alexametrics
27.8 C
Denpasar
Sunday, June 26, 2022

Santri Pondok Pesantren di Tabanan Lapor Polisi Mengaku Dianiaya

TABANAN – Seorang santri sebuah pondok pesantren di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mengaku dianiaya. Santri berinisial RAP yang masih berusia 12 tahun dan kini duduk di bangku kelas 7 MTs itu diduga dianiaya oleh sesama santri pondok pesantren tersebut. Atas peristiwa dugaan penganiayaan tersebut, orang tua santri pun melapor ke Polres Tabanan.

 

Ibu korban, Indra menceritakan bahwa dugaan kejadian itu sudah terjadi beberapa kali. Puncaknya pada tanggal 12 Februari 2022 lalu. Saat itu RAP tiba-tiba menelepon ke rumah dan meminta untuk dijemput dari pondok pesantren tersebut.

“Saat itu anak saya nangis, minta dijemput. Saat itu dia tidak mau tahu dan harus dijemput saat itu juga,” terangnya di Denpasar, Kamis (7/4/2022). 

 

Setibanya di rumah usai dijemput dari pondok pesantren, korban langsung dimandikan dengan air hangat oleh sang ibu. Saat itulah sang ibu kaget melihat tubuh anaknya penuh luka lebam. Luka lebam itu mulai dari lengan kanan dan kiri hingga di wajah dekat mata.

Kedua orang tua korban pun menanyakan penyebabnya. Korban lalu menceritakan bahwa dirinya dipukul oleh teman-temannya saat main. Dari sana terungkap hal lain. Ternyata korban juga mengaku kerap mendapatkan penganiayaan.

Bahkan korban bercerita kepada orang tuanya bahwa beberapa kali sebelumnya dia juga pernah ditendang dan disaksikan oleh orang banyak. 

 

“Dia ditendang perutnya di lantai tiga beberapa kali dan disaksikan orang banyak. Itu terungkap semua akhirnya. Saat saya ambil barang-barang anak saya ke pondok pesantren, saya bertemu salah satu anak yang nendang anak saya. Dia ngaku katanya empat bulan lalu menendang anak saya,” bebernya. 

 

Dari sana, keluarga korban akhirnya melakukan visum. Tiga orang dokter berbeda dari puskesmas dan rumah sakit mengatakan bahwa luka lebam pada tubuh korban akibat dihajar benda tumpul. Sehingga menguatkan dugaan bahwa korban dianiaya.

Atas dasar itulah, pihak keluarga akhirnya melapor ke Polres Tabanan pada tanggal 14 Februari 2022 lalu. Namun, setelah laporan ke polisi dibuat, tetap tidak ada iktikad baik dari pihak yayasan pondok pesantren tersebut untuk meminta maaf.

Menurut Indra, bahkan pihak kepala sekolah dan guru BP di pondok pesantren itu pernah mendatangi rumahnya dan meminta agar laporan itu dicabut.

“Orang pondok pesantrennya itu gak minta maaf sama sekali ke kami. Kepala sekolah dan guru BP juga pernah ke rumah saya. Minta cabut laporan,” bebernya. 

Sementara itu, kuasa hukum korban, Jro Sanjaya mengatakan bahwa saat ini selain dua orang siswa yang dilaporkan, pihaknya juga melaporkan yayasan itu ke polisi karena berupaya menutupi kejadian tersebut.

“Pondok pesantrennya tak bertanggung jawab. Mereka menutupi. Laporan kami sudah sampai kepada diversi. Bapas belum mengeluarkan surat,” ujarnya. 

 

Dikonfirmasi terkait laporan itu, Kasat Reskrim Polres Tabanan, AKP Aji Yoga Sekar menerangkan, saat ini laporan itu sedang dilakukan proses Litmas.

“Sedang dilakukan litmas. Sementara menunggu hasil. Penelitian dari dinas terkait,” pungkasnya.



TABANAN – Seorang santri sebuah pondok pesantren di Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mengaku dianiaya. Santri berinisial RAP yang masih berusia 12 tahun dan kini duduk di bangku kelas 7 MTs itu diduga dianiaya oleh sesama santri pondok pesantren tersebut. Atas peristiwa dugaan penganiayaan tersebut, orang tua santri pun melapor ke Polres Tabanan.

 

Ibu korban, Indra menceritakan bahwa dugaan kejadian itu sudah terjadi beberapa kali. Puncaknya pada tanggal 12 Februari 2022 lalu. Saat itu RAP tiba-tiba menelepon ke rumah dan meminta untuk dijemput dari pondok pesantren tersebut.

“Saat itu anak saya nangis, minta dijemput. Saat itu dia tidak mau tahu dan harus dijemput saat itu juga,” terangnya di Denpasar, Kamis (7/4/2022). 

 

Setibanya di rumah usai dijemput dari pondok pesantren, korban langsung dimandikan dengan air hangat oleh sang ibu. Saat itulah sang ibu kaget melihat tubuh anaknya penuh luka lebam. Luka lebam itu mulai dari lengan kanan dan kiri hingga di wajah dekat mata.

Kedua orang tua korban pun menanyakan penyebabnya. Korban lalu menceritakan bahwa dirinya dipukul oleh teman-temannya saat main. Dari sana terungkap hal lain. Ternyata korban juga mengaku kerap mendapatkan penganiayaan.

Bahkan korban bercerita kepada orang tuanya bahwa beberapa kali sebelumnya dia juga pernah ditendang dan disaksikan oleh orang banyak. 

 

“Dia ditendang perutnya di lantai tiga beberapa kali dan disaksikan orang banyak. Itu terungkap semua akhirnya. Saat saya ambil barang-barang anak saya ke pondok pesantren, saya bertemu salah satu anak yang nendang anak saya. Dia ngaku katanya empat bulan lalu menendang anak saya,” bebernya. 

 

Dari sana, keluarga korban akhirnya melakukan visum. Tiga orang dokter berbeda dari puskesmas dan rumah sakit mengatakan bahwa luka lebam pada tubuh korban akibat dihajar benda tumpul. Sehingga menguatkan dugaan bahwa korban dianiaya.

Atas dasar itulah, pihak keluarga akhirnya melapor ke Polres Tabanan pada tanggal 14 Februari 2022 lalu. Namun, setelah laporan ke polisi dibuat, tetap tidak ada iktikad baik dari pihak yayasan pondok pesantren tersebut untuk meminta maaf.

Menurut Indra, bahkan pihak kepala sekolah dan guru BP di pondok pesantren itu pernah mendatangi rumahnya dan meminta agar laporan itu dicabut.

“Orang pondok pesantrennya itu gak minta maaf sama sekali ke kami. Kepala sekolah dan guru BP juga pernah ke rumah saya. Minta cabut laporan,” bebernya. 

Sementara itu, kuasa hukum korban, Jro Sanjaya mengatakan bahwa saat ini selain dua orang siswa yang dilaporkan, pihaknya juga melaporkan yayasan itu ke polisi karena berupaya menutupi kejadian tersebut.

“Pondok pesantrennya tak bertanggung jawab. Mereka menutupi. Laporan kami sudah sampai kepada diversi. Bapas belum mengeluarkan surat,” ujarnya. 

 

Dikonfirmasi terkait laporan itu, Kasat Reskrim Polres Tabanan, AKP Aji Yoga Sekar menerangkan, saat ini laporan itu sedang dilakukan proses Litmas.

“Sedang dilakukan litmas. Sementara menunggu hasil. Penelitian dari dinas terkait,” pungkasnya.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/