alexametrics
27.6 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

Wanita Cantik Penyelundup 1.280 Tablet Sabu Asal Thailand Dideportasi

DENPASAR-Usai habis menjalani masa hukuman selama 11 tahun di Bali karena kasus narkoba,  wanita Warga Negara (WN) Thailand berinisial MUS langsung dideportasi dari Bali.

 

Wanita berparas cantik berusia 35 tahun itu dideportasi karena melanggar Pasal 75 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian juncto Pasal 113 Ayat (1) Undang-Undang No 23 Tahun 2009 tentang Narkotika.

 

Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Ham RI, Bali, Jamaruli Manihuruk mengatakan, sebelumnya pada 16 Desember 2010 silam, MUS tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai dari Thailand.

 

Ketika akan dijemput seorang sopir di area kedatangan, petugas Bea Cukai menangkapnya karena gelagatnya yang mencurigakan. 

 

Setelah itu, ia diamankan dan dibawa ke rumah sakit untuk dicek pada bagian dalam perutnya.

 

Dalam pemeriksaan tersebut didapatkan di dalam perutnya ada 1.280 tablet mengandung narkotika dan 2,68 gram metamphetamine atau sabu-sabu.

 

Setelah itu pihak Bea Cukai menyerahkan MUS ke Polda Bali untuk menjalani penyidikan.

Baca Juga:  Layar Susrama ke LP Kerobokan, Kadivpas Bantah Ada Skenario Remisi

 

“Dalam tahap persidangan ia mengaku diminta mantan kekasihnya di Thailand untuk mengantar paket narkoba ke Bali hingga akhirnya ia diputus bersalah dan kepadanya divonis sesuai putusan PN Denpasar Nomor 240/PID.SUS/2011/PN DPS tanggal 16 Juni 2011 berupa pidana penjara 13 tahun dengan denda 1 miliar subsider pidana kurungan 1 tahun,” terang Jamaruli Manihuruk, Sabtu (12/2/2022).

 

Setelah dipenjara kurang lebih 11 tahun dengan sudah dikurangi berbagai remisi dari pidana pokoknya, berdasarkan Surat Lepas Nomor W20.PK.01.01.02-01 tanggal 04 Januari 2022, MUS bebas dari Lapas Perempuan IIA Kerobokan dan diserahkan ke Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai.

 

Dikarenakan pendeportasian belum dapat dilakukan, maka Kanim Ngurah Rai menyerahkan ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Denpasar pada 04 Januari 2022 untuk didetensi dan diupayakan pendeportasiannya lebih lanjut. 

 

Setelag MUS ditempatkan di detensi selama 37 hari, diterbitkannya Emergency Travel Document oleh Kedubes Thailand di Jakarta, dan telah siapnya administrasi akhirnya MUS dideportasi.

Baca Juga:  TERUNGKAP! Banyak WNA Berburu Jadi WNI di Bali, Nyaman Jadi Alasan

 

Selain itu juga telah terbit izin masuk Thailand Pass sehingga dapat dilakukan pendeportasian sesuai dengan jadwal.

 

Dia berangkat dari Bali menggunakan maskapai Batik Airlines ID6051 tujuan Denpasar ke Jakarta dengan didampingi tiga petugas Rudenim.

 

Dari Jakarta dia menggunakan pesawat Thai Airways TG 434 dengan tujuan Jakarta (CGK) – Bangkok Suvarnabhumi (BKK) yang lepas landas pada pukul 13.35 WIB.

 

MUS yang telah dideportasi akan dimasukkan dalam daftar penangkalan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi.

 

“Berdasarkan Pasal 99 Jo. 102 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian, kepada orang asing yang dianggap dapat mengganggu keamanan dan ketertiban umum, pejabat Imigrasi dapat mengenakan penangkalan seumur hidup.

 

Setelah kami melaporkan pendeportasian, keputusan penangkalan lebih lanjut akan diputuskan Direktorat Jenderal Imigrasi dengan melihat dan mempertimbangkan seluruh kasusnya,” pungkas Jamaruli Manihuruk.



DENPASAR-Usai habis menjalani masa hukuman selama 11 tahun di Bali karena kasus narkoba,  wanita Warga Negara (WN) Thailand berinisial MUS langsung dideportasi dari Bali.

 

Wanita berparas cantik berusia 35 tahun itu dideportasi karena melanggar Pasal 75 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian juncto Pasal 113 Ayat (1) Undang-Undang No 23 Tahun 2009 tentang Narkotika.

 

Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Ham RI, Bali, Jamaruli Manihuruk mengatakan, sebelumnya pada 16 Desember 2010 silam, MUS tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai dari Thailand.

 

Ketika akan dijemput seorang sopir di area kedatangan, petugas Bea Cukai menangkapnya karena gelagatnya yang mencurigakan. 

 

Setelah itu, ia diamankan dan dibawa ke rumah sakit untuk dicek pada bagian dalam perutnya.

 

Dalam pemeriksaan tersebut didapatkan di dalam perutnya ada 1.280 tablet mengandung narkotika dan 2,68 gram metamphetamine atau sabu-sabu.

 

Setelah itu pihak Bea Cukai menyerahkan MUS ke Polda Bali untuk menjalani penyidikan.

Baca Juga:  TERUNGKAP! Banyak WNA Berburu Jadi WNI di Bali, Nyaman Jadi Alasan

 

“Dalam tahap persidangan ia mengaku diminta mantan kekasihnya di Thailand untuk mengantar paket narkoba ke Bali hingga akhirnya ia diputus bersalah dan kepadanya divonis sesuai putusan PN Denpasar Nomor 240/PID.SUS/2011/PN DPS tanggal 16 Juni 2011 berupa pidana penjara 13 tahun dengan denda 1 miliar subsider pidana kurungan 1 tahun,” terang Jamaruli Manihuruk, Sabtu (12/2/2022).

 

Setelah dipenjara kurang lebih 11 tahun dengan sudah dikurangi berbagai remisi dari pidana pokoknya, berdasarkan Surat Lepas Nomor W20.PK.01.01.02-01 tanggal 04 Januari 2022, MUS bebas dari Lapas Perempuan IIA Kerobokan dan diserahkan ke Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai.

 

Dikarenakan pendeportasian belum dapat dilakukan, maka Kanim Ngurah Rai menyerahkan ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Denpasar pada 04 Januari 2022 untuk didetensi dan diupayakan pendeportasiannya lebih lanjut. 

 

Setelag MUS ditempatkan di detensi selama 37 hari, diterbitkannya Emergency Travel Document oleh Kedubes Thailand di Jakarta, dan telah siapnya administrasi akhirnya MUS dideportasi.

Baca Juga:  Tak Dipinjami Uang untuk Mudik, Warga Kediri Rampok Top & Top Minimart

 

Selain itu juga telah terbit izin masuk Thailand Pass sehingga dapat dilakukan pendeportasian sesuai dengan jadwal.

 

Dia berangkat dari Bali menggunakan maskapai Batik Airlines ID6051 tujuan Denpasar ke Jakarta dengan didampingi tiga petugas Rudenim.

 

Dari Jakarta dia menggunakan pesawat Thai Airways TG 434 dengan tujuan Jakarta (CGK) – Bangkok Suvarnabhumi (BKK) yang lepas landas pada pukul 13.35 WIB.

 

MUS yang telah dideportasi akan dimasukkan dalam daftar penangkalan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi.

 

“Berdasarkan Pasal 99 Jo. 102 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian, kepada orang asing yang dianggap dapat mengganggu keamanan dan ketertiban umum, pejabat Imigrasi dapat mengenakan penangkalan seumur hidup.

 

Setelah kami melaporkan pendeportasian, keputusan penangkalan lebih lanjut akan diputuskan Direktorat Jenderal Imigrasi dengan melihat dan mempertimbangkan seluruh kasusnya,” pungkas Jamaruli Manihuruk.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/