alexametrics
25.4 C
Denpasar
Thursday, July 7, 2022

Pengacara Sebut Penangkapan Bos Hotel Kuta Paradiso Cacat Hukum

DENPASAR-Harijanto Karjadi, selaku Direktur PT GWP manajemen Hotel Kuta Paradiso kembali dijebloskan ke Lapas Kelas II A Kerobokan. 

Ini setelah tim Kejari Denpasar melakukan penjemputan di Jakarta pada Selasa (8/9) lalu.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah memanggil bos Hotel Kuta Paradiso itu  terkait turunnya putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) RI. 

Namun, yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan.

Setelah diamankan, tim yang dipimpin Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Denpasar, I Wayan Eka Widanta langsung membawa Harijanto menggunakan pesawat menuju Bali. 

Tim tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Badung, sekitar pukul 20.00 WITA.

Terkait penangkapan itu, tim Kuasa Hukum Harijanto Karjadi yakni Yulius Benyamin Seran dan Rudi Marjono menilai cacat hukum dan mall administratif. 

Pengacara asal NTT ini mengatakan, penjemputan paksa itu dinilai melawan hukum.

Benyamin Seran saat ditemui wartawan di Lapas Kerobokan pada Selasa (8/9) malam seusai mendampingi kliennya menjelaskan,

bahwa di dalam berita acara pelaksanaan putusan yang dibawa jaksa disebutkan bahwa terpidana Harijanto Karjadi terbukti secara sah

melakukan tindak pidana menyuruh memasukan keterangan palsu dalam akta otentik sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP. 

Sementara kliennya sampai hari ini tidak pernah terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana yang dimaksud pada pasal tersebut (Pasal 266 ayat (1)). 

“Sementara dalam amar putusan Mahkamah Agung pada tingkat kasasi menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana menggunakan akta palsu

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 ayat (2). Perintah pelaksanaan putusan yang dibawa jaksa cacat formil dan tidak sah,” ungkap Benyamin.

Selain itu, imbuh Benyamin, kliennya pada tingkat peradilan pertama didakwa oleh JPU melanggar Pasal 266 ayat (1) KUHP dan itu tidak pernah terbukti. 

Katanya, dakwaan jaksa tidak pernah terbukti namun oleh Majelis Hakim berpendapat bahwa terdakwa pada waktu itu terbukti menggunakan akta palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 ayat (2) yang tidak pernah didakwa oleh JPU pada tingkat pertama.

“Jadi, kalau hari ini JPU dalam perintah pelaksanaan putusan pengadilan (eksekusi) masih mencantumkan Pasal 266 ayat (1) yang tidak pernah terbukti dilakukan oleh klien kami, jelas kami keberatan,” tegasnya.

Lebih lanjut Benyamin menyampaikan kliennya tidak melarikan diri dari Bali tetapi pihaknya menunggu dari Kejaksaan untuk menghadap.

“Dari kami sendiri belum pernah menerima surat itu dari Kejaksaan. Andai kata kami menerima surat dari Jaksa, tentu kami akan datang menghadap, karena kami sudah tahu ini negara hukum. 

Tapi ya karena belum ada surat tiba-tiba jaksa sudah lebih dulu kesana ya kita hormati proses hukum,” tambahnya.

Sementara itu, saat tiba di Bali,  Harijanto Karjadi dikatakan langsung menjalani  pemeriksaan kesehatan terlebih dulu yakni pemeriksaan rapid test sesuai protokol kesehatan pemerintah.

“Kami akan mengikuti sesuai dengan prosedur dimana beliau harus berada di dalam (Lapas Kerobokan) ya kita hormati.

Jaksa datang berpakaian dinas ke rumah beliau dan ada juga penasehat hukum kami Petrus Balla Pattyona di Jakarta mendampingi beliau.

Dan membawa klien kami kembali ke Bali. Sama sekali tidak ada perlawanan kita sangat kooperatif dan kita hormati proses hukum,” tuturnya.

Sementara itu, Kasi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, A. Luga Herlianto mengatakan, dalam putusan kasasi MA, lawan pengusaha Taipan Tommy Winata, itu dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana menggunakan akta autentik yang dipalsukan sebagaimana Pasal 266 ayat (2) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Harijanto dijatuhi pidana penjara selama dua tahun.
“Setelah tiba, terpidana langsung dibawa oleh tim ke Lapas Kerobokan.

Diserahkan Jaksa Penuntut Umum ke Lapas Kerobokan untuk dilaksanakan eksekusi terhadap Putusan Kasasi Mahkamah Agung RI nomor 595 K/Pid/2020 tanggal 28 Juli 2020,” terang Luga Herlianto.



DENPASAR-Harijanto Karjadi, selaku Direktur PT GWP manajemen Hotel Kuta Paradiso kembali dijebloskan ke Lapas Kelas II A Kerobokan. 

Ini setelah tim Kejari Denpasar melakukan penjemputan di Jakarta pada Selasa (8/9) lalu.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah memanggil bos Hotel Kuta Paradiso itu  terkait turunnya putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) RI. 

Namun, yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan.

Setelah diamankan, tim yang dipimpin Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Denpasar, I Wayan Eka Widanta langsung membawa Harijanto menggunakan pesawat menuju Bali. 

Tim tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Badung, sekitar pukul 20.00 WITA.

Terkait penangkapan itu, tim Kuasa Hukum Harijanto Karjadi yakni Yulius Benyamin Seran dan Rudi Marjono menilai cacat hukum dan mall administratif. 

Pengacara asal NTT ini mengatakan, penjemputan paksa itu dinilai melawan hukum.

Benyamin Seran saat ditemui wartawan di Lapas Kerobokan pada Selasa (8/9) malam seusai mendampingi kliennya menjelaskan,

bahwa di dalam berita acara pelaksanaan putusan yang dibawa jaksa disebutkan bahwa terpidana Harijanto Karjadi terbukti secara sah

melakukan tindak pidana menyuruh memasukan keterangan palsu dalam akta otentik sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP. 

Sementara kliennya sampai hari ini tidak pernah terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana yang dimaksud pada pasal tersebut (Pasal 266 ayat (1)). 

“Sementara dalam amar putusan Mahkamah Agung pada tingkat kasasi menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana menggunakan akta palsu

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 ayat (2). Perintah pelaksanaan putusan yang dibawa jaksa cacat formil dan tidak sah,” ungkap Benyamin.

Selain itu, imbuh Benyamin, kliennya pada tingkat peradilan pertama didakwa oleh JPU melanggar Pasal 266 ayat (1) KUHP dan itu tidak pernah terbukti. 

Katanya, dakwaan jaksa tidak pernah terbukti namun oleh Majelis Hakim berpendapat bahwa terdakwa pada waktu itu terbukti menggunakan akta palsu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 ayat (2) yang tidak pernah didakwa oleh JPU pada tingkat pertama.

“Jadi, kalau hari ini JPU dalam perintah pelaksanaan putusan pengadilan (eksekusi) masih mencantumkan Pasal 266 ayat (1) yang tidak pernah terbukti dilakukan oleh klien kami, jelas kami keberatan,” tegasnya.

Lebih lanjut Benyamin menyampaikan kliennya tidak melarikan diri dari Bali tetapi pihaknya menunggu dari Kejaksaan untuk menghadap.

“Dari kami sendiri belum pernah menerima surat itu dari Kejaksaan. Andai kata kami menerima surat dari Jaksa, tentu kami akan datang menghadap, karena kami sudah tahu ini negara hukum. 

Tapi ya karena belum ada surat tiba-tiba jaksa sudah lebih dulu kesana ya kita hormati proses hukum,” tambahnya.

Sementara itu, saat tiba di Bali,  Harijanto Karjadi dikatakan langsung menjalani  pemeriksaan kesehatan terlebih dulu yakni pemeriksaan rapid test sesuai protokol kesehatan pemerintah.

“Kami akan mengikuti sesuai dengan prosedur dimana beliau harus berada di dalam (Lapas Kerobokan) ya kita hormati.

Jaksa datang berpakaian dinas ke rumah beliau dan ada juga penasehat hukum kami Petrus Balla Pattyona di Jakarta mendampingi beliau.

Dan membawa klien kami kembali ke Bali. Sama sekali tidak ada perlawanan kita sangat kooperatif dan kita hormati proses hukum,” tuturnya.

Sementara itu, Kasi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, A. Luga Herlianto mengatakan, dalam putusan kasasi MA, lawan pengusaha Taipan Tommy Winata, itu dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana menggunakan akta autentik yang dipalsukan sebagaimana Pasal 266 ayat (2) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Harijanto dijatuhi pidana penjara selama dua tahun.
“Setelah tiba, terpidana langsung dibawa oleh tim ke Lapas Kerobokan.

Diserahkan Jaksa Penuntut Umum ke Lapas Kerobokan untuk dilaksanakan eksekusi terhadap Putusan Kasasi Mahkamah Agung RI nomor 595 K/Pid/2020 tanggal 28 Juli 2020,” terang Luga Herlianto.



Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/