alexametrics
27.8 C
Denpasar
Monday, June 27, 2022

Tulis Pesan Menyentuh, Mohon Tak Dicekal Seumur Hidup

Pendeportasian Heather Lois Mack ke Negara asalnya Amerika Serikat, Rabu (3/11) dikawal ketat anggota Federal Bureau of Investigation (FBI) atau badan investigasi utama Departemen Kehakiman Amerika Serikat.  

 

 

Pengacara Heather, Yulius Benyamin Seran mengatakan, Heather menulis pesan singkat di balik surat kuasa yang dibawa Benyamin.  Heather menulis: Terima kasih kepada Negara Indonesia. Di bawah kalimat itu berisi tanda tangan lengkap dengan tanggal dan tahunnya.

 

Selain itu, pengacara asli Atambua, NTT, itu menambahkan, Heather juga menyampaikan terima kasih kepada semua orang yang ditemui di dalam penjara, baik sesama napi atau petugas lapas. “Heather berterimakasih karena sudah dibimbing,” kata Benyamin.

 

Heather juga mengungkapkan keberatan dengan tindakan pencekalan seumur hidup yang dilakukan pemerintah Indonesia.

 

Perempuan kelahiran Chicago itu memohon agar pemerintah Indonesia tidak memperlakukan dirinya seperti terorisme atau pelaku kejahatan luar biasa lainnya.

 

“Heather minta dicekal selama enam bulan, layaknya pencekalan terhadap napi lainnya,” imbuh Benyamin.

 

Kenapa Heather begitu ngotot ingin kembali ke Bali? Benyamin menyebut Heather sudah telanjur cinta budaya Bali. Selama di penjara ia belajar bahasa Bali dan Indonesia.

 

“Heather sangat cinta Bali, terutama anaknya yang lahir dan besar di Bali,” tuturnya.

 

Anak Heather bernama Stella lahir 17 Maret 2015 di RS Sanglah. Sejak lahir hingga umur dua tahun, Heather merawat bayi bersama pacarnya Tomy Schaefer di dalam lapas.

 

Setelah umur dua tahun barulah anak Heather diserahkan pada Oshar Putu Melodi Suartama, WNI yang dipercaya mengasuh.

 

Yang menarik, saat ditanya keberadaan anggota FBI dan Interpol, Benyamin juga merasa terkejut. Ia tidak tahu motivasi pengawalan yang dilakukan Interpol dan FBI.

 

Lazimnya deportasi napi lain, tidak ada keterlibatan dari FBI dan Interpol. Padahal, kata Benyamin, Heather bukan penjahat di negaranya.

 

“Baru kali ini saya menjumpai ada keikutsertaan FBI dan Interpol dalam deportasi. Saya juga heran, ada apa gerangan? Saya merasa ada sesuatu yang spesial,” tukas Benyamin.

 

Sebelum dideportasi, Heather menjalani detensi atau penahanan selama empat hari di Rudenim Denpasar. Selama di Rudenim itu pula Heather mendapat penjagaan ketat.



Pendeportasian Heather Lois Mack ke Negara asalnya Amerika Serikat, Rabu (3/11) dikawal ketat anggota Federal Bureau of Investigation (FBI) atau badan investigasi utama Departemen Kehakiman Amerika Serikat.  

 

 

Pengacara Heather, Yulius Benyamin Seran mengatakan, Heather menulis pesan singkat di balik surat kuasa yang dibawa Benyamin.  Heather menulis: Terima kasih kepada Negara Indonesia. Di bawah kalimat itu berisi tanda tangan lengkap dengan tanggal dan tahunnya.

 

Selain itu, pengacara asli Atambua, NTT, itu menambahkan, Heather juga menyampaikan terima kasih kepada semua orang yang ditemui di dalam penjara, baik sesama napi atau petugas lapas. “Heather berterimakasih karena sudah dibimbing,” kata Benyamin.

 

Heather juga mengungkapkan keberatan dengan tindakan pencekalan seumur hidup yang dilakukan pemerintah Indonesia.

 

Perempuan kelahiran Chicago itu memohon agar pemerintah Indonesia tidak memperlakukan dirinya seperti terorisme atau pelaku kejahatan luar biasa lainnya.

 

“Heather minta dicekal selama enam bulan, layaknya pencekalan terhadap napi lainnya,” imbuh Benyamin.

 

Kenapa Heather begitu ngotot ingin kembali ke Bali? Benyamin menyebut Heather sudah telanjur cinta budaya Bali. Selama di penjara ia belajar bahasa Bali dan Indonesia.

 

“Heather sangat cinta Bali, terutama anaknya yang lahir dan besar di Bali,” tuturnya.

 

Anak Heather bernama Stella lahir 17 Maret 2015 di RS Sanglah. Sejak lahir hingga umur dua tahun, Heather merawat bayi bersama pacarnya Tomy Schaefer di dalam lapas.

 

Setelah umur dua tahun barulah anak Heather diserahkan pada Oshar Putu Melodi Suartama, WNI yang dipercaya mengasuh.

 

Yang menarik, saat ditanya keberadaan anggota FBI dan Interpol, Benyamin juga merasa terkejut. Ia tidak tahu motivasi pengawalan yang dilakukan Interpol dan FBI.

 

Lazimnya deportasi napi lain, tidak ada keterlibatan dari FBI dan Interpol. Padahal, kata Benyamin, Heather bukan penjahat di negaranya.

 

“Baru kali ini saya menjumpai ada keikutsertaan FBI dan Interpol dalam deportasi. Saya juga heran, ada apa gerangan? Saya merasa ada sesuatu yang spesial,” tukas Benyamin.

 

Sebelum dideportasi, Heather menjalani detensi atau penahanan selama empat hari di Rudenim Denpasar. Selama di Rudenim itu pula Heather mendapat penjagaan ketat.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/