alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Batal Banding, Terdakwa Minta Usut Keterlibatan Nasabah dan Atasan

DENPASAR, Radar Bali – Sempat pikir-pikir dengan vonis delapan tahun penjara yang dijatuhkan hakim pada sidang pekan lalu, Maidina Rizky Prasentari Putri alias Kiky, 35, akhirnya memilih menerima putusan hakim.

Eks Kepala Cabang Pembantu (KCP) Bank Mega Denpasar, Jalan Gatot Subroto, itu tidak mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Denpasar.

“Setelah koordinasi dengan terdakwa dan keluarga, kami memilih menerima putusan,” ujar Charlie Usfunan, pengacara terdakwa, kemarin (3/11).

Meski menerima vonis hakim, terdakwa bukan berarti pasrah. Charlie minta putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa dijadikan dasar penegak hukum untuk membongkar keterlibatan pihak lain.

Menurut Charlie, putusan hakim bisa dijadikan dasar untuk menjerat pihak lain karena terdapat Pasal 55 ayat (1) yang menyatakan perbuatan dilakukan secara bersama-sama. 

“Putusan terhadap terdakwa ini adalah putusan awal. Semoga penegak hukum mau dan berani membongkar kasus ini sampai tuntas,” tandas Charlie.

Ditanya siapa pihak terkait yang dimaksud, Charlie menyebut kasus ini seperti jaringan. Aparat bisa melanjutkan kasus ini dengan menelusuri keterlibatan nasabah.

Baca Juga:  Kuasai 40 Paket SS, Dituntut 11 Tahun, Pemuda Akah Klungkung Lemas
- Advertisement -

Ia menduga ada sejumlah nasabah yang uang depositnya sudah dikembalikan terdakwa, bahkan plus bunga, tapi masih mengajukan klaim uang hilang.

 Selain nasabah, ia juga meminta aparat mengusut atasan terdakwa yang diduga ikut bermain.

Dikatakan, jika benar simpanan nasabah raib akibat fraud atau kecurangan yang dilakukan karyawan atau pejabat bank, maka bank tak bisa menghindar dari tanggung jawab.

 

Hal itu sesuai konsep vicarious liability atau pertanggungjawaban seseorang atas kesalahan orang lain yang ada dalam ruang lingkup atau tanggung jawabnya.

Sesuai fungsi pengawasan perbankan oleh OJK sebagaimana diatur dalam UU RI Nomor 21/2011 tentang OJK.

 “Harus fair, sekalian bongkar semuanya. Jangan satu dua orang yang dikorbankan,” pungkasnya.

 Sementara itu, secara terpisah, JPU Ida Bagus Putu Swadharma Diputra saat dikonfirmasi enggan berkomentar. “Kami masih menunggu informasi resmi dari pengadilan,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, majelis hakim yang diketuai Putu Gde Novyartha menjatuhkan pidana delapan tahun penjara dan denda Rp15 miliar subsider lima bulan kurungan.

Baca Juga:  Tak Terima Dituduh Mencuri Bir, Waria Hajar Pria di Tempat Dugem

Dalam amar putusannya, hakim menyatakan terdakwa terbukti membobol dana deposito nasabah Rp62 miliar.

Rizky dinilai melanggar Pasal 3 juncto Pasal 10 UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Hukuman delapan tahun penjara tersebut lebih ringan satu tahun dari tuntutan JPU yang sebelumnya menuntut sembilan tahun penjara.

 Dalam dakwaan dijelaskan, terdakwa bersama terdakwa lainnya Putu Eka Priyana dan I Gede Surya Pratama Putra (berkas terpisah) telah memanipulasi data otentik.

Data yang dimanipluasi berupa data nomor HP milik nasabah di dalam sistem data base Bank Mega, dengan tujuan untuk memindahkan saldo rekening milik nasabah Bank Mega ke rekening penampung uang hasil kejahatan.

 Terdakwa Priyana diganjar lima tahun penjara dan denda Rp15 miliar subside tiga bulan penjara. Vonis serupa juga dijatuhkan untuk terdakwa Surya.

- Advertisement -

DENPASAR, Radar Bali – Sempat pikir-pikir dengan vonis delapan tahun penjara yang dijatuhkan hakim pada sidang pekan lalu, Maidina Rizky Prasentari Putri alias Kiky, 35, akhirnya memilih menerima putusan hakim.

Eks Kepala Cabang Pembantu (KCP) Bank Mega Denpasar, Jalan Gatot Subroto, itu tidak mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Denpasar.

“Setelah koordinasi dengan terdakwa dan keluarga, kami memilih menerima putusan,” ujar Charlie Usfunan, pengacara terdakwa, kemarin (3/11).

Meski menerima vonis hakim, terdakwa bukan berarti pasrah. Charlie minta putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa dijadikan dasar penegak hukum untuk membongkar keterlibatan pihak lain.

Menurut Charlie, putusan hakim bisa dijadikan dasar untuk menjerat pihak lain karena terdapat Pasal 55 ayat (1) yang menyatakan perbuatan dilakukan secara bersama-sama. 

“Putusan terhadap terdakwa ini adalah putusan awal. Semoga penegak hukum mau dan berani membongkar kasus ini sampai tuntas,” tandas Charlie.

Ditanya siapa pihak terkait yang dimaksud, Charlie menyebut kasus ini seperti jaringan. Aparat bisa melanjutkan kasus ini dengan menelusuri keterlibatan nasabah.

Baca Juga:  FAKTA BARU! Polisi Temukan Tiga Foto Bugil Korban di HP Kasek Cabul

Ia menduga ada sejumlah nasabah yang uang depositnya sudah dikembalikan terdakwa, bahkan plus bunga, tapi masih mengajukan klaim uang hilang.

 Selain nasabah, ia juga meminta aparat mengusut atasan terdakwa yang diduga ikut bermain.

Dikatakan, jika benar simpanan nasabah raib akibat fraud atau kecurangan yang dilakukan karyawan atau pejabat bank, maka bank tak bisa menghindar dari tanggung jawab.

 

Hal itu sesuai konsep vicarious liability atau pertanggungjawaban seseorang atas kesalahan orang lain yang ada dalam ruang lingkup atau tanggung jawabnya.

Sesuai fungsi pengawasan perbankan oleh OJK sebagaimana diatur dalam UU RI Nomor 21/2011 tentang OJK.

 “Harus fair, sekalian bongkar semuanya. Jangan satu dua orang yang dikorbankan,” pungkasnya.

 Sementara itu, secara terpisah, JPU Ida Bagus Putu Swadharma Diputra saat dikonfirmasi enggan berkomentar. “Kami masih menunggu informasi resmi dari pengadilan,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, majelis hakim yang diketuai Putu Gde Novyartha menjatuhkan pidana delapan tahun penjara dan denda Rp15 miliar subsider lima bulan kurungan.

Baca Juga:  Rumah Dilelang Padahal Tak Punya Hutang, BPR Sedana dan BLBI Disomasi

Dalam amar putusannya, hakim menyatakan terdakwa terbukti membobol dana deposito nasabah Rp62 miliar.

Rizky dinilai melanggar Pasal 3 juncto Pasal 10 UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Hukuman delapan tahun penjara tersebut lebih ringan satu tahun dari tuntutan JPU yang sebelumnya menuntut sembilan tahun penjara.

 Dalam dakwaan dijelaskan, terdakwa bersama terdakwa lainnya Putu Eka Priyana dan I Gede Surya Pratama Putra (berkas terpisah) telah memanipulasi data otentik.

Data yang dimanipluasi berupa data nomor HP milik nasabah di dalam sistem data base Bank Mega, dengan tujuan untuk memindahkan saldo rekening milik nasabah Bank Mega ke rekening penampung uang hasil kejahatan.

 Terdakwa Priyana diganjar lima tahun penjara dan denda Rp15 miliar subside tiga bulan penjara. Vonis serupa juga dijatuhkan untuk terdakwa Surya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/