alexametrics
26.5 C
Denpasar
Sunday, August 14, 2022

Eks Kepsek yang Cabuli dan Cumbui Siswi di UKS Saat PTMT Terima Diskon

PUTUSAN mengejutkan dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bali terhadap terdakwa kasus pencabulan yang dilakukan oknum kepala sekolah (kepsek) di Negara, Jembran, Bali berinisial GK, 58.

Mengejutkan karena atas kasus ini, pihak PT Bali menganulir putusan majelis hakim di pengadilan tingkat pertama (PN Negara) dan memberikan diskon hukuman bagi terdakwa pencabul siswi.

M.BASIR, Negara

Keputusan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bali memberikan keringan hukuman bagi mantan atau eks kepsek yang sempat divonis maksimal oleh pengadilan negeri (PN) Negara benar-benar mengejutkan publik.

Atas upaya hukum banding yang dilakukan terdakwa melalui kuasa hukumnya, PT Bali akhirnya hanya memvonisterdakwa dengan pidana 12 penjara.

Putusan banding tersebut, sama persis dengan tuntutan jaksa penuntut umum dalam proses sidang tingkat pertama sebelumnya.

Turunnya putusan terhadap mantan kepsek yang juga terdakwa kasus persetubuhan siswi itu, dibenarkan Kasipidum Kejari Jembrana Delfi Trimariono.

Menurutnya, petikan putusan banding dari PT Bali sudah diterima oleh jaksa penuntut umum.

Selanjutnya atas putusan tersebut masih belum menentukan sikap apakah akan melakukan upaya hukum kasasi atau tidak. “Kami masih pikir-pikir, begitu juga dengan terdakwa. Masih pikir-pikir,” jelasnya.

Baca Juga:  Perkosa Bule Inggris Usai Party, 1 x 24 Jam Kabur, Pria Atambua Didor

Delfi menjelaskan, putusan banding untuk terdakwa 12 tahun pidana penjara. Putusan tersebut berkurang tiga tahun dari putusan sidang tingkat pertama sebelumnya.

Di mana, majelis hakim PN Negara memutus 15 tahun pidana penjara, ditambah denda sebesar Rp 100 juta.

Jika denda tidak dibayar, maka terdakwa wajib mengganti dengan kurungan penjara selama 6 bulan. Putusan tiga tahun lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum.

“Putusan banding sama dengan tuntutan dari jaksa,” tegasnya.

Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pasal 81 ayat (1) dan (3) Undang-Undang (UU) RI No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menjadi Undang-Undang, juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Putusan terhadap terdakwa lebih berat dari kasus asusila sebelumnya.

Pertimbangan mendasarnya, karena terdakwa sebagai seorang pendidik, perbuatan terdakwa mencoreng citra dunia pendidikan dan profesi guru, perbuatan terdakwa melanggar norma hukum, norma agama, norma kesusilaan, asas kepatutan, dan ketertiban umum.

Selain itu, akibat perbuatan terdakwa tersebut secara langsung atau tidak langsung juga merugikan masa depan dan perkembangan kejiwaan atau menimbulkan trauma bagi anak korban.

Baca Juga:  Pesta Minum Arak, ABK Penusuk Teman Sendiri Diganjar 2 Tahun Bui

Sementara, hingga kasus ini terungkap, yakni bermula saat korban bersama teman sekolahnya belajar kelompok di rumah korban.

Saat itu, salah satu teman korban mengungkapkan pada ibu korban bahwa korban merupakan siswi paling disayang kepala sekolah, bahkan korban pernah dicium kepala sekolah.

 Namun cerita teman korban tidak dihiraukan ibu korban.

Singkat cerita, pada malam harinya, ibu korban yang penasaran dengan cerita teman korban menanyakan pada korban.

Atas pertanyaan ibu korban, korban yang masih duduk di bangku kelas VI SD ini akhirnya mau menceritakan yang dialaminya.

Korban mengaku bahwa terdakwa (oknum kepala sekolah) melakukan pelecehan seksual pada korban di ruang UKS sekolah saat siswa lain saat sekolah sepi.

Mendengar cerita korban, ayah korban yang tak terima kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polres Jembrana.

Usai dilaporkan, polisi akhirnya menangkap GK,58.  Hasil penyidikan, korban disetubuhi oknum kepala sekolah saat klinik pembelajaran yang digelar secara tatap muka terbatas di sekolah.

 



PUTUSAN mengejutkan dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bali terhadap terdakwa kasus pencabulan yang dilakukan oknum kepala sekolah (kepsek) di Negara, Jembran, Bali berinisial GK, 58.

Mengejutkan karena atas kasus ini, pihak PT Bali menganulir putusan majelis hakim di pengadilan tingkat pertama (PN Negara) dan memberikan diskon hukuman bagi terdakwa pencabul siswi.

M.BASIR, Negara

Keputusan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bali memberikan keringan hukuman bagi mantan atau eks kepsek yang sempat divonis maksimal oleh pengadilan negeri (PN) Negara benar-benar mengejutkan publik.

Atas upaya hukum banding yang dilakukan terdakwa melalui kuasa hukumnya, PT Bali akhirnya hanya memvonisterdakwa dengan pidana 12 penjara.

Putusan banding tersebut, sama persis dengan tuntutan jaksa penuntut umum dalam proses sidang tingkat pertama sebelumnya.

Turunnya putusan terhadap mantan kepsek yang juga terdakwa kasus persetubuhan siswi itu, dibenarkan Kasipidum Kejari Jembrana Delfi Trimariono.

Menurutnya, petikan putusan banding dari PT Bali sudah diterima oleh jaksa penuntut umum.

Selanjutnya atas putusan tersebut masih belum menentukan sikap apakah akan melakukan upaya hukum kasasi atau tidak. “Kami masih pikir-pikir, begitu juga dengan terdakwa. Masih pikir-pikir,” jelasnya.

Baca Juga:  Dua Pria Misterius Terekam Kamera CCTV Curi Motor di Sunset Road Kuta

Delfi menjelaskan, putusan banding untuk terdakwa 12 tahun pidana penjara. Putusan tersebut berkurang tiga tahun dari putusan sidang tingkat pertama sebelumnya.

Di mana, majelis hakim PN Negara memutus 15 tahun pidana penjara, ditambah denda sebesar Rp 100 juta.

Jika denda tidak dibayar, maka terdakwa wajib mengganti dengan kurungan penjara selama 6 bulan. Putusan tiga tahun lebih berat dari tuntutan jaksa penuntut umum.

“Putusan banding sama dengan tuntutan dari jaksa,” tegasnya.

Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pasal 81 ayat (1) dan (3) Undang-Undang (UU) RI No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menjadi Undang-Undang, juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Putusan terhadap terdakwa lebih berat dari kasus asusila sebelumnya.

Pertimbangan mendasarnya, karena terdakwa sebagai seorang pendidik, perbuatan terdakwa mencoreng citra dunia pendidikan dan profesi guru, perbuatan terdakwa melanggar norma hukum, norma agama, norma kesusilaan, asas kepatutan, dan ketertiban umum.

Selain itu, akibat perbuatan terdakwa tersebut secara langsung atau tidak langsung juga merugikan masa depan dan perkembangan kejiwaan atau menimbulkan trauma bagi anak korban.

Baca Juga:  Polisi Bekuk Lima Orang Terduga Komplotan Pembalakan Liar di Buleleng

Sementara, hingga kasus ini terungkap, yakni bermula saat korban bersama teman sekolahnya belajar kelompok di rumah korban.

Saat itu, salah satu teman korban mengungkapkan pada ibu korban bahwa korban merupakan siswi paling disayang kepala sekolah, bahkan korban pernah dicium kepala sekolah.

 Namun cerita teman korban tidak dihiraukan ibu korban.

Singkat cerita, pada malam harinya, ibu korban yang penasaran dengan cerita teman korban menanyakan pada korban.

Atas pertanyaan ibu korban, korban yang masih duduk di bangku kelas VI SD ini akhirnya mau menceritakan yang dialaminya.

Korban mengaku bahwa terdakwa (oknum kepala sekolah) melakukan pelecehan seksual pada korban di ruang UKS sekolah saat siswa lain saat sekolah sepi.

Mendengar cerita korban, ayah korban yang tak terima kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polres Jembrana.

Usai dilaporkan, polisi akhirnya menangkap GK,58.  Hasil penyidikan, korban disetubuhi oknum kepala sekolah saat klinik pembelajaran yang digelar secara tatap muka terbatas di sekolah.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/