.

“Memang berat, tapi harus mengihklaskan,”ujar Suwarno dan anaknya berkali-kali mencoba saling menguatkan hati atas meninggalnya Sri Widayu istrinya.

 

Saat ditanya terkait kematian korban secara tragis, Suwarno dan anaknya Yudi mengaku sangat terkejut dan seperti belum percaya.

  

Apalagi, menurut Suwarno, sebelum tewas, mendiang istrinya sempat datang ke kontrakannya, pada Selasa pagi (2/2) sekitar Pukul 10.00 WITA di kawasan Tanjung, Bypass I Gusti Ngurah Rai, Sanur mengantar dagangan

 

“Dia (Mendiang Sri Widayu) menitipkan gorengan ke saya untuk dijual. Setiap hari dia datang dan menitipkan kripik, molen, dan gorengan pisang ke saya,”ujar Suwarno yang mengaku bekerja sebagai penjual nasi jinggo keliling ini.

Baca Juga:  Miris Banyak Kasus Buang Orok Tak Terungkap, KPPAD Bali Kecam Keras

 

Bahkan meski mengaku sudah pisah ranjang dengan mendiang, namun hubungan antara dirinya dengan korban diakui sangat baik.

 

“Ya dia sangat baik, rajin, dan pekerja keras,”ujar Suwarno.

 

Sementara itu, Yudi menambahkan, meski ayah dan ibu sudah pisah ranjang, komunikasi tidak pernah putus.

 

Bahkan, ayahnya (Suwarno) kerap datang ke rumah kontrakan korban (TKP) untuk membantu sang ibu begitu juga sebaliknya.

“Ibu usaha jualan keripik pisang dan bapak jualan nasi jinggo keliling. Saya sering main ke kontrakan ibu, bantuin ibu buat keripik pisang. Hampir setiap hari kami berkomunikasi,” beber Yudi.

 

Selain itu, Yudi juga mengaku, bahwa selama ini ibunya tidak pernah cerita apa-apa ke dirinya maupun ayahnya, termasuk masalah pribadi.

“Selama ini baik-baik saja, temannya banyak. Tapi kok sampai begitu saya juga tidak mengerti,” kata Yudi.



Kasus pembunuhan sadis yang terjadi di Warung Jawa ‘Barokah’ di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai No.438, Sanur, Denpasar Selatan, Selasa malam (2/2) benar-benar  menghebohkan warga.

 

Tak hanya membuat geger, kematian tragis Sri Widayu, 49, juga menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

 

Apalagi, korban ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan di warungnya.

 

Wanita asal Banyuwangi, Jawa Timur ini ditemukan meregang nyawa dengan posisi tubuh terlentang dengan kepala pecah akibat dihantam tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram.

 

Lalu siapa sebenarnya Sri Widayu, pedagang kripik yang dibunuh secara sadis ini?

 

 

ANDRE SULA, Denpasar

 

 

SUASANA di area parkir kamar jenazah RSUP Sanglah Denpasar, Rabu siang (3/2) terlihat tak begitu cerah.

 

Gumpalan mendung di langit-langit awan seperti menandakan akan turun hujan.

 

Bahkan, suasana mendung itu makin terasa suram saat Jawa Pos Radar Bali berkunjung ke kamar jenazah RSUP Sanglah Denpasar.

 

Aura sedih juga terpancar dari sorot kerumunan beberapa pelayat yang ketika itu duduk di emperan kamar jenazah.

Baca Juga:  Aneh! Istri Rifki Cahyadi Mendadak Tak Kooperatif dan Banyak Alasan

 

Diantara kerumunan, Koran ini menghampiri seorang pria paruh baya. Dia adalah Suwarno, 56, suami mendiang Sri Widayu.

 

Suwarno duduk bersebelahan dengan Eko Agus Wahyudi alias Yudi, 27, anak pertamanya.

 

Sesekali, tampak Suwarno dan anaknya mengusap air mata. Helaan nafas juga tak henti terdengar saat keduanya berbincang dengan wartawan Koran ini.

“Memang berat, tapi harus mengihklaskan,”ujar Suwarno dan anaknya berkali-kali mencoba saling menguatkan hati atas meninggalnya Sri Widayu istrinya.

 

Saat ditanya terkait kematian korban secara tragis, Suwarno dan anaknya Yudi mengaku sangat terkejut dan seperti belum percaya.

  

Apalagi, menurut Suwarno, sebelum tewas, mendiang istrinya sempat datang ke kontrakannya, pada Selasa pagi (2/2) sekitar Pukul 10.00 WITA di kawasan Tanjung, Bypass I Gusti Ngurah Rai, Sanur mengantar dagangan

 

“Dia (Mendiang Sri Widayu) menitipkan gorengan ke saya untuk dijual. Setiap hari dia datang dan menitipkan kripik, molen, dan gorengan pisang ke saya,”ujar Suwarno yang mengaku bekerja sebagai penjual nasi jinggo keliling ini.

Baca Juga:  Mayat Membusuk di Perum Nuansa Ratna itu Ditemukan Dalam Posisi Sujud

 

Bahkan meski mengaku sudah pisah ranjang dengan mendiang, namun hubungan antara dirinya dengan korban diakui sangat baik.

 

“Ya dia sangat baik, rajin, dan pekerja keras,”ujar Suwarno.

 

Sementara itu, Yudi menambahkan, meski ayah dan ibu sudah pisah ranjang, komunikasi tidak pernah putus.

 

Bahkan, ayahnya (Suwarno) kerap datang ke rumah kontrakan korban (TKP) untuk membantu sang ibu begitu juga sebaliknya.

“Ibu usaha jualan keripik pisang dan bapak jualan nasi jinggo keliling. Saya sering main ke kontrakan ibu, bantuin ibu buat keripik pisang. Hampir setiap hari kami berkomunikasi,” beber Yudi.

 

Selain itu, Yudi juga mengaku, bahwa selama ini ibunya tidak pernah cerita apa-apa ke dirinya maupun ayahnya, termasuk masalah pribadi.

“Selama ini baik-baik saja, temannya banyak. Tapi kok sampai begitu saya juga tidak mengerti,” kata Yudi.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/