alexametrics
26.8 C
Denpasar
Saturday, July 2, 2022

Sang Ayah Akui Perkosa Anak Kandung dalam Kondisi Sadar

DPB, 44, mengaku telah memerkosa anak kandungnya yang berusia 15 tahun di Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali. Bahkan, dia mengaku perbuatan rudapaksa itu dilakukan dalam kondisi sadar. 

EKA PRASETYA, Singaraja

 

KAPOLRES Buleleng AKBP Andrian Pramudianto menjelaskan, pihak kepolisian telah menerima hasil visum et repertum tertulis dari tim medis pada Rabu (6/4). Dari hasil visum itu, pemeriksaan sejumlah saksi, dan barang bukti, polisi akhirnya melakukan gelar perkara dan menetapkan DPB sebagai tersangka perkosaan terhadap anak kandungnya, kemudian menahannya sejak Kamis, 7 April 2022.

 

“Saat melakukan perbuatannya tersangka dipastikan dalam kondisi sadar,” kata Andrian di Mapolres Buleleng, Jumat, 8 April 2022.

 

Andrian pun menegaskan, saat melakukan perbuatan tak senonoh terhadap anak kandungnya, DPB juga tidak dalam pengaruh minuman beralkohol.

 

Ceritanya, tersangka sekitar pukul 00.30 Wita masuk ke kamar putrinya. Saat itu, anaknya sedang tidur. Sedangkan rumah dalam kondisi sepi, karena sang ibu sedang di Bangli.

 

Ketika di dalam kamar, tersangka langsung memaksa menyetubuhi putrinya. Korban sempat terbangun dan melawan sang ayah, namun tangannya dipegangi hingga terjadi perkosaan.

 

“Tersangka ini memaksa melakukan perbuatan tersebut,” jelasnya.

 

Usai peristiwa tersebut, korban datang ke kerabatnya dan menceritakan peristiwa yang terjadi. Dari sana, akhirnya korban didampingi ke pekerja sosial di Dinas Sosial Buleleng, kemudian didampingi P2TP2A Buleleng melapor ke polisi.

 

Di hadapan wartawan, DPB tak banyak bicara. Dia lebih banyak menundukkan kepala. Ketika ditanya wartawan, DPB mengaku dalam kondisi sadar memerkosa anak kandunya.

 

Namun, ketika ditanya mengapa tega memerkosa anak gadisnya, dia enggan bercerita.

 

“Nggak bisa cerita saya,” kata tersangka DPB singkat.

Tersangka DPB pun disangka menggunakan pasal 81 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Tersangka terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. Hukuman juga dapat ditambah sepertiganya, karena perbuatan dilakukan oleh keluarga.



DPB, 44, mengaku telah memerkosa anak kandungnya yang berusia 15 tahun di Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali. Bahkan, dia mengaku perbuatan rudapaksa itu dilakukan dalam kondisi sadar. 

EKA PRASETYA, Singaraja

 

KAPOLRES Buleleng AKBP Andrian Pramudianto menjelaskan, pihak kepolisian telah menerima hasil visum et repertum tertulis dari tim medis pada Rabu (6/4). Dari hasil visum itu, pemeriksaan sejumlah saksi, dan barang bukti, polisi akhirnya melakukan gelar perkara dan menetapkan DPB sebagai tersangka perkosaan terhadap anak kandungnya, kemudian menahannya sejak Kamis, 7 April 2022.

 

“Saat melakukan perbuatannya tersangka dipastikan dalam kondisi sadar,” kata Andrian di Mapolres Buleleng, Jumat, 8 April 2022.

 

Andrian pun menegaskan, saat melakukan perbuatan tak senonoh terhadap anak kandungnya, DPB juga tidak dalam pengaruh minuman beralkohol.

 

Ceritanya, tersangka sekitar pukul 00.30 Wita masuk ke kamar putrinya. Saat itu, anaknya sedang tidur. Sedangkan rumah dalam kondisi sepi, karena sang ibu sedang di Bangli.

 

Ketika di dalam kamar, tersangka langsung memaksa menyetubuhi putrinya. Korban sempat terbangun dan melawan sang ayah, namun tangannya dipegangi hingga terjadi perkosaan.

 

“Tersangka ini memaksa melakukan perbuatan tersebut,” jelasnya.

 

Usai peristiwa tersebut, korban datang ke kerabatnya dan menceritakan peristiwa yang terjadi. Dari sana, akhirnya korban didampingi ke pekerja sosial di Dinas Sosial Buleleng, kemudian didampingi P2TP2A Buleleng melapor ke polisi.

 

Di hadapan wartawan, DPB tak banyak bicara. Dia lebih banyak menundukkan kepala. Ketika ditanya wartawan, DPB mengaku dalam kondisi sadar memerkosa anak kandunya.

 

Namun, ketika ditanya mengapa tega memerkosa anak gadisnya, dia enggan bercerita.

 

“Nggak bisa cerita saya,” kata tersangka DPB singkat.

Tersangka DPB pun disangka menggunakan pasal 81 ayat 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Tersangka terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. Hukuman juga dapat ditambah sepertiganya, karena perbuatan dilakukan oleh keluarga.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/