alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, May 24, 2022

Kaki Dipatahkan Polisi, Pelajar MR Batal Bercita-cita Jadi Polisi

DENPASAR – Pelajar berinisial MR, 14, korban penganiayaan oknum polisi Polda Bali ternyata bercita-cita menjadi polisi. Namun, dia akhirnya batal  menjadi polisi lantaran kakinya dipatahkan terduga oknum polisi Polda Bali berinisal IMJDM.

 

Hal itu ditegaskan Joni Lay, Sabtu (9/10). “Klien saya ini bercita-cita menjadi anggota Polri setelah tamat SMA nanti,” kata Joni.

 

Dikatakan Joni, akibat penganiayaan yang diterimanya saat menonton balap liar, korban mengalami patah kaki dan dioperasi. Kaki MR juga dipasang pen.

 

“Karena kejadian ini, cita-citanya jadi polisi pun pupus karena kakinya patah dan dipasang pen,” jelas Joni.

- Advertisement -

 

Kata Joni yang juga mantan anggota polisi ini menjelaskan, salah satu persyaratan menjadi polisi memang tidak boleh memiliki cacat fisik.

Dia membeberkan, kliennya masih menjalani rawat jalan. Kondisi MR saat ini sudah semakin membaik. Memar akibat pukulan dan setruman masih membekas tapi tidak seperti awal kejadian.

 

“Memar pada tubuh klien saya mulai berkurang. Kakinya yang patah masih terasa sakit,” jelasnya.

 

“Puji Tuhan sekarang sudah ada perkembangan. Mereka semua sudah bisa cerita, sudah tertawa, tapi masih dibalut perban pada kaki,” tambah Joni Lay.

Baca Juga:  Utusan PHDI, Bendesa Adat, dan Lurah Jadi Saksi Sukmawati Masuk Hindu

 

I Made TJS, ayah kandung MR sebelumnya menjelaskan, anaknya mengalami cacat permanen akibat dianiaya oknum terduga polisi pada 25 September 2021.

 

“Sekarang proses penyembuhan. Tapi kan pada akhirnya kaki anak saya tetap cacat permanen. Bisa dikatakan permanen karena patah tulang,” katanya di Denpasar, Kamis (7/10/2021). 

 

Dijelaskannya, meski kaki anaknya sudah menjalani operasi, tulang kakinya sudah tidak bisa dikembalikan seperti sedia kala. 

 

 

“Tulang tidak bisa diperbaiki seperti semula,” ujarnya.

 

Akibat patah tulang dan disetrum oleh oknum polisi korban dirawat di rumah sakit BROSS Denpasar. Biayanya pun ratusan juta rupiah.

 

Meski sudah menjalani perawatan di rumah sakit dan kini menjalani rawat jalan di rumah, korban sendiri belum bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. 

 

Bahkan menurut sanga ayah, hal itu juga mengganggu aktivitas sekolahnya yang kini duduk di bangku kelas tiga SMP.

 

“Kegiatan belajarnya di sekolah terganggu. Juga masih trauma. Karena dia anak di bawah umur dan dia tidak menyangka diperlakukan seperti ini oleh oknum itu,” tandasnya.

Baca Juga:  GEMPA LOMBOK!!Evakuasi Wisatawan ke Bali Berlanjut

 

Sekadar mengingatkan, kasus ini berawal saat ada balap liar di Jalan By Pas Ngurah Rai, Sanur Sabtu (25/9) dini hari. Saat itu, korban MR menonton balap liar.

 

Namun, dalam waktu singkat, datang polisi membubarkan balap liar tersebut. Kemudian MR kabur namun keburu dianiaya pria yang diduga polisi. Ia dipukul, disetrum dan diinjak kakinya hingga patah.

 

Selanjutnya MR dibawa ke RS BROSS Denpasar untuk dioperasi. Biaya operasi menghabiskan sekitar Rp100 juta.

 

Atas kejadian ini, keluarga korban akhirnya melapor ke Subdit Paminal Dit Propam Polda Bali pada Kamis (27/9). Kasus ini pun masih diusut Dit Propam terkait dugaan pelanggaran etik kepolisian. Selain itu dilaporkan juga Ditreskrimum Polda Bali untuk kasus tindak pidana penganiayaan.

 

Saat ini, Bripda IMJDM menjalani pemeriksaan secara marathon pada Jumat (8/10). Oknum polisi yang bertugas Ditsamapta Polda Bali ini dimintai keterangan terkait peristiwa tersebut.

- Advertisement -

DENPASAR – Pelajar berinisial MR, 14, korban penganiayaan oknum polisi Polda Bali ternyata bercita-cita menjadi polisi. Namun, dia akhirnya batal  menjadi polisi lantaran kakinya dipatahkan terduga oknum polisi Polda Bali berinisal IMJDM.

 

Hal itu ditegaskan Joni Lay, Sabtu (9/10). “Klien saya ini bercita-cita menjadi anggota Polri setelah tamat SMA nanti,” kata Joni.

 

Dikatakan Joni, akibat penganiayaan yang diterimanya saat menonton balap liar, korban mengalami patah kaki dan dioperasi. Kaki MR juga dipasang pen.

 

“Karena kejadian ini, cita-citanya jadi polisi pun pupus karena kakinya patah dan dipasang pen,” jelas Joni.

 

Kata Joni yang juga mantan anggota polisi ini menjelaskan, salah satu persyaratan menjadi polisi memang tidak boleh memiliki cacat fisik.

Dia membeberkan, kliennya masih menjalani rawat jalan. Kondisi MR saat ini sudah semakin membaik. Memar akibat pukulan dan setruman masih membekas tapi tidak seperti awal kejadian.

 

“Memar pada tubuh klien saya mulai berkurang. Kakinya yang patah masih terasa sakit,” jelasnya.

 

“Puji Tuhan sekarang sudah ada perkembangan. Mereka semua sudah bisa cerita, sudah tertawa, tapi masih dibalut perban pada kaki,” tambah Joni Lay.

Baca Juga:  Lama Belum Punya Anak, Ibu di Bali Lahirkan Empat Bayi Sekaligus

 

I Made TJS, ayah kandung MR sebelumnya menjelaskan, anaknya mengalami cacat permanen akibat dianiaya oknum terduga polisi pada 25 September 2021.

 

“Sekarang proses penyembuhan. Tapi kan pada akhirnya kaki anak saya tetap cacat permanen. Bisa dikatakan permanen karena patah tulang,” katanya di Denpasar, Kamis (7/10/2021). 

 

Dijelaskannya, meski kaki anaknya sudah menjalani operasi, tulang kakinya sudah tidak bisa dikembalikan seperti sedia kala. 

 

 

“Tulang tidak bisa diperbaiki seperti semula,” ujarnya.

 

Akibat patah tulang dan disetrum oleh oknum polisi korban dirawat di rumah sakit BROSS Denpasar. Biayanya pun ratusan juta rupiah.

 

Meski sudah menjalani perawatan di rumah sakit dan kini menjalani rawat jalan di rumah, korban sendiri belum bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. 

 

Bahkan menurut sanga ayah, hal itu juga mengganggu aktivitas sekolahnya yang kini duduk di bangku kelas tiga SMP.

 

“Kegiatan belajarnya di sekolah terganggu. Juga masih trauma. Karena dia anak di bawah umur dan dia tidak menyangka diperlakukan seperti ini oleh oknum itu,” tandasnya.

Baca Juga:  Sebelum Banjir Bandang, BMKG Sudah Peringatkan Nusa Penida Zona Merah

 

Sekadar mengingatkan, kasus ini berawal saat ada balap liar di Jalan By Pas Ngurah Rai, Sanur Sabtu (25/9) dini hari. Saat itu, korban MR menonton balap liar.

 

Namun, dalam waktu singkat, datang polisi membubarkan balap liar tersebut. Kemudian MR kabur namun keburu dianiaya pria yang diduga polisi. Ia dipukul, disetrum dan diinjak kakinya hingga patah.

 

Selanjutnya MR dibawa ke RS BROSS Denpasar untuk dioperasi. Biaya operasi menghabiskan sekitar Rp100 juta.

 

Atas kejadian ini, keluarga korban akhirnya melapor ke Subdit Paminal Dit Propam Polda Bali pada Kamis (27/9). Kasus ini pun masih diusut Dit Propam terkait dugaan pelanggaran etik kepolisian. Selain itu dilaporkan juga Ditreskrimum Polda Bali untuk kasus tindak pidana penganiayaan.

 

Saat ini, Bripda IMJDM menjalani pemeriksaan secara marathon pada Jumat (8/10). Oknum polisi yang bertugas Ditsamapta Polda Bali ini dimintai keterangan terkait peristiwa tersebut.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/