alexametrics
26.5 C
Denpasar
Monday, August 8, 2022

Penyelidikan Jalan di Tempat, Korban Mulai Meradang

DENPASAR– Meski sudah 1,5 tahun bergulir dan menjadi perhatian publik, kasus dugaan penggelepan berkedok arisan online ILK ternyata masih jalan di tempat.

 

Sampai saat ini penyidik Ditreskrimum Polda Bali belum menetapkan tersangka. IYK yang dilaporkan para korban arisan online pun statusnya masih terlapor.

 

“Jujur, kami sangat sedih. Awalnya kami berharap banyak bisa terang, ternyata setelah satu tahun lebih tidak ada kejelasan,” keluh Anastasia Novalina, pelapor sekaligus korban,Senin (8/11).

 

Anastasia yang didampingi Agus Sujoko selaku kuasa hukumnya itu menyebut awal November mendapat surat dari penyidik. Dalam surat tersebut, penyidik menemui kendala atau hambatan. Di mana terlapor IYK masih melengkapi bukti-bukti pendukung terkait kloter-kloter arisan.

Baca Juga:  Takut Dicerai Suami, Korban Arisan Online Ingin Uangnya Kembali

 

“Mestinya kalau dipanggil sekali dua kali tidak datang, ya dipanggil paksa. Kalau ditunggu terus, sampai kapan? Harus ada kejelasan,” cetus Agus.

 

Agus mendorong penyidik untuk kerja lebih keras lagi dalam memeriksa terlapor. Apalagi penyidik sebelumnya sudah memanggil dan memeriksa sejumlah saksi. Penyidik juga telah menyita puluhan alat bukti yang mengarah kuat pada Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan.

 

“Sejauh ini para korban masih percaya dan optimistis dengan kinerja penyidik. Harapannya hanya satu, kasus ini bisa menemui titik terang status tersangka. Sebab, ada uang miliaran rupiah yang harus dipertanggunjawabkan,” beber pengacara kawakan itu.

 

Dijelaskan, dari 179 korban, total kerugian diperkirakan Rp 8 miliar. Agus berharap uang para korban bisa dikembalikan melalui putusan pengadilan. Para korban disebut nelangsa lantaran rata-rata uang puluhan hingga ratusan juta rupiah yang digunakan arisan bukan murni uang korban.

Baca Juga:  TERUNGKAP! Tengkorak Itu Berjenis Kelamin Cowok, Tewas Enam Bulan Lalu

“Ada yang pakai uangnya suami, saudara, mertua, dan kerabat. Pokoknya macam-macam jenisnya. Karena itu, para korban sangat berharap uangnya kembali,” pungkasnya.

 



DENPASAR– Meski sudah 1,5 tahun bergulir dan menjadi perhatian publik, kasus dugaan penggelepan berkedok arisan online ILK ternyata masih jalan di tempat.

 

Sampai saat ini penyidik Ditreskrimum Polda Bali belum menetapkan tersangka. IYK yang dilaporkan para korban arisan online pun statusnya masih terlapor.

 

“Jujur, kami sangat sedih. Awalnya kami berharap banyak bisa terang, ternyata setelah satu tahun lebih tidak ada kejelasan,” keluh Anastasia Novalina, pelapor sekaligus korban,Senin (8/11).

 

Anastasia yang didampingi Agus Sujoko selaku kuasa hukumnya itu menyebut awal November mendapat surat dari penyidik. Dalam surat tersebut, penyidik menemui kendala atau hambatan. Di mana terlapor IYK masih melengkapi bukti-bukti pendukung terkait kloter-kloter arisan.

Baca Juga:  10 Orang Diciduk dalam Bentrok Pembubaran Tahun Baruan Anak Kos

 

“Mestinya kalau dipanggil sekali dua kali tidak datang, ya dipanggil paksa. Kalau ditunggu terus, sampai kapan? Harus ada kejelasan,” cetus Agus.

 

Agus mendorong penyidik untuk kerja lebih keras lagi dalam memeriksa terlapor. Apalagi penyidik sebelumnya sudah memanggil dan memeriksa sejumlah saksi. Penyidik juga telah menyita puluhan alat bukti yang mengarah kuat pada Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan.

 

“Sejauh ini para korban masih percaya dan optimistis dengan kinerja penyidik. Harapannya hanya satu, kasus ini bisa menemui titik terang status tersangka. Sebab, ada uang miliaran rupiah yang harus dipertanggunjawabkan,” beber pengacara kawakan itu.

 

Dijelaskan, dari 179 korban, total kerugian diperkirakan Rp 8 miliar. Agus berharap uang para korban bisa dikembalikan melalui putusan pengadilan. Para korban disebut nelangsa lantaran rata-rata uang puluhan hingga ratusan juta rupiah yang digunakan arisan bukan murni uang korban.

Baca Juga:  Ditahan, Eks Bendahara Dauh Puri Klod Tuding Jadi Tumbal Perbekel

“Ada yang pakai uangnya suami, saudara, mertua, dan kerabat. Pokoknya macam-macam jenisnya. Karena itu, para korban sangat berharap uangnya kembali,” pungkasnya.

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/