alexametrics
29.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Parah, Insentif Nakes di Badung Diduga Disunat

MANGUPURA– Penyaluran dana insentif tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Badung diterpa isu tak sedap. Kabar yang berkembang, dana intensif nakes yang bersumber dari pusat disunat alias mengalami pemotongan.

Dugaan penyunatan itu pun sudah masuk ke dalam radar penyelidikan Kejari Badung.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali (JPRB), penyidik dari Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Badung bakal memeriksa sejumlah kepala Puskesmas dan pejabat di Dinkes Badung pada Senin (13/9) depan.

Sumber JPRB ini di lingkungan Pemkab Badung menyebutkan, pemerintah sejatinya telah menetapkan besaran dan kriteria pemberian insentif nakes pada 2021. Besaran insentif ditetapkan dalam Surat Menteri Keuangan Nomor 113/2021.

“Jadi, insentif nakes itu juga langsung ditransfer dari rekening pemerintah pusat ke nakes yang sudah terdaftar,” kata sumber yang meminta agar namanya dirahasikan.

Baca Juga:  Tiga Motor Adu Jangkrik di Jalan Gelap, Dua Pemotor Tewas Mengenaskan

Menurut sumber, besaran isentif yang diterima nakes tiap bulannya bervariasi.

Untuk dokter spesialis mendapat insentif Rp15 juta. Sementara dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) mendapat Rp12,5 juta.

Sedangkan dokter umum menerima Rp 10 juta. Untuk perawat atau bidan kecipratan Rp 7,5 juta dan penunjang Rp 5 juta.

“Masalahnya, walau sudah ditransfer ke rekening langsung nakes, ada beberapa Puskesmas di Badung kabarnya melakukan pemotongan,” imbuh sumber.

Dijelaskan sumber, modus penyunatan yakni uang yang sudah diterima di rekening masing-masing nakes ditarik tunai kemudian dan diserahkan ke oknum. Setelah itu insentif dipotong dan kembali dibagikan ke nakes yang berhak menerima.

“Nilai pemotongan beda-beda, tergantung jabatan nakes di Puskesmas tersebut. Pemotongan sejak beberapa bulan yang lalu,” tukas sumber.

Baca Juga:  Mih Dewa Ratu! Dua Perangkat ONT Wifi di Balai Banjar Hilang Dicuri

Nah, akibat pemotongan itu banyak nakes yang kecewa. Namun, mereka takut melaporkan ke pihak berwajib.

“Takut karena sudah menjadi kesepakatan nakes dan pihak Puskesmas. Yang kasihan, kan staf paling bawah. Sudah insentif sedikit, dipotong lagi,” beber sumber.

Terkait kabar tak sedap tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Badung Nyoman Gunarta kepada awak media mengaku belum menerima surat tebusan dari Kejari Badung, terkait pemanggilan Kepala Puskesmas tersebut. “Lebih baik ditanyakan ke pihak yang berwenang (Kejaksaan),” katanya melalui pesan pendek WhatsApp (WA).


MANGUPURA– Penyaluran dana insentif tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Badung diterpa isu tak sedap. Kabar yang berkembang, dana intensif nakes yang bersumber dari pusat disunat alias mengalami pemotongan.

Dugaan penyunatan itu pun sudah masuk ke dalam radar penyelidikan Kejari Badung.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali (JPRB), penyidik dari Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Badung bakal memeriksa sejumlah kepala Puskesmas dan pejabat di Dinkes Badung pada Senin (13/9) depan.

Sumber JPRB ini di lingkungan Pemkab Badung menyebutkan, pemerintah sejatinya telah menetapkan besaran dan kriteria pemberian insentif nakes pada 2021. Besaran insentif ditetapkan dalam Surat Menteri Keuangan Nomor 113/2021.

“Jadi, insentif nakes itu juga langsung ditransfer dari rekening pemerintah pusat ke nakes yang sudah terdaftar,” kata sumber yang meminta agar namanya dirahasikan.

Baca Juga:  Terlibat Penipuan, North Peter Diekstradisi ke Jerman

Menurut sumber, besaran isentif yang diterima nakes tiap bulannya bervariasi.

Untuk dokter spesialis mendapat insentif Rp15 juta. Sementara dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) mendapat Rp12,5 juta.

Sedangkan dokter umum menerima Rp 10 juta. Untuk perawat atau bidan kecipratan Rp 7,5 juta dan penunjang Rp 5 juta.

“Masalahnya, walau sudah ditransfer ke rekening langsung nakes, ada beberapa Puskesmas di Badung kabarnya melakukan pemotongan,” imbuh sumber.

Dijelaskan sumber, modus penyunatan yakni uang yang sudah diterima di rekening masing-masing nakes ditarik tunai kemudian dan diserahkan ke oknum. Setelah itu insentif dipotong dan kembali dibagikan ke nakes yang berhak menerima.

“Nilai pemotongan beda-beda, tergantung jabatan nakes di Puskesmas tersebut. Pemotongan sejak beberapa bulan yang lalu,” tukas sumber.

Baca Juga:  Catut Nama Wakapolda Peras Ayah Kandung Rp 95 Juta, Terdakwa Menyesal

Nah, akibat pemotongan itu banyak nakes yang kecewa. Namun, mereka takut melaporkan ke pihak berwajib.

“Takut karena sudah menjadi kesepakatan nakes dan pihak Puskesmas. Yang kasihan, kan staf paling bawah. Sudah insentif sedikit, dipotong lagi,” beber sumber.

Terkait kabar tak sedap tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Badung Nyoman Gunarta kepada awak media mengaku belum menerima surat tebusan dari Kejari Badung, terkait pemanggilan Kepala Puskesmas tersebut. “Lebih baik ditanyakan ke pihak yang berwenang (Kejaksaan),” katanya melalui pesan pendek WhatsApp (WA).


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/