alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 22, 2022

Diduga Salah Tulis di Manifes, Penumpang Selamat Ditulis Korban Hilang

NEGARA-Fakta baru terungkap dari musibah tenggelamnya KMP Yunicee di Perairan Selat Bali beberapa waktu lalu.

 

Adanya fakta baru, ini menyusul penelusuran yang dilakukan pihak Jasa Raharja Bali terhadap 17 nama korban KMP Yunicee sesaat setelah karam saat melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali.

 

Saat penelusuran, pihak Jasa Raharja menemukan dua penumpang KMP Yunicee yang sebelumnya masih tercatat sebagai korban hilang, namun ternyata berhasil ditolong kapal lain dan dalam kondisi selamat.

 

Seperti dibenarkan Kepala Bagian Operasi Jasa Raharja Bali Lalu Sarifudin, Rabu (7/7).

- Advertisement -

 

Dikatakan, munculnya kekeliruan atau data ganda ini terjadi saat kejadian.

 

Dimana dari dugaan Sarifudin, korban diselamatkan kapal lain ke Pelabuhan Ketapang. Pada saat diseberangkan ke Pelabuhan Ketapang, korban sudah melapor sebagai salah satu korban selamat. Hanya saja, penulisan nama beda.

 

Saat melapor, korban atas nama I Putu Sutrasana, asal Tabanan. Tetapi di manifes ditulis Sutra. “Karena di manifes hanya ditulis Sutra, dianggap tidak selamat atau dalam pencarian,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tilep Duit Nasabah Bayar Pinjol, Eks Sales Bank BUMN Divonis 2 Tahun

 

Sedangkan sesuai data di posko sebelumnya, Person On board (POB) KMP Yunicee, nama I Putu Sutrasana, asal Tabanan, masuk dalam salah satu panumpang non manifest yang selamat.

 

Namun dalam data yang sama, terdapat nama Sutra yang masuk dalam manifes masih dalam pencarian.

 

Selain Sutra, satu nama lagi atas nama Mahadi penumpang. Namun mengenai nama penumpang yang masuk dalam manifes tersebut tetapi masih ditelusuri.

 

Karena diduga salah penulisan nama, antara nama Mahadi atau Mang Adi. Diduga saat menyeberang menyebut nama panggilan Mang Adi, tetapi ditulis Mahadi. “Mengenai nama Mahadi ini masih belum pasti, masih kami telusuri,” tegasnya.

 

Sementara itu Kepala Pos Pencarian dan Pertolongan Bali I Gede Darmada mengatakan, sampai kemarin masih belum ada laporan data korban selamat lagi.

 

Pihaknya masih menelusuri informasi mengenai nama penumpang yang diduga selamat tersebut.

Baca Juga:  Penyeberangan Gilimanuk Ramai Jelang Nataru, Patroli Laut Ditingkatkan

 

“Sampai saat ini belum ada informasi pasti. Kami akan telusuri untuk memastikan lagi informasi tersebut,” tegasnya.

 

Seperti diketahui, KMP Yunicee tenggelam di perairan Selat Bali, Selasa (29/6) malam.

 

Kapal yang berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk membawa 77 orang penumpang dan crew kapal. Sebanyak 51 orang selamat, 17 orang dalam pencarian dan 9 orang meninggal. 

 

Sedangkan kapal dan muatan 41 kendaraan, tenggelam di kedalaman sekitar 78 meter.

 

Terhitung sejak, Senin (5/7) lalu, operasi pencarian terintegrasi oleh tim sar gabungan dihentikan. Sedangkan penyelidikan tenggelamnya diambil alih oleh Mabes Polri karena tempat kejadian perkara berada di perbatasan dua provinsi.

 

Penghentian operasi pencarian korban terhitung sejak Senin sore kemarin setelah stakeholder terkait yang tergabung dalam tim sar menggelar rapat di ruang pertemuan ASDP Pelabuhan Gilimanuk.

 

Karena sesuai dengan ketentuan, operasi sar terintegrasi dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama tujuh hari.

- Advertisement -

NEGARA-Fakta baru terungkap dari musibah tenggelamnya KMP Yunicee di Perairan Selat Bali beberapa waktu lalu.

 

Adanya fakta baru, ini menyusul penelusuran yang dilakukan pihak Jasa Raharja Bali terhadap 17 nama korban KMP Yunicee sesaat setelah karam saat melakukan penyeberangan dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali.

 

Saat penelusuran, pihak Jasa Raharja menemukan dua penumpang KMP Yunicee yang sebelumnya masih tercatat sebagai korban hilang, namun ternyata berhasil ditolong kapal lain dan dalam kondisi selamat.

 

Seperti dibenarkan Kepala Bagian Operasi Jasa Raharja Bali Lalu Sarifudin, Rabu (7/7).

 

Dikatakan, munculnya kekeliruan atau data ganda ini terjadi saat kejadian.

 

Dimana dari dugaan Sarifudin, korban diselamatkan kapal lain ke Pelabuhan Ketapang. Pada saat diseberangkan ke Pelabuhan Ketapang, korban sudah melapor sebagai salah satu korban selamat. Hanya saja, penulisan nama beda.

 

Saat melapor, korban atas nama I Putu Sutrasana, asal Tabanan. Tetapi di manifes ditulis Sutra. “Karena di manifes hanya ditulis Sutra, dianggap tidak selamat atau dalam pencarian,” ungkapnya.

Baca Juga:  Cari Ikan Siang Bolong, Mesin Jukung Mati, 4 Nelayan Ditemukan Selamat

 

Sedangkan sesuai data di posko sebelumnya, Person On board (POB) KMP Yunicee, nama I Putu Sutrasana, asal Tabanan, masuk dalam salah satu panumpang non manifest yang selamat.

 

Namun dalam data yang sama, terdapat nama Sutra yang masuk dalam manifes masih dalam pencarian.

 

Selain Sutra, satu nama lagi atas nama Mahadi penumpang. Namun mengenai nama penumpang yang masuk dalam manifes tersebut tetapi masih ditelusuri.

 

Karena diduga salah penulisan nama, antara nama Mahadi atau Mang Adi. Diduga saat menyeberang menyebut nama panggilan Mang Adi, tetapi ditulis Mahadi. “Mengenai nama Mahadi ini masih belum pasti, masih kami telusuri,” tegasnya.

 

Sementara itu Kepala Pos Pencarian dan Pertolongan Bali I Gede Darmada mengatakan, sampai kemarin masih belum ada laporan data korban selamat lagi.

 

Pihaknya masih menelusuri informasi mengenai nama penumpang yang diduga selamat tersebut.

Baca Juga:  Tolong Catat, Program Pemutihan Pajak Kendaraan Segera Berakhir

 

“Sampai saat ini belum ada informasi pasti. Kami akan telusuri untuk memastikan lagi informasi tersebut,” tegasnya.

 

Seperti diketahui, KMP Yunicee tenggelam di perairan Selat Bali, Selasa (29/6) malam.

 

Kapal yang berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk membawa 77 orang penumpang dan crew kapal. Sebanyak 51 orang selamat, 17 orang dalam pencarian dan 9 orang meninggal. 

 

Sedangkan kapal dan muatan 41 kendaraan, tenggelam di kedalaman sekitar 78 meter.

 

Terhitung sejak, Senin (5/7) lalu, operasi pencarian terintegrasi oleh tim sar gabungan dihentikan. Sedangkan penyelidikan tenggelamnya diambil alih oleh Mabes Polri karena tempat kejadian perkara berada di perbatasan dua provinsi.

 

Penghentian operasi pencarian korban terhitung sejak Senin sore kemarin setelah stakeholder terkait yang tergabung dalam tim sar menggelar rapat di ruang pertemuan ASDP Pelabuhan Gilimanuk.

 

Karena sesuai dengan ketentuan, operasi sar terintegrasi dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama tujuh hari.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/