27.6 C
Denpasar
Tuesday, January 31, 2023

Ternyata, Meskipun Bebas Umar Patek Tetap Wajib Ikut Bimbingan Sampai Tahun 2030

SURABAYA- Bebasnya sosok pria bermata tajam, Hisyam bin Ali Zein,52, alias Umar Patek, salah seorang teman pelaku Bom Bali 1, 12 Oktober  2002, Amrozi, tetap dengan syarat wajib yang harus dijalani. Dia tetap harus menjalani bimbingan khusus untuk narapidana tahanan terorisme (napiter).

Bebas bersyaratnya Umar Patek ini juga lantaran dia sudah lolos sejumlah persyaratan khusus sebagai napiter. Sejauh dari evaluasi, dia dinilai sudah insyaf, kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Terkait pembebasan bersyarat kepada Umar Patek juga telah direkomendasikan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 (Densus 88). Sehingga Umar Patek akan diserahkan kedua lembaga itu kepada keluarga.

Baca Juga:  Ba’asyir Dibebaskan, Aktivis Anggap Kebablasan dan Lukai Warga Bali

Dengan pembebasan bersyarat tersebut, lanjut Jalu Yuswa Panjang, yang bersangkutan sudah beralih status dari narapidana menjadi klien Pemasyarakatan Bapas Surabaya. Artinya, Umar Patek wajib mengikuti program pembimbingan sampai dengan 29 April 2030.

Dan, ini  masih dalam pantauan  yang melekat. Kalau ada indikasi   dia berbuat   aneh-aneh, Kembali ke aktivitas  terorisme misalnya, kebebasannya  bisa dicabut. ”Apabila sampai dengan masa itu terjadi pelanggaran, hak bersyaratnya akan dicabut,” papar Jalu Yuswa Panjang.

Koordinator Humas dan Protokol Ditjenpas Rika Aprianti menyatakan, Umar Patek dinyatakan sudah deradikalisasi dan dinyatakan setia pada NKRI oleh Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 (Densus 88). Karena itu, yang bersangkutan berhak mendapatkan program pembebasan bersyarat.

Baca Juga:  Karyawan Royal Palace Tewas di Renon, Polisi Dalami Motif Laka & Begal

”Program pembebasan bersyarat merupakan hak yang diberikan kepada seluruh narapidana yang  telah memenuhi persyaratan administratif dan substansif antara lain sudah menjalani 2/3 masa pidana, berkelakuan baik, telah mengikuti program pembinaan, dan telah menunjukkan penurunan risiko seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan. Persyaratan khusus yang telah dipenuhi Umar Patek adalah telah mengikuti program pembinaan deradikalisasi dan telah berikrar setia NKRI,” terang Rika.

Dia mengatakan, pemberian pembebasan bersyarat kepada Umar Patek juga telah direkomendasikan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 (Densus 88). (JPG/jawapos.com)

 

 



SURABAYA- Bebasnya sosok pria bermata tajam, Hisyam bin Ali Zein,52, alias Umar Patek, salah seorang teman pelaku Bom Bali 1, 12 Oktober  2002, Amrozi, tetap dengan syarat wajib yang harus dijalani. Dia tetap harus menjalani bimbingan khusus untuk narapidana tahanan terorisme (napiter).

Bebas bersyaratnya Umar Patek ini juga lantaran dia sudah lolos sejumlah persyaratan khusus sebagai napiter. Sejauh dari evaluasi, dia dinilai sudah insyaf, kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Terkait pembebasan bersyarat kepada Umar Patek juga telah direkomendasikan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 (Densus 88). Sehingga Umar Patek akan diserahkan kedua lembaga itu kepada keluarga.

Baca Juga:  WOW! Kejari Buleleng Bakar Puluhan Ribu Bungkus Rokok Berbagai Merek

Dengan pembebasan bersyarat tersebut, lanjut Jalu Yuswa Panjang, yang bersangkutan sudah beralih status dari narapidana menjadi klien Pemasyarakatan Bapas Surabaya. Artinya, Umar Patek wajib mengikuti program pembimbingan sampai dengan 29 April 2030.

Dan, ini  masih dalam pantauan  yang melekat. Kalau ada indikasi   dia berbuat   aneh-aneh, Kembali ke aktivitas  terorisme misalnya, kebebasannya  bisa dicabut. ”Apabila sampai dengan masa itu terjadi pelanggaran, hak bersyaratnya akan dicabut,” papar Jalu Yuswa Panjang.

Koordinator Humas dan Protokol Ditjenpas Rika Aprianti menyatakan, Umar Patek dinyatakan sudah deradikalisasi dan dinyatakan setia pada NKRI oleh Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 (Densus 88). Karena itu, yang bersangkutan berhak mendapatkan program pembebasan bersyarat.

Baca Juga:  Peringati 20 Tahun Bom Bali, Warga Berselancar dan Tabur Bunga Bersama

”Program pembebasan bersyarat merupakan hak yang diberikan kepada seluruh narapidana yang  telah memenuhi persyaratan administratif dan substansif antara lain sudah menjalani 2/3 masa pidana, berkelakuan baik, telah mengikuti program pembinaan, dan telah menunjukkan penurunan risiko seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan. Persyaratan khusus yang telah dipenuhi Umar Patek adalah telah mengikuti program pembinaan deradikalisasi dan telah berikrar setia NKRI,” terang Rika.

Dia mengatakan, pemberian pembebasan bersyarat kepada Umar Patek juga telah direkomendasikan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 (Densus 88). (JPG/jawapos.com)

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru