alexametrics
26.5 C
Denpasar
Thursday, May 19, 2022

Kadek Sepi Disebut Pernah Dipukul, Ayah Ngaku Tak Pernah Memukul Anak

AMLAPURA – Misteri kematian Kadek Sepi terus diusut pihak Unit PPA Reskrim Polres Karangasem. Muncul dugaan adanya penganiayaan terhadap bocah 13 tahun asal Banjar Babakan, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang, Karangasem tersebut. Itu lantaran adanya luka lebam pada tubuh korban.

Untuk mengusut kasus ini, Polres Karangasem membongkar kembali makam Kadek Sepi. Jasad Sepi kemudian diotopsi oleh pihak dari RS Sanglah langsung di kuburan tersebut.  

 

Terkait luka lebam pada tubuh Kadek Sepi, sang ayah, I Nengah Kicen sebelumnya menjelaskan bahwa kemungkinan hal itu akibat terjatuh ke belakang saat Sepi kejang-kejang.

 

“Kemungkinan karena jatuh itu. Karena semua tetangga itu tahu dari dia kejang-kejang itu. Apalagi jenazahnya sempat menginap di rumah dua hari,” kata Kicen saat datang dalam penggalian kubur Sepi di Setra Desa Adat Linggawana Kecamatan Abang pada Selasa (5/10).

Baca Juga:  Jual 6.510 Butir Pil Koplo, Dituntut 4 Tahun, Penjual Pil Koplo Lemes

 

Kicen pun sebelumnya menjelaskan kronologi meninggalnya Sepi. Dia mengatakan, sebelum meninggal, tepatnya sekitar pukul 13.00 Selasa (21/9), Sepi sempat bermain layang-layang dengan adiknya di Bukit Sebau yang tak jauh dari rumahnya di Banjar Dinas Babakan, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang. 

 

Kemudian Sepi dan adiknya pulang ke rumah sekitar pukul 14.00. I Kadek Sepi sempat bercanda dengan adik-adiknya yang masih berusia enam tahun di teras rumah.

 

“Tiba-tiba sekitar jam 4 sore itu dia kejang-kejang,” ujar Kicen yang didampingi sang istri beserta kuasa hukumnya, I Wayan Lanus Artawan, SH.

 

Saat kondisi kejang-kejang itu, Kicen bersama sang istri mengaku panik. Karena saat kejang-kejang, korban ini sempat jatuh ke arah belakang. Hingga menyebabkan muntah dan diare (mencret).

Baca Juga:  Beli Sabu Rp 29 Juta di Poppies Kuta, Ini yang Dirasakan Bule Inggris

 

“Saya langsung mencari dukun di seputaran daerah (Banjar) Kangkang (Desa Kertamandala, Abang, Red) untuk meminta pertolongan,” terangnya.

 

Bahkan sejumlah tetangga, kata dia, juga sempat membantu Sepi yang saat itu tengah sekarat. Hanya saja sekitar pukul 18.00, nyawa sang anak tidak tertolong dan sudah dalam kondisi meninggal.

 

“Itu saya pulang setelah mencari dukun, sudah meninggal,” kata Kicen.

Ia bahkan mengaku tidak pernah memukul anaknya.

 

“Saya ini tidak pernah mendorong apalagi memukul anak,” ucap Kicen.

 

Sebelumnya, pelapor, I Komang Eka Putra yang masih sepupu Sepi mengatakan, setahun lalu, Eka sempat mendapat penuturan dari Sepi bahwa sempat dipukul oleh ayahnya.

 

“Ini pengakuan Sepi, sampai giginya patah,” kata Eka.

- Advertisement -

- Advertisement -

AMLAPURA – Misteri kematian Kadek Sepi terus diusut pihak Unit PPA Reskrim Polres Karangasem. Muncul dugaan adanya penganiayaan terhadap bocah 13 tahun asal Banjar Babakan, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang, Karangasem tersebut. Itu lantaran adanya luka lebam pada tubuh korban.

Untuk mengusut kasus ini, Polres Karangasem membongkar kembali makam Kadek Sepi. Jasad Sepi kemudian diotopsi oleh pihak dari RS Sanglah langsung di kuburan tersebut.  

 


Terkait luka lebam pada tubuh Kadek Sepi, sang ayah, I Nengah Kicen sebelumnya menjelaskan bahwa kemungkinan hal itu akibat terjatuh ke belakang saat Sepi kejang-kejang.

 

“Kemungkinan karena jatuh itu. Karena semua tetangga itu tahu dari dia kejang-kejang itu. Apalagi jenazahnya sempat menginap di rumah dua hari,” kata Kicen saat datang dalam penggalian kubur Sepi di Setra Desa Adat Linggawana Kecamatan Abang pada Selasa (5/10).

Baca Juga:  Pihak Desa Sepakat Berikan Bantuan Hukum dan Jaminan Bagi Suwardana

 

Kicen pun sebelumnya menjelaskan kronologi meninggalnya Sepi. Dia mengatakan, sebelum meninggal, tepatnya sekitar pukul 13.00 Selasa (21/9), Sepi sempat bermain layang-layang dengan adiknya di Bukit Sebau yang tak jauh dari rumahnya di Banjar Dinas Babakan, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang. 

 

Kemudian Sepi dan adiknya pulang ke rumah sekitar pukul 14.00. I Kadek Sepi sempat bercanda dengan adik-adiknya yang masih berusia enam tahun di teras rumah.

 

“Tiba-tiba sekitar jam 4 sore itu dia kejang-kejang,” ujar Kicen yang didampingi sang istri beserta kuasa hukumnya, I Wayan Lanus Artawan, SH.

 

Saat kondisi kejang-kejang itu, Kicen bersama sang istri mengaku panik. Karena saat kejang-kejang, korban ini sempat jatuh ke arah belakang. Hingga menyebabkan muntah dan diare (mencret).

Baca Juga:  [Viral] Aksi Perampok Berpistol di Sebuah SPBU Dekat Tol Bali Mandara

 

“Saya langsung mencari dukun di seputaran daerah (Banjar) Kangkang (Desa Kertamandala, Abang, Red) untuk meminta pertolongan,” terangnya.

 

Bahkan sejumlah tetangga, kata dia, juga sempat membantu Sepi yang saat itu tengah sekarat. Hanya saja sekitar pukul 18.00, nyawa sang anak tidak tertolong dan sudah dalam kondisi meninggal.

 

“Itu saya pulang setelah mencari dukun, sudah meninggal,” kata Kicen.

Ia bahkan mengaku tidak pernah memukul anaknya.

 

“Saya ini tidak pernah mendorong apalagi memukul anak,” ucap Kicen.

 

Sebelumnya, pelapor, I Komang Eka Putra yang masih sepupu Sepi mengatakan, setahun lalu, Eka sempat mendapat penuturan dari Sepi bahwa sempat dipukul oleh ayahnya.

 

“Ini pengakuan Sepi, sampai giginya patah,” kata Eka.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/