alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

OMG! Sehari Ada 250 Kasus Cerai, KPN Denpasar: Numpuk Seperti Pasar

DENPASAR-Dimasa pandemic Covid-19, kasus perceraian di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar cukup tinggi.

Tercatat dari Maret-September 2020, ada 491 sidang perceraian di PN Denpasar. Tentu, angka ini belum termasuk daftar kasus perceraian di Kantor Urusan Agama (KUA) di Bali.

Bahkan tingginya kasus perceraian di Denpasar dan Badung, Pengadilan Negeri (PN) Denpasar sempat menyidangkan hingga 250 kasus perceraian dalam sehari.

Seperti dibenarkan Ketua PN (KPN) Denpasar Sobandi.

Menurutnya, akibat banyaknya sidang perceraian, sampai-sampai PN Denpasar ramai seperti pasar.

“Pernah dalam satu hari sidang perkara perdata, termasuk di dalamnya perceraian ada 250 perkara. Sehingga menumpuk seperti pengunjung pasar,” terang Ketua PN Denpasar, Sobandi, Senin kemarin (5/10).

Baca Juga:  Saraf Terjepit, Kaki Kiri Terus Mengecil, Sudikerta Terancam Lumpuh

Untuk itu, guna menghindari penumpukan, PN Denpasar terpaksa harus melakukan penjadwalan khusus.

Sementara itu, ditempat terpisah, tingginya kasus perceraian juga terjadi di PN Singaraja.

Sesuai data sejak Januari-Juli 2020, tercatat adanya sekitar 423 kasus gugatan perceraian yang ditangani atau meningkat sebesar 28, 98 persen dari tahun sebelumnya (2019) yang hanya berada di kisaran 328 kasus.

Humas/Juru Bicara Pengadilan Negeri Singaraja I Nyoman Dipa Rudiana menyatakan gugatan perceraian di Singaraja meningkat tinggi di tengah wabah Covid-19. Bahkan Buleleng masuk urutan kedua angka perceraian tertinggi setelah Kota Denpasar, dengan rata-rata menerima pengajuan gugatan perceraian 50-80 kasus setiap bulannya.

Terkait penyebab, meningkat angka perceraian di Singaraja dipicu akibat banyak faktor.  Mulai zina, adanya pasangan yang meninggalkan istrinya berturut selama dua tahun tanpa izin, cerai karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), cerai karena alasan hukuman penjara pasangannya, menggugat cerai dengan alasan cacat badan tidak dapat melayani pasangan secara puas saat berhubungan badan, masalah ekonomi, percekcokan terus menerus dan karena alasan adanya pria atau wanita idaman lain dalam rumah.  

Baca Juga:  Gara-gara Sabu 53,47 Gram, Karyawan Toko Menua di Penjara

“Namun di Buleleng peningkatan angka perceraian dominan karena faktor masalah ekonomi keluarga, dan adanya pria dan wanita idaman lainnya dalam rumah tangga,” tukasnya.

 



DENPASAR-Dimasa pandemic Covid-19, kasus perceraian di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar cukup tinggi.

Tercatat dari Maret-September 2020, ada 491 sidang perceraian di PN Denpasar. Tentu, angka ini belum termasuk daftar kasus perceraian di Kantor Urusan Agama (KUA) di Bali.

Bahkan tingginya kasus perceraian di Denpasar dan Badung, Pengadilan Negeri (PN) Denpasar sempat menyidangkan hingga 250 kasus perceraian dalam sehari.

Seperti dibenarkan Ketua PN (KPN) Denpasar Sobandi.

Menurutnya, akibat banyaknya sidang perceraian, sampai-sampai PN Denpasar ramai seperti pasar.

“Pernah dalam satu hari sidang perkara perdata, termasuk di dalamnya perceraian ada 250 perkara. Sehingga menumpuk seperti pengunjung pasar,” terang Ketua PN Denpasar, Sobandi, Senin kemarin (5/10).

Baca Juga:  PT Tolak Banding Eks Ketua Kadin Bali, Hukuman Alit Naik Jadi 3 Tahun

Untuk itu, guna menghindari penumpukan, PN Denpasar terpaksa harus melakukan penjadwalan khusus.

Sementara itu, ditempat terpisah, tingginya kasus perceraian juga terjadi di PN Singaraja.

Sesuai data sejak Januari-Juli 2020, tercatat adanya sekitar 423 kasus gugatan perceraian yang ditangani atau meningkat sebesar 28, 98 persen dari tahun sebelumnya (2019) yang hanya berada di kisaran 328 kasus.

Humas/Juru Bicara Pengadilan Negeri Singaraja I Nyoman Dipa Rudiana menyatakan gugatan perceraian di Singaraja meningkat tinggi di tengah wabah Covid-19. Bahkan Buleleng masuk urutan kedua angka perceraian tertinggi setelah Kota Denpasar, dengan rata-rata menerima pengajuan gugatan perceraian 50-80 kasus setiap bulannya.

Terkait penyebab, meningkat angka perceraian di Singaraja dipicu akibat banyak faktor.  Mulai zina, adanya pasangan yang meninggalkan istrinya berturut selama dua tahun tanpa izin, cerai karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), cerai karena alasan hukuman penjara pasangannya, menggugat cerai dengan alasan cacat badan tidak dapat melayani pasangan secara puas saat berhubungan badan, masalah ekonomi, percekcokan terus menerus dan karena alasan adanya pria atau wanita idaman lain dalam rumah.  

Baca Juga:  Tilep Duit Nasabah Bayar Pinjol, Eks Sales Bank BUMN Divonis 2 Tahun

“Namun di Buleleng peningkatan angka perceraian dominan karena faktor masalah ekonomi keluarga, dan adanya pria dan wanita idaman lainnya dalam rumah tangga,” tukasnya.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/