alexametrics
24.8 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Gara-Gara Uang Pisang Rp 500 Rb, Arifin Tega Habisi Nyawa Rekan Bisnis

Usai ditangkap di rumah mertuanya di Bondowoso, Jawa Timur, Basori Arifin langsung dikeler tim gabungan dari Resmob Satreskrim Polresta Denpasar dan Polda Bali ke Denpasar.

 

Pria asal Banyuwangi, Jatim ini kemudian ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan sadis terhadap pedagang kripik pisang, Sri Widayu, 49, di Warung Jawa Barokah di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai No.438, Sanur, Denpasar Selatan, Selasa (2/2).

 

Lalu siapa sebenarnya Basori Arifin?

 

ANDRE SULA, Denpasar

 

WAJAH Basori Arifin terus tertunduk saat polisi membawa dirinya dari dalam sel tahanan Polresta Denpasar.

 

Mengenakan kaos warna putih bergambar serta bawahan celana panjang blue jeans berbalut baju tahanan warna oranye, sesekali wajah pria berusia 24 tahun itu terlihat menerawang kosong.

 

Pria bertubuh ceking dengan rambut setengah gondrong itu tak menyangka jika pelariannya di rumah mertuanya di daerah Kawah Ijen, Desa Sumber Waringin, Kecamatan Sukorejo, Bondowoso, Jawa Timur terendus polisi.

Baca Juga:  OMG! Buronan Interpol Asal Amerika Produksi Puluhan Film Porno di Bali

 

Kini penyesalan hanya tinggal penyesalan. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya menghabisi nyawa Sri Widayu secara sadis.

 

Kapolresta Denpasar Kombespol Jansen Avitus Panjaitan didampingi Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol I Dewa Putu Gede Anom Danujaya, Sabtu (6/2) menjelaskan, sebelum kasus pembunuhan, pria kelahiran Banyuwangi 1 Februari 1997 ini merupakan rekan bisnis korban.

 

“Antara Tersangka (Basori Arifin) dengan korban (Sri Widayu) sebenarnya berteman. Tersangka ini berdagang pisang. Dia yang memasok pisang ke korban untuk dibuat keripik,”terang Kombes Jansen.

 

Bahkan, imbuh Kombes Jansen, pelaku dan korban juga sama-sama berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur.

 

Menurut kapolresta, tersangka berasal dari Dusun Gunung Raung RT 002 RW 002, Kelurahan Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru, Banyuawangi.

Baca Juga:  Dituntut 15 Tahun, Pengacara Sudikerta Melawan, Ngotot Sebut Perdata

 

Lantaran diduga sama-sama asal Banyuwangi itulah, antara korban dan tersangka menjalin kerjasama.

 

Hingga akhirnya, karena sudah terbiasa memasok pisang, dan korban menjadi pelanggannya, dari pengakuan tersangka ke polisi, korban berhutang kepada tersangka.

 

 “Jadi kata tersangka, korban berhutang pisang sebesar Rp 514 ribu kepada tersangka sekitar sebulan lalu. Padahal menurut tersangka, semestinya hutang itu sudah dibayar korban seminggu setelah berhutang sesuai permintaan korban,” imbuh Kombespol Jansen.

 

Namun sudah sebulan lebih, korban tak kunjung melunasi atau membayar hutang pisang kepada tersangka.

 

Hingga akhirnya tersangka Arifin dan istrinya berniat menagih hutang ke korban ke kontrakannya di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai Nomor. 438, Sanur, Denpasar Selatan (TKP) dan terjadilah penganiayaan yang berakhir tewasnya Sri Widayu.



Usai ditangkap di rumah mertuanya di Bondowoso, Jawa Timur, Basori Arifin langsung dikeler tim gabungan dari Resmob Satreskrim Polresta Denpasar dan Polda Bali ke Denpasar.

 

Pria asal Banyuwangi, Jatim ini kemudian ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan sadis terhadap pedagang kripik pisang, Sri Widayu, 49, di Warung Jawa Barokah di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai No.438, Sanur, Denpasar Selatan, Selasa (2/2).

 

Lalu siapa sebenarnya Basori Arifin?

 

ANDRE SULA, Denpasar

 

WAJAH Basori Arifin terus tertunduk saat polisi membawa dirinya dari dalam sel tahanan Polresta Denpasar.

 

Mengenakan kaos warna putih bergambar serta bawahan celana panjang blue jeans berbalut baju tahanan warna oranye, sesekali wajah pria berusia 24 tahun itu terlihat menerawang kosong.

 

Pria bertubuh ceking dengan rambut setengah gondrong itu tak menyangka jika pelariannya di rumah mertuanya di daerah Kawah Ijen, Desa Sumber Waringin, Kecamatan Sukorejo, Bondowoso, Jawa Timur terendus polisi.

Baca Juga:  Disegel Pol PP Badung, Ini Jaminan Owner Sky Garden ke Karyawan

 

Kini penyesalan hanya tinggal penyesalan. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya menghabisi nyawa Sri Widayu secara sadis.

 

Kapolresta Denpasar Kombespol Jansen Avitus Panjaitan didampingi Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol I Dewa Putu Gede Anom Danujaya, Sabtu (6/2) menjelaskan, sebelum kasus pembunuhan, pria kelahiran Banyuwangi 1 Februari 1997 ini merupakan rekan bisnis korban.

 

“Antara Tersangka (Basori Arifin) dengan korban (Sri Widayu) sebenarnya berteman. Tersangka ini berdagang pisang. Dia yang memasok pisang ke korban untuk dibuat keripik,”terang Kombes Jansen.

 

Bahkan, imbuh Kombes Jansen, pelaku dan korban juga sama-sama berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur.

 

Menurut kapolresta, tersangka berasal dari Dusun Gunung Raung RT 002 RW 002, Kelurahan Kajarharjo, Kecamatan Kalibaru, Banyuawangi.

Baca Juga:  Tak Kunjung Menyerah, Jadi DPO, Polisi Ancam Tembak Jero Jangol

 

Lantaran diduga sama-sama asal Banyuwangi itulah, antara korban dan tersangka menjalin kerjasama.

 

Hingga akhirnya, karena sudah terbiasa memasok pisang, dan korban menjadi pelanggannya, dari pengakuan tersangka ke polisi, korban berhutang kepada tersangka.

 

 “Jadi kata tersangka, korban berhutang pisang sebesar Rp 514 ribu kepada tersangka sekitar sebulan lalu. Padahal menurut tersangka, semestinya hutang itu sudah dibayar korban seminggu setelah berhutang sesuai permintaan korban,” imbuh Kombespol Jansen.

 

Namun sudah sebulan lebih, korban tak kunjung melunasi atau membayar hutang pisang kepada tersangka.

 

Hingga akhirnya tersangka Arifin dan istrinya berniat menagih hutang ke korban ke kontrakannya di Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai Nomor. 438, Sanur, Denpasar Selatan (TKP) dan terjadilah penganiayaan yang berakhir tewasnya Sri Widayu.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/