alexametrics
29.8 C
Denpasar
Friday, May 27, 2022

Penggugat Sebut itu Tanah Warisan Kakek, Ngaku Punya Bukti Kepemilikan

GIANYAR – Sengketa tanah di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati kembali ramai di PN Gianyar, Kamis (2/8). Perkara ini sebetulnya belum sampai pada tahap persidangan, melainkan masih tahap mediasi antarpihak yang beperkara.

 

Untuk menengahi mediasi ini, belum ada majelis hakim. Proses mediasi ini ditengahi mediator dari PN Gianyar.

 

Juru bicara PN Gianyar, Ida Bagus Ari Suamba, menyatakan kedua pihak sepakat dilakukan mediasi. Yaknii baik penggugat maupun tergugat dari Dinas Pendidikan; Desa Adat dan Desa Dinas sepakat mediasi.

 

“Dalam lima hari kerja menyiapkan resume. Berkaitan tawaran perdamaian,” ujar Ari Suamba, usai memediasi, kemarin. 

 

Kata Ari, mediasi kemarin sudah ada itikad baik.

 

“Kedua pihak hadir. Untuk isi materi mediasi, tidak bisa diungkapkan. Majelis tidak boleh mengetahui, pihak luar juga tidak boleh mengetahui. Adanya itikad baik mudah-mudahan bisa diselesaikan dengan perdamaian pada mediasi Kamis depan,” pintanya.

 

Dengan mediasi, kata Ari Suamba, gugatan tanah seluas 6100 M2 yang dia atasnya berdiri SD, Kantor Perbekel, dan Pasar Desa, belum berjalan.

 

“Ini proses berusaha secara damai. Ini proses terbaik kalau bisa diselesaikan secara damai. Perkara selesai tidak perlu diselesaikan sampai Pengadilan Tinggi maupun Mahkamah Agung,” jelasnya.

Baca Juga:  Maling Perhiasan Emas Untuk Judi Jangkrik, Residivis Ditangkap Lagi

 

Terkait mediasi, lanjut dia, masing-masing pihak punya kemauan.

 

“Tugas mediator menurunkan ekspetasi masing-masing pihak. Mudah-mudahan mencapai titik temu. Kalau damai, aman. Mediasi selanjutnya kalau tidak mencapai titik temu, proses sidang masih berlanjut,” terangnya.

 

Penggugat Ketut Gede Dharma Putra, menyatakan dari awal, dirinya ingin berdamai.

 

“Gak ada ke ranah hukum. Makanya disini ada mediasi. Sama-sama mau, maunya apa. Kami di pihak, wajar menggugat. Menemukan titik temu yang baik,” ujarnya.

 

Untuk bukti kepemilikan tanah seluas 6.100 meter persegi pihaknya akan memperlihatkan di sidang.

 

“Yang jelas, yang dikatakan kami ingin damai. Ini punya leluhur kami. Kenapa tanah kami di situ, berarti kan ada hubungan yang baik leluhur tiyang dengan Desa Guwang,” ujar pria asal Desa Celuk, Kecamatan Sukawati itu.

 

Didampingi kuasa hukum, dirinya mengaku sudah sejak lama memperjuangkan tanah atas nama almarhum kakeknya, I Ketut Bawa.

 

“Sebenarnya sudah dari dulu, dari ibu tiyang, cuma kasusnya dipending. Sampai ibu tiyang meninggal. Karena sekarang satu-satunya cowok, saya meneruskan,x terangnya. . 

 

Sementara itu, Bendesa Adat Guwang, Ketut Karben Wardana, menyatakan mediasi hari ini penyerahan resume ke hakim mediator.

Baca Juga:  Kulkas Terbakar, Bangunan dan Perabot Dapur Rumah Ludes Tak Tersisa

 

“Akan ada mediasi ketiga, untuk tanggapan masing-masing prinsipal,” ujarnya.

 

Diakui, sidang kemarin, tidak ada dialog. “Minggu depan ada dialog dengan penggugat. Sekarang karena resume, hadir terpisah,” jelasnya.

 

Mengenai kedatangan warga Bendesa mengaku spontanitas.

 

“Apapun yang kami lakukan memang minta dukungan doa dan moril, berjuang untuk tanah warisan kita,” ujarnya. Dari pihak desa tidak ada mengkondisikan kehadiran masa. “Tapi kami setiap sidang wajib beritahu, kalau datang tanpa pemberitahuan. Kami mau terbuka dengan masyarakat,” pungkasnya.

 

Juru bicara PN Gianyar, Ida Bagus Ari Suamba disinggung soal kehadiran masa, pihak PN sejak mediasi pertama, sudah disampaikan imbauan.

 

“Kami sudah koordinasi dengan kepolisian. Imbauan sudah disampaikan ke tokoh Guwang, jangan sampai terjadi pelanggaran prokes. Kami serahkan ke kepolisian dan Satgas Covid-19,” pungkasnya.

 

Usai mediasi yang berlangsung pukul 10.00 hingga pukul 11.30, Bendesa dan perbekel Guwang turun dari gedung PN. Massa yang tidak diizinkan masuk halaman PN pun teriak dari luar gedung.

 

“Guwang bersatu tak bisa dikalahkan,” teriak masa menyambut Bendesa dan Perbekel. Masa pun bubar.


GIANYAR – Sengketa tanah di Desa Guwang, Kecamatan Sukawati kembali ramai di PN Gianyar, Kamis (2/8). Perkara ini sebetulnya belum sampai pada tahap persidangan, melainkan masih tahap mediasi antarpihak yang beperkara.

 

Untuk menengahi mediasi ini, belum ada majelis hakim. Proses mediasi ini ditengahi mediator dari PN Gianyar.

 

Juru bicara PN Gianyar, Ida Bagus Ari Suamba, menyatakan kedua pihak sepakat dilakukan mediasi. Yaknii baik penggugat maupun tergugat dari Dinas Pendidikan; Desa Adat dan Desa Dinas sepakat mediasi.

 

“Dalam lima hari kerja menyiapkan resume. Berkaitan tawaran perdamaian,” ujar Ari Suamba, usai memediasi, kemarin. 

 

Kata Ari, mediasi kemarin sudah ada itikad baik.

 

“Kedua pihak hadir. Untuk isi materi mediasi, tidak bisa diungkapkan. Majelis tidak boleh mengetahui, pihak luar juga tidak boleh mengetahui. Adanya itikad baik mudah-mudahan bisa diselesaikan dengan perdamaian pada mediasi Kamis depan,” pintanya.

 

Dengan mediasi, kata Ari Suamba, gugatan tanah seluas 6100 M2 yang dia atasnya berdiri SD, Kantor Perbekel, dan Pasar Desa, belum berjalan.

 

“Ini proses berusaha secara damai. Ini proses terbaik kalau bisa diselesaikan secara damai. Perkara selesai tidak perlu diselesaikan sampai Pengadilan Tinggi maupun Mahkamah Agung,” jelasnya.

Baca Juga:  Maling Perhiasan Emas Untuk Judi Jangkrik, Residivis Ditangkap Lagi

 

Terkait mediasi, lanjut dia, masing-masing pihak punya kemauan.

 

“Tugas mediator menurunkan ekspetasi masing-masing pihak. Mudah-mudahan mencapai titik temu. Kalau damai, aman. Mediasi selanjutnya kalau tidak mencapai titik temu, proses sidang masih berlanjut,” terangnya.

 

Penggugat Ketut Gede Dharma Putra, menyatakan dari awal, dirinya ingin berdamai.

 

“Gak ada ke ranah hukum. Makanya disini ada mediasi. Sama-sama mau, maunya apa. Kami di pihak, wajar menggugat. Menemukan titik temu yang baik,” ujarnya.

 

Untuk bukti kepemilikan tanah seluas 6.100 meter persegi pihaknya akan memperlihatkan di sidang.

 

“Yang jelas, yang dikatakan kami ingin damai. Ini punya leluhur kami. Kenapa tanah kami di situ, berarti kan ada hubungan yang baik leluhur tiyang dengan Desa Guwang,” ujar pria asal Desa Celuk, Kecamatan Sukawati itu.

 

Didampingi kuasa hukum, dirinya mengaku sudah sejak lama memperjuangkan tanah atas nama almarhum kakeknya, I Ketut Bawa.

 

“Sebenarnya sudah dari dulu, dari ibu tiyang, cuma kasusnya dipending. Sampai ibu tiyang meninggal. Karena sekarang satu-satunya cowok, saya meneruskan,x terangnya. . 

 

Sementara itu, Bendesa Adat Guwang, Ketut Karben Wardana, menyatakan mediasi hari ini penyerahan resume ke hakim mediator.

Baca Juga:  Ayah Bejat Perkosa Anak Sendiri Akhirnya Ditahan di Polres Buleleng

 

“Akan ada mediasi ketiga, untuk tanggapan masing-masing prinsipal,” ujarnya.

 

Diakui, sidang kemarin, tidak ada dialog. “Minggu depan ada dialog dengan penggugat. Sekarang karena resume, hadir terpisah,” jelasnya.

 

Mengenai kedatangan warga Bendesa mengaku spontanitas.

 

“Apapun yang kami lakukan memang minta dukungan doa dan moril, berjuang untuk tanah warisan kita,” ujarnya. Dari pihak desa tidak ada mengkondisikan kehadiran masa. “Tapi kami setiap sidang wajib beritahu, kalau datang tanpa pemberitahuan. Kami mau terbuka dengan masyarakat,” pungkasnya.

 

Juru bicara PN Gianyar, Ida Bagus Ari Suamba disinggung soal kehadiran masa, pihak PN sejak mediasi pertama, sudah disampaikan imbauan.

 

“Kami sudah koordinasi dengan kepolisian. Imbauan sudah disampaikan ke tokoh Guwang, jangan sampai terjadi pelanggaran prokes. Kami serahkan ke kepolisian dan Satgas Covid-19,” pungkasnya.

 

Usai mediasi yang berlangsung pukul 10.00 hingga pukul 11.30, Bendesa dan perbekel Guwang turun dari gedung PN. Massa yang tidak diizinkan masuk halaman PN pun teriak dari luar gedung.

 

“Guwang bersatu tak bisa dikalahkan,” teriak masa menyambut Bendesa dan Perbekel. Masa pun bubar.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/