alexametrics
25.4 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Cabuli Pelajar SMP dengan Janji Dinikahi, Mahasiswa Diganjar 7 Tahun

DENPASAR – Sidang kasus pencabulan anak di bawah umur dengan terdakwa I Kadek Agus Suarnata Putra alias Dek Kaduk, 23, memasuki babak akhir.

Mahasiswa semester akhir di salah satu kampus ternama di Kota Denpasar itu sering menutupi sebagian wajahnya selama hakim membacakan amar putusan.

Dalam posisi tertunduk, Agus sesekali memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Dukungan dari belasan pemuda tanggung yang merupakan teman Agus seperti tidak memberikan pengaruh apapun.

Selain didukung kawan-kawannya, Agus juga didampingi empat pengacara yakni Benny Hariyono dkk.

Sikap Agus yang terus menunduk dan menutup wajahnya sempat membuat sewot salah seorang pengunjung sidang.

“Ngapain baru sekarang menunduk. Lihat hakimnya,” cetus salah seorang pengunjung sidang dari pintu samping ruang sidang.

Sementara dalam amar putusannya, majelis hakim yang terdiri dari Ida Ayu Adnya Dewi (hakim ketua), I Made Pasek (hakim anggota), dan IG Partha Barghawa (hakim anggota),

menyatakan Agus terbukti bersalah menyetubuhi anak perempuan berinisial KP yang masih berusia 15 tahun. KP sendiri masih duduk di bangku kelas IX atau kelas 3 SMP.

“Menjatuhkan pidana penjara selama 7 tahun terhadap terdakwa I Kadek Agus Suarnata Putra alias Dek Kaduk,” ujar hakim Adnya Dewi di PN Denpasar, kemarin (2/7).

Seketika putusan hakim itu langsung membuat Agus pucat. Dia berusaha tenang dengan kembali menarik napas panjang.

Selain pidana badan, hakim senior itu juga menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 5 juta. Apabila tidak bisa membayar diganti dengan pidana penjara selama tiga bulan. H

Baca Juga:  NGERI! Duel Sesama Pemuda Sumba Subuh-subuh, Satu Korban Tewas

akim tidak menemukan alasan pemaaf bagi terdakwa. Perbuatan terdakwa memenuhi unsur pidana yang ada dalam Pasal 81 ayat (2) juncto Pasal 81 ayat (1) UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak, sebagaimana dakwaan kedua JPU.

Sementara dalam pertimbangan meringankan, hakim menilai terdakwa bersikap sopan dan masih berusia muda.

Sedangkan pertimbangan memberatkan, yakni perbuatan terdakwa bertentangan dengan moral, etika, dan norma agama yang berlaku di masyarakat.

“Perbuatan terdakwa telah merusak masa depan saksi korban yang masih berusia di bawah umur,” tegas hakim Adnya Dewi.

Hakim kemudian bertanya pada terdakwa, apakah mau menerima atau banding ke Pengadilan Tinggi atas putusan hakim. Terdakwa yang diwakili penasihat hukumnya mengaku menerima.

“Setelah berdiskusi, kami menerima, Yang Mulia,” ujar Benny. Pernyataan senada dilontarkan JPU Purwanti yang menyatakan menerima putusan.

Putusan hakim ini lebih ringan tiga tahun dari tuntutan JPU Purwanti yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 10 tahun dan denda Rp 5 juta subsider 3 bulan penjara.

Untuk diketahui, terdakwa melakukan perbuatan jahanamnya bermula pada 25 November 2018. Saat itu terdakwa berkenalan dengan korban yang berinisial KP yang masih duduk di bangku SMP Kelas IX melalui media sosial Instagram.

Korban dengan polosnya memberikan nomor WhatsApp (WA) kepada terdakwa. Sekitar beberapa menit kemudian melalui WA mengungkapkan rasa cintanya terhadap anak korban.

“Kamu mau nggak jadi pacar aku?” tanya terdakwa pada korban, sebagaimana tertuang dalam dakwaan JPU.

Baca Juga:  Asal-Usul Penggelapan Rp40 M yang Menjerat Tiga Pejabat Pelindo III

Setelah itu anak korban menjawab mau menjadi pacar terdakwa. Mulai saat itu terdakwa pun menjalin asmara dengan korban.

Keduanya sering berkomunikasi melalui telepon. Pada 26 November 2018, ketika terdakwa jatuh dari motor,  korban bersama temannya sempat

menjengguk terdakwa di rumahnya yang beralamat di Jalan Raya Semer Gang Tunjung Mekar,  Kerobokan,  Kuta Utara, Badung. 

Setelah pertemuan itu,  korban yang sudah merasa jadi pacar meminta terdakwa untuk menikahinya dengan alasan tidak tahan hidup di rumah karena sering dimarahi ibu dan bapaknya yang galak.

Permintaan korban itu dijawab terdakwa dengan janji akan menikahinya 3 tahun lagi. Lalu,  pada 27 November 2018, korban kembali mendatangi rumah terdakwa.

Setiba di rumah,  terdakwa pun langsung mengajak korban bersetubuh. Korban yang sudah dijanjikan akan dinikahin pun hanya bisa menurut dengan permintaan terdakwa. 

Setelah itu, terdakwa pun semakin sering mengajak korban untuk berhubungan badan. Bahkan terdakwa berani menjemput korban di rumahnya demi memuaskan  nafsu bejatnya. 

Bahkan, terdakwa tidak menghentikan perbuatannya terhadap anak korban meskipun terdakwa sudah diperingantkan oleh ayah anak korban agar tidak berpacaran dengan anak korban yang masih sekolah. Namun terdakwa tidak memedulikan peringatan dan pesan ayah anak korban tersebut.

Terakhir terdakwa melakukan menyetubuhi korban pada 17 Desember 2018. Tidak terima anaknya disetubuhi, orang tua korban melapor polisi. 



DENPASAR – Sidang kasus pencabulan anak di bawah umur dengan terdakwa I Kadek Agus Suarnata Putra alias Dek Kaduk, 23, memasuki babak akhir.

Mahasiswa semester akhir di salah satu kampus ternama di Kota Denpasar itu sering menutupi sebagian wajahnya selama hakim membacakan amar putusan.

Dalam posisi tertunduk, Agus sesekali memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Dukungan dari belasan pemuda tanggung yang merupakan teman Agus seperti tidak memberikan pengaruh apapun.

Selain didukung kawan-kawannya, Agus juga didampingi empat pengacara yakni Benny Hariyono dkk.

Sikap Agus yang terus menunduk dan menutup wajahnya sempat membuat sewot salah seorang pengunjung sidang.

“Ngapain baru sekarang menunduk. Lihat hakimnya,” cetus salah seorang pengunjung sidang dari pintu samping ruang sidang.

Sementara dalam amar putusannya, majelis hakim yang terdiri dari Ida Ayu Adnya Dewi (hakim ketua), I Made Pasek (hakim anggota), dan IG Partha Barghawa (hakim anggota),

menyatakan Agus terbukti bersalah menyetubuhi anak perempuan berinisial KP yang masih berusia 15 tahun. KP sendiri masih duduk di bangku kelas IX atau kelas 3 SMP.

“Menjatuhkan pidana penjara selama 7 tahun terhadap terdakwa I Kadek Agus Suarnata Putra alias Dek Kaduk,” ujar hakim Adnya Dewi di PN Denpasar, kemarin (2/7).

Seketika putusan hakim itu langsung membuat Agus pucat. Dia berusaha tenang dengan kembali menarik napas panjang.

Selain pidana badan, hakim senior itu juga menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 5 juta. Apabila tidak bisa membayar diganti dengan pidana penjara selama tiga bulan. H

Baca Juga:  Baru Bebas Kembali Bikin Ulah, Residivis Narkoba Dituntut 17 Tahun Bui

akim tidak menemukan alasan pemaaf bagi terdakwa. Perbuatan terdakwa memenuhi unsur pidana yang ada dalam Pasal 81 ayat (2) juncto Pasal 81 ayat (1) UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak, sebagaimana dakwaan kedua JPU.

Sementara dalam pertimbangan meringankan, hakim menilai terdakwa bersikap sopan dan masih berusia muda.

Sedangkan pertimbangan memberatkan, yakni perbuatan terdakwa bertentangan dengan moral, etika, dan norma agama yang berlaku di masyarakat.

“Perbuatan terdakwa telah merusak masa depan saksi korban yang masih berusia di bawah umur,” tegas hakim Adnya Dewi.

Hakim kemudian bertanya pada terdakwa, apakah mau menerima atau banding ke Pengadilan Tinggi atas putusan hakim. Terdakwa yang diwakili penasihat hukumnya mengaku menerima.

“Setelah berdiskusi, kami menerima, Yang Mulia,” ujar Benny. Pernyataan senada dilontarkan JPU Purwanti yang menyatakan menerima putusan.

Putusan hakim ini lebih ringan tiga tahun dari tuntutan JPU Purwanti yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 10 tahun dan denda Rp 5 juta subsider 3 bulan penjara.

Untuk diketahui, terdakwa melakukan perbuatan jahanamnya bermula pada 25 November 2018. Saat itu terdakwa berkenalan dengan korban yang berinisial KP yang masih duduk di bangku SMP Kelas IX melalui media sosial Instagram.

Korban dengan polosnya memberikan nomor WhatsApp (WA) kepada terdakwa. Sekitar beberapa menit kemudian melalui WA mengungkapkan rasa cintanya terhadap anak korban.

“Kamu mau nggak jadi pacar aku?” tanya terdakwa pada korban, sebagaimana tertuang dalam dakwaan JPU.

Baca Juga:  NGERI! Duel Sesama Pemuda Sumba Subuh-subuh, Satu Korban Tewas

Setelah itu anak korban menjawab mau menjadi pacar terdakwa. Mulai saat itu terdakwa pun menjalin asmara dengan korban.

Keduanya sering berkomunikasi melalui telepon. Pada 26 November 2018, ketika terdakwa jatuh dari motor,  korban bersama temannya sempat

menjengguk terdakwa di rumahnya yang beralamat di Jalan Raya Semer Gang Tunjung Mekar,  Kerobokan,  Kuta Utara, Badung. 

Setelah pertemuan itu,  korban yang sudah merasa jadi pacar meminta terdakwa untuk menikahinya dengan alasan tidak tahan hidup di rumah karena sering dimarahi ibu dan bapaknya yang galak.

Permintaan korban itu dijawab terdakwa dengan janji akan menikahinya 3 tahun lagi. Lalu,  pada 27 November 2018, korban kembali mendatangi rumah terdakwa.

Setiba di rumah,  terdakwa pun langsung mengajak korban bersetubuh. Korban yang sudah dijanjikan akan dinikahin pun hanya bisa menurut dengan permintaan terdakwa. 

Setelah itu, terdakwa pun semakin sering mengajak korban untuk berhubungan badan. Bahkan terdakwa berani menjemput korban di rumahnya demi memuaskan  nafsu bejatnya. 

Bahkan, terdakwa tidak menghentikan perbuatannya terhadap anak korban meskipun terdakwa sudah diperingantkan oleh ayah anak korban agar tidak berpacaran dengan anak korban yang masih sekolah. Namun terdakwa tidak memedulikan peringatan dan pesan ayah anak korban tersebut.

Terakhir terdakwa melakukan menyetubuhi korban pada 17 Desember 2018. Tidak terima anaknya disetubuhi, orang tua korban melapor polisi. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/