alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Panas di Adegan Ke-20, Rekaman Perselingkuhan Tak Bisa Dibuktikan

KASUS pembunuhan yang dilakukan Nengah Wanta, 36, terhadap teman pria istrinya, Jupriadi, 36, dan penusukan ke istrinya, Kadek Setyawati, 29, Jumat (4/2) masuk tahap rekonstruksi.

 

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, ada 35 adegan reka ulang yang diperagakan tersangka Wanta. Hanya saja, aksi berdarah dimulai pada adegan ke-20. Seperti apa?

 

 

IB INDRA PRASETYA, Gianyar

 

Kapolsek Sukawati, Kompol Made Ariawan P, menerangkan, ada 35 adegan yang diperagakan tersangka dari awal hingga membunuh Korban Jupriadi dan penusukan terhadap Kadek Setyawati (istri pelaku).

 

Namun, dari total puluhan adegan, 28 adegan ada di lokasi kejadian pokok.

 

“Tujuh adegan lagi, ada di rumah tersangka (adegan mengambil sabit dan pisau, red),” jelasnya.

 

Ariawan membeberkan, adegan awal dimulai dari kedatangan tersangka ke counter bertemu korban.

Baca Juga:  Fix, Pembunuh Aipda (Purn) Suanda Empat Orang, Ini Identitasnya

 

Saat tiba di counter HP, Tersangka Wanta sudah siap dengan sabit dan pisau memilih mengeluarkan sabit terlebih dahulu.

 

Kemudian, usai mengeluarkan sabit, tersangka langsung mengayunkan sabit ke punggung Jupriadi. Hingga Jupriadi kabur ke sawah dekat lokasi kejadian.

 

Selanjutnya, usai menyabit punggung Jupriadi, Wanta yang kalap kemudian menganiaya istrinya dengan menusuk korban puluhan kali.

 

Saat rekonstruksi, saksi pemilik warung nasi campur di depan counter sempat melihat Wanta menganiaya istrinya menggunakan pisau.

 

Sedangkan ditanya mengenai rekaman perselingkuhan antara Jupriadi dengan istrinya, pihak kepolisian mengaku hal itu tidak bisa dibuktikan.

 

Sementara itu, Perbekel Batubulan, Dewa Gede Sumerta yang ikut menyimak jalannya rekontruksi menambahkan jika sejengkal tanah memiliki nilai suci.

Baca Juga:  Terungkap, Bagus Disebut Berselingkuh dengan Keluarga Mantan Napi

 

“Atas kejadian ini, pemilik tempat sudah melaksanakan pecaruan kecil. Besok (Sabtu, 4/2) akan dilakukan pecaruan yang lebih besar sesuai petunjuk pendeta,” terangnya.

 

Mengenai sanksi bagi pelaku yang membuat leteh atau kotor tidak ada. “Kalau di adat, siapapun yang melakukan pecaruan, jadi dianggap sudah selesai,” ujarnya.

 

Yang menanggung biaya upacara, dari pihak pemilik tanah. “Kalau menunggu dia (pelaku, red) keluar, lalu dibebankan ke keluarga jadi suatu hal yang tidak mungkin. Jadi ini inisatif pemilik tanah yang menyucikan tempat ini,” jelasnya.

 

Perbekel mengaku, kebetulan kios yang dikontrak milik saudaranya. “Oleh penyewa diperpanjang setiap tahun. Sampai bulan ini, kios dikontrak baru berjalan enam bulan,” pungkasnya.



KASUS pembunuhan yang dilakukan Nengah Wanta, 36, terhadap teman pria istrinya, Jupriadi, 36, dan penusukan ke istrinya, Kadek Setyawati, 29, Jumat (4/2) masuk tahap rekonstruksi.

 

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, ada 35 adegan reka ulang yang diperagakan tersangka Wanta. Hanya saja, aksi berdarah dimulai pada adegan ke-20. Seperti apa?

 

 

IB INDRA PRASETYA, Gianyar

 

Kapolsek Sukawati, Kompol Made Ariawan P, menerangkan, ada 35 adegan yang diperagakan tersangka dari awal hingga membunuh Korban Jupriadi dan penusukan terhadap Kadek Setyawati (istri pelaku).

 

Namun, dari total puluhan adegan, 28 adegan ada di lokasi kejadian pokok.

 

“Tujuh adegan lagi, ada di rumah tersangka (adegan mengambil sabit dan pisau, red),” jelasnya.

 

Ariawan membeberkan, adegan awal dimulai dari kedatangan tersangka ke counter bertemu korban.

Baca Juga:  Korban Pembunuhan di Sanur asal Banyuwangi, Pelaku Pakai Motor Merah

 

Saat tiba di counter HP, Tersangka Wanta sudah siap dengan sabit dan pisau memilih mengeluarkan sabit terlebih dahulu.

 

Kemudian, usai mengeluarkan sabit, tersangka langsung mengayunkan sabit ke punggung Jupriadi. Hingga Jupriadi kabur ke sawah dekat lokasi kejadian.

 

Selanjutnya, usai menyabit punggung Jupriadi, Wanta yang kalap kemudian menganiaya istrinya dengan menusuk korban puluhan kali.

 

Saat rekonstruksi, saksi pemilik warung nasi campur di depan counter sempat melihat Wanta menganiaya istrinya menggunakan pisau.

 

Sedangkan ditanya mengenai rekaman perselingkuhan antara Jupriadi dengan istrinya, pihak kepolisian mengaku hal itu tidak bisa dibuktikan.

 

Sementara itu, Perbekel Batubulan, Dewa Gede Sumerta yang ikut menyimak jalannya rekontruksi menambahkan jika sejengkal tanah memiliki nilai suci.

Baca Juga:  Putusan Banding Ibu Pembunuh Anak Diserahkan JPU, Ada Peluang Kasasi?

 

“Atas kejadian ini, pemilik tempat sudah melaksanakan pecaruan kecil. Besok (Sabtu, 4/2) akan dilakukan pecaruan yang lebih besar sesuai petunjuk pendeta,” terangnya.

 

Mengenai sanksi bagi pelaku yang membuat leteh atau kotor tidak ada. “Kalau di adat, siapapun yang melakukan pecaruan, jadi dianggap sudah selesai,” ujarnya.

 

Yang menanggung biaya upacara, dari pihak pemilik tanah. “Kalau menunggu dia (pelaku, red) keluar, lalu dibebankan ke keluarga jadi suatu hal yang tidak mungkin. Jadi ini inisatif pemilik tanah yang menyucikan tempat ini,” jelasnya.

 

Perbekel mengaku, kebetulan kios yang dikontrak milik saudaranya. “Oleh penyewa diperpanjang setiap tahun. Sampai bulan ini, kios dikontrak baru berjalan enam bulan,” pungkasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/