alexametrics
30.4 C
Denpasar
Monday, May 23, 2022

Pembunuh Dokter Hewan Dituntut 19 Tahun Penjara

TABANAN– Terdakwa pembunuh dokter hewan, Ida Bagus Ketut Alit Surya Ambara alias Surya Braco sudah menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tabanan.

 

Kepala Seksi Pidana Umum pada Kejari Tabanan, I Dewa Gede Putra Awatara mengatakan, terdakwa dituntut hukuman 19 tahun penjara. Selain itu, penuntut umum juga menuntut agar terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana seperti ketentuan Pasal 340 KUHP.

 

“Terdakwa sempat memohon pledoi dan kami juga sudah menanggapinya lewat replik. Minggu ini rencananya duplik,” jelas Kepala Seksi Pidana Umum pada Kejari Tabanan, I Dewa Gede Putra Awatara, Minggu (7/11).

 

Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan pihaknya untuk menetapkan tuntutan tersebut. Selain karena perbuatan terdakwa terhadap korban, Drh I Made Kompyang Artawan alias Pak Dipa meninggal dunia, pihak terdakwa tidak ada upaya melakukan perdamaian.

- Advertisement -

 

Kemudian, sesuai dengan fakta persidangan, terungkap bahwa sejak 2019, terdakwa dan korban memang ada masalah pilihan politik. Dan soal ini kemudian berlanjut sampai dengan korban ditusuk terdakwa sampai meninggal dunia.

Baca Juga:  Terpidana Hendro Diciduk di Tangerang, Satu DPO Bali Rich Masih Diburu

 

Sejak itu juga, korban kepada keluarganya sempat mengaku merasa sering diteror serta diprovokasi. Hanya saja, karena di banjar dia berstatus sentana, korban berusaha menahan diri.

 

“Kami meyakini terdakwa melakukan perencanaan karena beberapa jejak digital pada akun media sosial yang ditelusuri tim kami. Di penyidikan ini tidak ada. Tim kami yang melacaknya,” jelasnya.

 

Dikatakan, penuntut memadukan keterangan saksi dari pihak korban dengan jejak digital tersebut. Dalam beberapa jejak digital sebelum kejadian pembunuhan terjadi, korban sempat menuliskan beberapa status yang menyiratkan adanya gangguan dari orang lain.

 

“Itu kenapa kami berkeyakinan bahwa itu pembunuhan berencana. Cuma sebelum kejadian, korban berusaha menahan diri. Dalam salah satu statusnya korban mengaku tidak takut. Hanya saja malas untuk ribut,” pungkas Awatara seraya menjelaskan, bukti jejak digital ini telah disampaikan dalam surat tuntutan maupun replik atas pembelaan terdakwa jelang akhir November 2021 lalu.

Baca Juga:  Mafia Kasus Tumbuh Subur, Situs PN Singaraja Diretas Hacker

 

Seperti ketahui peristiwa pembunuhan dengan korban drh. I Made Kompyang Artawan, 47, yang dilakukan pelaku Ida Bagus Alit Surya Ambara, 41,bulan Maret lalu di Banjar Riang Gede Darma Kelod, Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel.

 

Peristiwa itu bermula dari pelaku yang dulu bekerja sebagai pelaku wisata tanpa sengaja bertemu dengan korban. Dimana kedua sama-sama mengendarai sepeda motor. Pelaku mengendarai motor Yamaha Aerox nopol 6346 FAL dan korban mengendarai motor Honda Beat DK 2036 GAF.

 

Lantaran tersinggung, pelaku kemudian mengikuti korban dari arah belakang sambil memepet korban. Diatas sepeda motor pelaku dan korban sempat terjadi adu mulut. Sesampai di depan rumah pelaku, tanpa banyak tanya pelaku seketika langsung menganiaya korban dengan pisau lipat yang digantung pada kunci motor.

 

- Advertisement -

TABANAN– Terdakwa pembunuh dokter hewan, Ida Bagus Ketut Alit Surya Ambara alias Surya Braco sudah menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tabanan.

 

Kepala Seksi Pidana Umum pada Kejari Tabanan, I Dewa Gede Putra Awatara mengatakan, terdakwa dituntut hukuman 19 tahun penjara. Selain itu, penuntut umum juga menuntut agar terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana seperti ketentuan Pasal 340 KUHP.

 

“Terdakwa sempat memohon pledoi dan kami juga sudah menanggapinya lewat replik. Minggu ini rencananya duplik,” jelas Kepala Seksi Pidana Umum pada Kejari Tabanan, I Dewa Gede Putra Awatara, Minggu (7/11).

 

Menurutnya, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan pihaknya untuk menetapkan tuntutan tersebut. Selain karena perbuatan terdakwa terhadap korban, Drh I Made Kompyang Artawan alias Pak Dipa meninggal dunia, pihak terdakwa tidak ada upaya melakukan perdamaian.

 

Kemudian, sesuai dengan fakta persidangan, terungkap bahwa sejak 2019, terdakwa dan korban memang ada masalah pilihan politik. Dan soal ini kemudian berlanjut sampai dengan korban ditusuk terdakwa sampai meninggal dunia.

Baca Juga:  Selundupkan 590 Butir Ekstasi, Napi Teman Sipir Didakwa Pasal Berlapis

 

Sejak itu juga, korban kepada keluarganya sempat mengaku merasa sering diteror serta diprovokasi. Hanya saja, karena di banjar dia berstatus sentana, korban berusaha menahan diri.

 

“Kami meyakini terdakwa melakukan perencanaan karena beberapa jejak digital pada akun media sosial yang ditelusuri tim kami. Di penyidikan ini tidak ada. Tim kami yang melacaknya,” jelasnya.

 

Dikatakan, penuntut memadukan keterangan saksi dari pihak korban dengan jejak digital tersebut. Dalam beberapa jejak digital sebelum kejadian pembunuhan terjadi, korban sempat menuliskan beberapa status yang menyiratkan adanya gangguan dari orang lain.

 

“Itu kenapa kami berkeyakinan bahwa itu pembunuhan berencana. Cuma sebelum kejadian, korban berusaha menahan diri. Dalam salah satu statusnya korban mengaku tidak takut. Hanya saja malas untuk ribut,” pungkas Awatara seraya menjelaskan, bukti jejak digital ini telah disampaikan dalam surat tuntutan maupun replik atas pembelaan terdakwa jelang akhir November 2021 lalu.

Baca Juga:  Rawan Dibobol, Polisi di Badung Jaga Ketat Sejumlah Mesin ATM

 

Seperti ketahui peristiwa pembunuhan dengan korban drh. I Made Kompyang Artawan, 47, yang dilakukan pelaku Ida Bagus Alit Surya Ambara, 41,bulan Maret lalu di Banjar Riang Gede Darma Kelod, Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel.

 

Peristiwa itu bermula dari pelaku yang dulu bekerja sebagai pelaku wisata tanpa sengaja bertemu dengan korban. Dimana kedua sama-sama mengendarai sepeda motor. Pelaku mengendarai motor Yamaha Aerox nopol 6346 FAL dan korban mengendarai motor Honda Beat DK 2036 GAF.

 

Lantaran tersinggung, pelaku kemudian mengikuti korban dari arah belakang sambil memepet korban. Diatas sepeda motor pelaku dan korban sempat terjadi adu mulut. Sesampai di depan rumah pelaku, tanpa banyak tanya pelaku seketika langsung menganiaya korban dengan pisau lipat yang digantung pada kunci motor.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/