alexametrics
25.8 C
Denpasar
Saturday, May 28, 2022

Menolak Saat Peragakan Adegan Pemukulan, Peran Kicen Digantikan Model

KASUS kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap Korban I Kadek Sepi pada 21 September di rumahnya sendiri di Banjar Dinas Babakan, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang memasuki babak baru.

 

Satuan Reskrim Polres Karangasem menggelar rekonstruksi peristiwa pemukulan yang dilakukan Tersangka I Nengah Kicen hingga menyebabkan anak kandungnya tewas.

 

Sayangnya, saat proses reka ulang, deretan adegan tak berjalan mulus. Hal ini karena tersangka menolak sejumlah adegan saat rekonstruksi yang digelar di Aula Kanya Badra Paramartha Mapolres Karangasem. Kok bisa?

 

ZULFIKA RAHMAN, Karangasem

 

KAPOLRES Karangasem, AKBP Ricko Abdillah Andang Taruna didampingi Kasar Reskrim AKP Aris Setyanto mengatakan, saat adegan reka ulang, Ada 42 adegan yang diperagakan. Hanya ada beberapa reka adegan yang tidak mau dilakukan oleh Kicen.

Baca Juga:  Mimih…Gelap Mata Diputus Pacar, Gadis Cantik Ini Pilih Akhiri Hidup

 

 

Kata AKBP Ricko, Kicen menolak saat sampai pada adegan pemukulan. Tersangka Kicen tidak mau mengakui sehingga adegan diperankan oleh model.

 

“Pemukulan terjadi di adegan ke 11 dan 12. Dimana korban dipukul pada bagian leher menggunakan tongkat bambu. Itu yang paling fatal hingga menjadi penyebab korban meninggal,” terang Aris.

 

Meski tidak mengakui perbuatannya, pihak kepolisian telah memiliki bukti kuat.

 

Setidaknya ada empat alat bukti dan juga barang bukti yang memperkuat bahwa I Kadek Sepi meninggal akibat KDRT yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. “Karena tidak mengakui perbuatannya, itu nanti yang memberatkan tersangka,” imbuhnya.

 

Saksi kunci dalam peristiwa ini yakni ada pada adik I Kadek Sepi yakni I Komang Hendra.

Baca Juga:  [Breaking News] Polisi Akhirnya Tetapkan Nengah Kicen Tersangka

Sedangkan ibunya sedang membuat canang untuk sarana upacara. Sementara Kicen sedang berada di ruangan lain.

 

Karena kesal melihat anaknya bermain terus dan tidak membantu pekerjaan rumah. Hingga akhirnya, dalam kondisi emosi, ia melakukan KDRT terhadap bocah malang itu hingga menyebebkan meninggal dunia. 

 

Disinggung mengapa rekonstruksi digelar di Mapolres Karangasem, Aris menuturkan kondisi cuaca dan juga lokasi tempat kejadian yang cukup terjal menjadi pertimbangan.

 

“Makanya kami putuskan untuk dilakukan rekonstruksi di Mapolres Karangasem saja,” tukasnya. 


KASUS kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap Korban I Kadek Sepi pada 21 September di rumahnya sendiri di Banjar Dinas Babakan, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang memasuki babak baru.

 

Satuan Reskrim Polres Karangasem menggelar rekonstruksi peristiwa pemukulan yang dilakukan Tersangka I Nengah Kicen hingga menyebabkan anak kandungnya tewas.

 

Sayangnya, saat proses reka ulang, deretan adegan tak berjalan mulus. Hal ini karena tersangka menolak sejumlah adegan saat rekonstruksi yang digelar di Aula Kanya Badra Paramartha Mapolres Karangasem. Kok bisa?

 

ZULFIKA RAHMAN, Karangasem

 

KAPOLRES Karangasem, AKBP Ricko Abdillah Andang Taruna didampingi Kasar Reskrim AKP Aris Setyanto mengatakan, saat adegan reka ulang, Ada 42 adegan yang diperagakan. Hanya ada beberapa reka adegan yang tidak mau dilakukan oleh Kicen.

Baca Juga:  Sembunyikan Sabu di Kotak Kacamata, Pria Seminyak Diciduk

 

 

Kata AKBP Ricko, Kicen menolak saat sampai pada adegan pemukulan. Tersangka Kicen tidak mau mengakui sehingga adegan diperankan oleh model.

 

“Pemukulan terjadi di adegan ke 11 dan 12. Dimana korban dipukul pada bagian leher menggunakan tongkat bambu. Itu yang paling fatal hingga menjadi penyebab korban meninggal,” terang Aris.

 

Meski tidak mengakui perbuatannya, pihak kepolisian telah memiliki bukti kuat.

 

Setidaknya ada empat alat bukti dan juga barang bukti yang memperkuat bahwa I Kadek Sepi meninggal akibat KDRT yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. “Karena tidak mengakui perbuatannya, itu nanti yang memberatkan tersangka,” imbuhnya.

 

Saksi kunci dalam peristiwa ini yakni ada pada adik I Kadek Sepi yakni I Komang Hendra.

Baca Juga:  Hasil Otopsi Belum Keluar, Ayah Sepi Diperiksa dari Hari Rabu

Sedangkan ibunya sedang membuat canang untuk sarana upacara. Sementara Kicen sedang berada di ruangan lain.

 

Karena kesal melihat anaknya bermain terus dan tidak membantu pekerjaan rumah. Hingga akhirnya, dalam kondisi emosi, ia melakukan KDRT terhadap bocah malang itu hingga menyebebkan meninggal dunia. 

 

Disinggung mengapa rekonstruksi digelar di Mapolres Karangasem, Aris menuturkan kondisi cuaca dan juga lokasi tempat kejadian yang cukup terjal menjadi pertimbangan.

 

“Makanya kami putuskan untuk dilakukan rekonstruksi di Mapolres Karangasem saja,” tukasnya. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/