alexametrics
28.8 C
Denpasar
Friday, July 1, 2022

Selain untuk Mabuk di Kafe, Uang Korupsi LPD untuk Rehab Rumah

TABANAN – Dua pengurus LPD Desa Adat Kota Tabanan, Ir. I Nyoman Bawa, 58, (ketua) dan Dra. Cok Istri Adnyana Dewi, 55 (sekretaris) ini keterlaluan. Mendapat amanah sebagai pengurus lembaga perkreditan desa (LPD) malah dikorupsi. Bahkan uang hasil korupsi ini dipakai untuk mabuk-mabukan di kafe, hingga rehab rumah.

 

Selasa lalu (8/3), I Nyoman Bawa dan Cok Istri Adnyana Dewi dilimpahkan dari Polres Tabanan ke Kejari Tabanan. Menurut Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra, keduanya diduga korupsi yang merugikan LPD hingga Rp7,3 miliar.

 

Ranefli mengatakan, sejatinya ada tiga tersangka. Satu tersangka lagi adalah bendahara LPD Desa Adat Kota Tabanan. Namun, sang bendahara yakni I Gusti Putu Siwardi sudah almarhum alias meninggal dunia.

 

“Maka kami hari ini hanya menghadirkan dua tersangka yakni I Nyoman Bawa selaku oknum ketua LPD dan Cok Istri Adnyana Dewi yang merupakan sekretaris LPD Kota Desa Adat Kota Tabanan,’’ kata AKBP Ranefli yang didampingi Kasat Reskrim Polres Tabanan AKP Aji Yoga Sekar, Selasa (8/3).

 

Berdasarkan penelusuran pihak LPD, terungkap ternyata posisi keuangan LPD pada bulan Agustus 2018 termasuk aset LPD total mencapai Rp 12 miliar lebih. Akan tetapi pada nilai keuangan dan aset LPD tersebut justru terjadi dugaan penyimpangan dana Rp 7 miliar lebih.

 

Tak sampai disitu berdasarkan hasil penyelidikan lanjutan yang dilakukan pihaknya hasit audit dilakukan BPKP ternyata timbul kerugian materi sekitar Rp 7,3 miliar lebih. Dengan rincian Rp 3,7 miliar kerugian negara yang digunakan oleh ketiga pengurus LPD. Dan kerugian sala pengelolaan sekitar Rp 3,5 miliar.

 

Yang mengagetkan, I Nyoman Bawa menggunakan uang LPD secara pribadi begitu pula dengan tersangka Cok Istri Adnyana Dewi.

 

I Nyoman Bawa menggunakan uang korupsi di LPD yang dipimpnnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, juga untuk berfoya ke kafe dan klub malam.

 

Tidak itu saja, Cok Istri Adnyana Dewi juga menggunakan uang hasil korupsi di LPD untuk rehab rumahnya di Desa Wanasari, Tabanan.

 

“Menarik lagi dari penyidikan yang kami dapatkan. Tersangka juga membuat laporan fiktif keuangan. Di mana keuangan LPD yang semestinya bermasalah justru dilaporkan sehat setiap tahunnya,” tandasnya.

 

Atas perbuatannya kedua tersangka dijerat dengan pasal 2 ayat (1), pasal 3, pasal 8 Jo UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan yang telah diubah menjadi UU tahun 2001 pemberantasan tindak pidana korupsi. Dengan ancaman hukuman paling singkat 4 tahun penjara dan paling lama 20 tahun penjara denda paling banyak Rp 1 miliar lebih.



TABANAN – Dua pengurus LPD Desa Adat Kota Tabanan, Ir. I Nyoman Bawa, 58, (ketua) dan Dra. Cok Istri Adnyana Dewi, 55 (sekretaris) ini keterlaluan. Mendapat amanah sebagai pengurus lembaga perkreditan desa (LPD) malah dikorupsi. Bahkan uang hasil korupsi ini dipakai untuk mabuk-mabukan di kafe, hingga rehab rumah.

 

Selasa lalu (8/3), I Nyoman Bawa dan Cok Istri Adnyana Dewi dilimpahkan dari Polres Tabanan ke Kejari Tabanan. Menurut Kapolres Tabanan AKBP Ranefli Dian Candra, keduanya diduga korupsi yang merugikan LPD hingga Rp7,3 miliar.

 

Ranefli mengatakan, sejatinya ada tiga tersangka. Satu tersangka lagi adalah bendahara LPD Desa Adat Kota Tabanan. Namun, sang bendahara yakni I Gusti Putu Siwardi sudah almarhum alias meninggal dunia.

 

“Maka kami hari ini hanya menghadirkan dua tersangka yakni I Nyoman Bawa selaku oknum ketua LPD dan Cok Istri Adnyana Dewi yang merupakan sekretaris LPD Kota Desa Adat Kota Tabanan,’’ kata AKBP Ranefli yang didampingi Kasat Reskrim Polres Tabanan AKP Aji Yoga Sekar, Selasa (8/3).

 

Berdasarkan penelusuran pihak LPD, terungkap ternyata posisi keuangan LPD pada bulan Agustus 2018 termasuk aset LPD total mencapai Rp 12 miliar lebih. Akan tetapi pada nilai keuangan dan aset LPD tersebut justru terjadi dugaan penyimpangan dana Rp 7 miliar lebih.

 

Tak sampai disitu berdasarkan hasil penyelidikan lanjutan yang dilakukan pihaknya hasit audit dilakukan BPKP ternyata timbul kerugian materi sekitar Rp 7,3 miliar lebih. Dengan rincian Rp 3,7 miliar kerugian negara yang digunakan oleh ketiga pengurus LPD. Dan kerugian sala pengelolaan sekitar Rp 3,5 miliar.

 

Yang mengagetkan, I Nyoman Bawa menggunakan uang LPD secara pribadi begitu pula dengan tersangka Cok Istri Adnyana Dewi.

 

I Nyoman Bawa menggunakan uang korupsi di LPD yang dipimpnnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, juga untuk berfoya ke kafe dan klub malam.

 

Tidak itu saja, Cok Istri Adnyana Dewi juga menggunakan uang hasil korupsi di LPD untuk rehab rumahnya di Desa Wanasari, Tabanan.

 

“Menarik lagi dari penyidikan yang kami dapatkan. Tersangka juga membuat laporan fiktif keuangan. Di mana keuangan LPD yang semestinya bermasalah justru dilaporkan sehat setiap tahunnya,” tandasnya.

 

Atas perbuatannya kedua tersangka dijerat dengan pasal 2 ayat (1), pasal 3, pasal 8 Jo UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dan yang telah diubah menjadi UU tahun 2001 pemberantasan tindak pidana korupsi. Dengan ancaman hukuman paling singkat 4 tahun penjara dan paling lama 20 tahun penjara denda paling banyak Rp 1 miliar lebih.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/