alexametrics
28.7 C
Denpasar
Friday, August 19, 2022

Meninggal Misterius, Jenazah ABK Bandar Nelayan Dievakuasi ke Benoa

DENPASAR – Kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja. Seorang ABK KM Bandar Nelayan 102 bernama Tri Hardi Hartono, 26, meninggal dunia saat berlayar mencari ikan di perairan Samudera Hindia.

Tri Hardi Hartono meninggal, Selasa (11/6) lalu dan jenazahnya tiba di Pelabuhan Benoa, Jumat (5/7) pagi lalu dievakuasi dengan KM Bandar Nelayan 209.

Belum diketahui pasti penyebab meninggalnya korban. Korban pertama kali diketahui meninggal dunia oleh temannya sesama ABK, Yudi, 24.

“Yudi hendak membangunkan Tri Hardi Hartono, tapi saat dibangunkan sudah tidak bernyawa,” ujar sumber di Dit Polair Polda Bali kemarin.

Setibanya di Pelabuhan Benoa jenazah langsung dibawa ke RSUP Sanglah Denpasar untuk dilakukan visum et revertum.

Baca Juga:  Diduga Alami Gangguan Jantung, Bayi Kembar Siam Butuh Uluran Tangan

Penyidik Dit Polair Polda Bali langsung memintai keterangan Yudi. Dari hasil penyelidikan, Yudi mengatakan korban diketahui meninggal dunia saat dibangunkan untuk bekerja.

Saat dibangunkan, korban asal Desa Sugiharjo, Dusun V, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara ini tak ada respons. 

Karena tak ada respons, Yudi mengajak dua orang teman lainnya, Boby Anggara dan Rady membangunkan Yudi.

Namun, sama sekali tidak ada respons. Mereka lalu mengecek pernapasan Tri Hardi Hartono dengan mengecek detak nadi. Ternyata korban sudah tak bernyawa.

Urat nadinya sudah tak berdenyut. “Ketiganya melaporkan peristiwa itu kepada nahkoda kapal. Saat diperiksa oleh nahkoda kapal menyimpulkan korban telah menunggal dunia,” beber sumber. 

Baca Juga:  Hasil Otopsi Jenazah Tri Nugraha, Peluru Tembus Dada hingga Punggung

Dari identifikasi sementara, tidak ditemukan luka-luka pada tubuh korban. Karena belum jadwalnya untuk pulang, terpaksa jenazah korban disimpan di dalam palka kapal.

Tanggal 20 Juni jenazah korban dititipkan ke KM Bandar Nelayan 209 untuk dibawa pulang ke kampung halamannya melalui Pelabuhan Benoa.

Untuk mengetahui penyebab matinya korban, pihak kepolisian masih menunggu hasil visum yang dilakukan tim forensik RSUP Sanglah Denpasar.

 

 



DENPASAR – Kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja. Seorang ABK KM Bandar Nelayan 102 bernama Tri Hardi Hartono, 26, meninggal dunia saat berlayar mencari ikan di perairan Samudera Hindia.

Tri Hardi Hartono meninggal, Selasa (11/6) lalu dan jenazahnya tiba di Pelabuhan Benoa, Jumat (5/7) pagi lalu dievakuasi dengan KM Bandar Nelayan 209.

Belum diketahui pasti penyebab meninggalnya korban. Korban pertama kali diketahui meninggal dunia oleh temannya sesama ABK, Yudi, 24.

“Yudi hendak membangunkan Tri Hardi Hartono, tapi saat dibangunkan sudah tidak bernyawa,” ujar sumber di Dit Polair Polda Bali kemarin.

Setibanya di Pelabuhan Benoa jenazah langsung dibawa ke RSUP Sanglah Denpasar untuk dilakukan visum et revertum.

Baca Juga:  Terdampak Pandemi, Dirumahkan, Dibui karena Jadi Penyelenggara Tajen

Penyidik Dit Polair Polda Bali langsung memintai keterangan Yudi. Dari hasil penyelidikan, Yudi mengatakan korban diketahui meninggal dunia saat dibangunkan untuk bekerja.

Saat dibangunkan, korban asal Desa Sugiharjo, Dusun V, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara ini tak ada respons. 

Karena tak ada respons, Yudi mengajak dua orang teman lainnya, Boby Anggara dan Rady membangunkan Yudi.

Namun, sama sekali tidak ada respons. Mereka lalu mengecek pernapasan Tri Hardi Hartono dengan mengecek detak nadi. Ternyata korban sudah tak bernyawa.

Urat nadinya sudah tak berdenyut. “Ketiganya melaporkan peristiwa itu kepada nahkoda kapal. Saat diperiksa oleh nahkoda kapal menyimpulkan korban telah menunggal dunia,” beber sumber. 

Baca Juga:  Pertanyakan Keberadaan Ashram, Ormas Hindu Geruduk Kantor Lurah

Dari identifikasi sementara, tidak ditemukan luka-luka pada tubuh korban. Karena belum jadwalnya untuk pulang, terpaksa jenazah korban disimpan di dalam palka kapal.

Tanggal 20 Juni jenazah korban dititipkan ke KM Bandar Nelayan 209 untuk dibawa pulang ke kampung halamannya melalui Pelabuhan Benoa.

Untuk mengetahui penyebab matinya korban, pihak kepolisian masih menunggu hasil visum yang dilakukan tim forensik RSUP Sanglah Denpasar.

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/