alexametrics
26.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Anggota Mata Elang Pengeroyok hingga De Budi Tewas Dituntut 4 Tahun

DENPASAR – Enam terdakwa kasus pengeroyokan hingga tewasnya Gede Budiarsana alias De Budi di Perumnas Monang-Maning dituntut 4 (empat) tahun penjara. Mereka adalah Benny Bakarbessy, 41, Jos Bus Likumahwa, 30, Fendy Kainama, 31, Gerson Pattiwaelapia, 33, I Gusti Bagus Christian Alevanto, 23, dan Dominggus Bakarbessy, 23.

 

Jaksa penuntut umum (JPU) Ida Bagus Putu Swadharma Diputra dalam sidang Kamis (3/2) menyatakan, terdakwa Benny dan kawan-kawan dinilai telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan terang-terang dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang. Perbuatan mereka melanggar Pasal 170 ayat (1) KUHP. 

 

Dibandingkan enam terdakwa lainnya, pelaku I Wayan Sadia, 39, anggota Mata Elang alias debt collector yang menebas korban Gede Budiarsana di Perumnas Munang-Maning beberapa waktu lalu mendapat tuntutan tertinggi. Sadia dituntut 14 tahun penjara oleh JPU Kejari Denpasar. 

 

“Terdakwa I Wayan Sadia telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHP,” ujar JPU Ida Bagus Putu Swadharma Diputra.

 

JPU memiliki pertimbangan mengajukan tuntutan 14 tahun penjara terhadap Sadia. Hal yang memberatkan yakni perbuatan Wayan Sadia dilakukan dengan kejam terhadap korbannya yang merupakan tulang punggung keluarga. 

 

“Terdakwa Wayan Sadia berupaya menutupi peran para terdakwa lain yang melakukan kekerasan terhadap Gede Budiarsana dan Ketut Widiada alias Jero Dolah,” papar JPU Swadharma.

 

Menanggapi tuntutan JPU, para terdakwa melalui masing-masing pengacaranya akan mengajukan pembelaan secara tertulis. Nota pembelaan akan dibacakan pada sidang pekan depan.

 

Dalam tuntutan itu dijelaskan bahwa salah satu korban peristiwa berdarah itu adalah Gede Budiarsana. De Budi meninggal dunia karena menderita luka bacok. 

 

Kejadian itu terjadi pada 23 Juli 2021 sekitar pukul 14.30, saat saksi Ketut Widiada alias Jero Dolah dan Gede Budiarsana mendatangi kantor PT Beta Mandiri Muti Solution (BMMS), di Jalan Gunung Patuha, Munang-Maning, Denpasar Barat.

 

Jero Dolah dan De Budi menanyakan sepeda motor Yamaha Lexi yang hendak ditarik karena menunggak pembayaran kredit selama satu tahun di Finance BAF.

 

Tak lama berselang terjadi ketegangan antara saksi dengan keenam terdakwa. Saat itu saksi Jero Dolah hendak merekam kejadian menggunakan hand phone (HP) miliknya. Tapi, terdakwa Jos Bus merampasnya.

 

Tidak terima HP-nya dirampas, korban Gede Budiarsana mendorong kening terdakwa Jos Bus.

 

“Tindakan itu membuat terdakwa Gerson memukul pipi kiri Budiarsana menggunakan tangan kanan mengepal sebanyak tiga kali,” beber JPU Bagus.

 

Sejurus kemudian, terdakwa Benny Bekarbessy yang merupakan pimpinan dari PT BMMS masuk ke dalam kantor untuk mengambil beberapa bilah pedang dan senjata tajam yang tersimpan di dalam kantor.

 

Benny lalu keluar mengacungkan pedang ke arah Widiada dengan berteriak “Habisi! Bunuh dia!”. 

 

Benny mengayunkan parangnya kearah ke arah saksi Widiada, tapi saksi berhasil memegang gagang pedang tersebut dengan kedua tangannya.

Melihat itu, terdakwa Gusti Bagus Christian memukul saksi dengan menggunakan kursi plastik yang ada di tempat tersebut. Terdakwa lain lantas ikut memukul.

 

Saksi terjatuh kemudian ditindih terdakwa Benny. Sementara korban Budiarsana dikeroyok terdakwa Jos Bus, Gerson, dan Fendy Kainama.

 

Terjadi pergulatan dan baku hantam hebat antara saksi dan terdakwa. Namun, karena kalah jumlah saksi berlari dengan berkata kepada korban agar lari. “De, melaib, De (De, lari, De),” teriak saksi.

 

Korban Budiarsana masih dikeroyok dan tak bisa melepaskan diri. Saat itu, terdaka I Wayan Sadia (terdakwa dalam penuntutan terpisah) memiting leher Budiarsana. 

 

Setelah berusaha, saksi Widiada dan Budiarsana berhasil melarikan diri. Saat mereka berlari, terdakwa Fendy sempat melemparkan batu dan mengenai punggung Widiada.

 

Para terdakwa juga sempat mengejar mereka. Saat melakukan pengejaran tersebut para terdakwa membawa pedang dan senjata tajam yang sebelumnya disimpan terdakwa Benny Bakarbessy. 

 

Sementara terdakwa Sadia sempat dilukai terdakwa dengan pedang yang dibawanya. Di mana pedang yang dipegang korban tersebut merupakan pedang yang berhasil direbutnya saat terjadi perkelahian. 

 

Karena terdesak, korban dan saksi Widiada keluar dari kantor tersebut. Terdakwa menggunakan kakinya menghalangi jalan korban Budiarsana, sehingga badan korban hampir terjatuh dan pedang yang dipegangnya menjadi terlepas.

 

Terdakwa mengambil pedang yang terjatuh tersebut lalu mengejar korban. “Korban yang lari berusaha naik ke bagian belakang mobil pikap yang melintas sambil bergelantungan. Karena korban tidak kuat bergelantungan, korban terjatuh,” tutur JPU Bagus.

 

Saat terjatuh, terdakwa yang mengejar korban kemudian mendekati korban lalu menebas korban dengan pedang yang dipegang.

 

Korban berusaha menangkis dan melindungi dirinya dengan kedua tangannya, sehingga kedua tangan korban terkena tebasan pedang. 

 

Saat korban terjatuh, terdakwa kemudian kembali menebas korban dengan pedang yang dipegangnya dan mengenai bagian belakang kepala korban sebanyak dua kali, sehingga korban mengeluarkan banyak darah serta terkapar di tengah jalan. Akibatnya korban Budiarsana meninggal dunia.



DENPASAR – Enam terdakwa kasus pengeroyokan hingga tewasnya Gede Budiarsana alias De Budi di Perumnas Monang-Maning dituntut 4 (empat) tahun penjara. Mereka adalah Benny Bakarbessy, 41, Jos Bus Likumahwa, 30, Fendy Kainama, 31, Gerson Pattiwaelapia, 33, I Gusti Bagus Christian Alevanto, 23, dan Dominggus Bakarbessy, 23.

 

Jaksa penuntut umum (JPU) Ida Bagus Putu Swadharma Diputra dalam sidang Kamis (3/2) menyatakan, terdakwa Benny dan kawan-kawan dinilai telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan terang-terang dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang. Perbuatan mereka melanggar Pasal 170 ayat (1) KUHP. 

 

Dibandingkan enam terdakwa lainnya, pelaku I Wayan Sadia, 39, anggota Mata Elang alias debt collector yang menebas korban Gede Budiarsana di Perumnas Munang-Maning beberapa waktu lalu mendapat tuntutan tertinggi. Sadia dituntut 14 tahun penjara oleh JPU Kejari Denpasar. 

 

“Terdakwa I Wayan Sadia telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHP,” ujar JPU Ida Bagus Putu Swadharma Diputra.

 

JPU memiliki pertimbangan mengajukan tuntutan 14 tahun penjara terhadap Sadia. Hal yang memberatkan yakni perbuatan Wayan Sadia dilakukan dengan kejam terhadap korbannya yang merupakan tulang punggung keluarga. 

 

“Terdakwa Wayan Sadia berupaya menutupi peran para terdakwa lain yang melakukan kekerasan terhadap Gede Budiarsana dan Ketut Widiada alias Jero Dolah,” papar JPU Swadharma.

 

Menanggapi tuntutan JPU, para terdakwa melalui masing-masing pengacaranya akan mengajukan pembelaan secara tertulis. Nota pembelaan akan dibacakan pada sidang pekan depan.

 

Dalam tuntutan itu dijelaskan bahwa salah satu korban peristiwa berdarah itu adalah Gede Budiarsana. De Budi meninggal dunia karena menderita luka bacok. 

 

Kejadian itu terjadi pada 23 Juli 2021 sekitar pukul 14.30, saat saksi Ketut Widiada alias Jero Dolah dan Gede Budiarsana mendatangi kantor PT Beta Mandiri Muti Solution (BMMS), di Jalan Gunung Patuha, Munang-Maning, Denpasar Barat.

 

Jero Dolah dan De Budi menanyakan sepeda motor Yamaha Lexi yang hendak ditarik karena menunggak pembayaran kredit selama satu tahun di Finance BAF.

 

Tak lama berselang terjadi ketegangan antara saksi dengan keenam terdakwa. Saat itu saksi Jero Dolah hendak merekam kejadian menggunakan hand phone (HP) miliknya. Tapi, terdakwa Jos Bus merampasnya.

 

Tidak terima HP-nya dirampas, korban Gede Budiarsana mendorong kening terdakwa Jos Bus.

 

“Tindakan itu membuat terdakwa Gerson memukul pipi kiri Budiarsana menggunakan tangan kanan mengepal sebanyak tiga kali,” beber JPU Bagus.

 

Sejurus kemudian, terdakwa Benny Bekarbessy yang merupakan pimpinan dari PT BMMS masuk ke dalam kantor untuk mengambil beberapa bilah pedang dan senjata tajam yang tersimpan di dalam kantor.

 

Benny lalu keluar mengacungkan pedang ke arah Widiada dengan berteriak “Habisi! Bunuh dia!”. 

 

Benny mengayunkan parangnya kearah ke arah saksi Widiada, tapi saksi berhasil memegang gagang pedang tersebut dengan kedua tangannya.

Melihat itu, terdakwa Gusti Bagus Christian memukul saksi dengan menggunakan kursi plastik yang ada di tempat tersebut. Terdakwa lain lantas ikut memukul.

 

Saksi terjatuh kemudian ditindih terdakwa Benny. Sementara korban Budiarsana dikeroyok terdakwa Jos Bus, Gerson, dan Fendy Kainama.

 

Terjadi pergulatan dan baku hantam hebat antara saksi dan terdakwa. Namun, karena kalah jumlah saksi berlari dengan berkata kepada korban agar lari. “De, melaib, De (De, lari, De),” teriak saksi.

 

Korban Budiarsana masih dikeroyok dan tak bisa melepaskan diri. Saat itu, terdaka I Wayan Sadia (terdakwa dalam penuntutan terpisah) memiting leher Budiarsana. 

 

Setelah berusaha, saksi Widiada dan Budiarsana berhasil melarikan diri. Saat mereka berlari, terdakwa Fendy sempat melemparkan batu dan mengenai punggung Widiada.

 

Para terdakwa juga sempat mengejar mereka. Saat melakukan pengejaran tersebut para terdakwa membawa pedang dan senjata tajam yang sebelumnya disimpan terdakwa Benny Bakarbessy. 

 

Sementara terdakwa Sadia sempat dilukai terdakwa dengan pedang yang dibawanya. Di mana pedang yang dipegang korban tersebut merupakan pedang yang berhasil direbutnya saat terjadi perkelahian. 

 

Karena terdesak, korban dan saksi Widiada keluar dari kantor tersebut. Terdakwa menggunakan kakinya menghalangi jalan korban Budiarsana, sehingga badan korban hampir terjatuh dan pedang yang dipegangnya menjadi terlepas.

 

Terdakwa mengambil pedang yang terjatuh tersebut lalu mengejar korban. “Korban yang lari berusaha naik ke bagian belakang mobil pikap yang melintas sambil bergelantungan. Karena korban tidak kuat bergelantungan, korban terjatuh,” tutur JPU Bagus.

 

Saat terjatuh, terdakwa yang mengejar korban kemudian mendekati korban lalu menebas korban dengan pedang yang dipegang.

 

Korban berusaha menangkis dan melindungi dirinya dengan kedua tangannya, sehingga kedua tangan korban terkena tebasan pedang. 

 

Saat korban terjatuh, terdakwa kemudian kembali menebas korban dengan pedang yang dipegangnya dan mengenai bagian belakang kepala korban sebanyak dua kali, sehingga korban mengeluarkan banyak darah serta terkapar di tengah jalan. Akibatnya korban Budiarsana meninggal dunia.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/