Kamis, 02 Dec 2021
Radar Bali
Home / Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal
Di Balik Sidang Rizki Fahmi di PN Negara Bali

Dituntut 2 Tahun Gegara Sebar Video Ranjang dan Peras Cewek Cantik

JPU juga Tuntut Terdakwa Denda Rp500 juta

06 Oktober 2021, 21: 15: 59 WIB | editor : Yoyo Raharyo

Dituntut 2 Tahun Gegara Sebar Video Ranjang dan Peras Cewek Cantik

Ilustrasi (dok.radarbali)

Share this      

NEGARA-Terdakwa perkara konten pornografi, Rizki Fahmi akhirnya menjalani sidang tuntutan.

Saat sidang, Rizki akhirnya dituntut pidana penjara selama 2 tahun oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Jembrana.

Dalam sidang yang digelar secara daring di PN Negara, terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melanggar pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang pornografi, karena terdakwa memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki atau menyimpan produk pornografi.

Baca juga: GEGER! Polisi yang Setrum Pelajar Ternyata Mantan Pemain Bali United

Selain dijerat dengan Undang-undang pornografi, terdakwa juga didakwa dengan Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Selain pidana penjara 2 tahun, terdakwa juga dipidana denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. “Sesuai fakta persidangan, terdakwa terbukti melakukan tindak pidana yang sebagaimana disebutkan Undang-Undang pornografi,” kata JPU yang juga Kasipidum Kejari Jembrana Delfi Trimariono, usai sidang Rabu (6/10).

Kasus pornografi yang dilakukan berawal ketika terdakwa membuat link phising melalui website atau website palsu untuk mengelabui calon korban. Terdakwa kemudian menyebarkan website palsu melalui akun-akun media sosial. Alamat atau link website palsu tersebut akhirnya makan korban. Korban berinisial IH, yang mengklik link tersebut kermudian diminta untuk memasukkan alamat email dan password.

Setelah dimasukkan ternyata isinya hanyalah iklan yang merupakan jebakan yang dibuat oleh terdakwa. Setelah terdakwa mendapatkan email dan password milik korban, digunakan untuk membuka email korban yang terhubung dengan penyimpanan foto dalam perangkat handphone korban. Dalam kumpulan foto juga terdapat foto dan video tidak menggunakan baju pasangannya di tempat tidur.

Karena ada foto pasangan di ranjang tersebut, terdakwa memanfaatkan video tersebut dengan cara digunakan untuk meminta sejumlah uang tebusan kepada IH.

Jika tidak diberikan, terdakwa mengancam akan menyebarluaskan video. Terdakwa yang meminta uang sebesar Rp 1,5 juta tidak disanggupi IH. Akhirnya, video disebarkan terdakwa melalui akun media sosial yang dibuat terdakwa. Akhirnya IH mengirim uang sebesar RP 1 juta yang dikirim dalam tiga kali pengiriman.

Selain korban IH, korban lain KW juga mendapat alamat website palsu. Melalui email dan password yang didapatkan, terdakwa membuka akun media sosial KW yang di dalamnya terdapat beberapa video pribadi KW dengan pasangannya. Terhadap KW, terdakwa hanya meminta tebusan pulsa sebesar Rp 500 ribu dan uang sebesar Rp 1 juta karena terdakwa mengancam akan menyebarkan video.

Selain kasus tersebut, terdakwa dalam berkas lain juga didakwa dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Dalam dakwaannya, terdakwa dijerat dengan pasal tiga pasal berlapis, yakni pasal 30 Ayat (1), Pasal 32 Ayat (1), pasal 28 Ayat (2).

Terdakwa juga dijerat dengan pasal 156a huruf KUHP karena dengan sengaja dimuka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. “Sidang perkara lainnya masih proses,” tandasnya. 

(rb/don/bas/yor/JPR)


 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia