alexametrics
27.6 C
Denpasar
Thursday, August 18, 2022

AWAS! Pasca 40 Kapal Ikan Terbakar, Perairan Pelabuhan Benoa Tercemar

DENPASAR – Terbakarnya 40 lebih kapal ikan di Pelabuhan Benoa berakibat pada air laut yang kotor, kumuh, dan tercemar.

Air laut di sekitar tempat kapal terbakar tercemar oleh tumpahan oli dari kapal. Fakta itu diungkap Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar mengecek lokasi plus hasil sampel air laut.

Kepala Dinas DLHK Kota Denpasar Ketut Wisada menyarankan agar Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Benoa memasang jaring untuk melokalisasi kawasan tersebut.

Hal ini perlu dilakukan agar tumpahan oli dan solar itu tidak semakin meluas. “Dampak lingkungan di sana ada tumpahan oli.

Saya menyarankan ke KSOP Pelabuhan Benoa supaya diblokir dengan sistem ban, istilahnya diblokir sehingga tidak melebar.

Baca Juga:  TERUNGKAP! Lokasi Kapal Terbakar Persis di TKP Kebakaran 3 Bulan Lalu

Dilokalisasi lah. Saya menyarankan ke sana, saya dengan Kementerian Lingkungan Hidup  sudah hadir kemarin (Selasa). Staf kami sudah turun hari ini (kemarin),” ucapnya.

Dikatakan alat untuk melokalisasi tumpahan itu dimiliki oleh Pertamina, diharapkan KSOP segera berkoordinasi dengan Pertamina.

Pemasangan jaring sendiri belum bisa dilakukan karena masih ada api dan asap di dermaga barat pelabuhan Benoa.

Hingga kemarin petugas juga masih melakukan pendinginan. “Itu masih pendinginan. Asap dan api masih ada, jadi belum bisa dilaksanakan.

Kami meminta tolong segera agar alat dari Pertamina yang punya. Saya sudah berkoordinasi dengan KSOP.

Selain oli, puing-puing juga berpengaruh. Tapi, memang yang paling berdampak oli. Solar kelihatannya juga ada,” imbuhnya.

Baca Juga:  Buang Air Kolam ke Laut, DLHK Segera Panggil Kontraktor Grand Hyatt

Wisada juga meminta bahan bakar yang masih tersisa dalam kapal  agar diambil dan dikumpulkan agar tidak menambah pencemaran.

Sebab akan berdampak pada biota laut dan ekosistem laut. Tapi, menurutnya pencemaran tidak banyak, hanya seputaran tempat kejadian kebakaran.

Sedangkan untuk waktu pemulihan, Wisada mengaku belum menganalisis sedalam itu. 

 

 

 



DENPASAR – Terbakarnya 40 lebih kapal ikan di Pelabuhan Benoa berakibat pada air laut yang kotor, kumuh, dan tercemar.

Air laut di sekitar tempat kapal terbakar tercemar oleh tumpahan oli dari kapal. Fakta itu diungkap Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar mengecek lokasi plus hasil sampel air laut.

Kepala Dinas DLHK Kota Denpasar Ketut Wisada menyarankan agar Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Benoa memasang jaring untuk melokalisasi kawasan tersebut.

Hal ini perlu dilakukan agar tumpahan oli dan solar itu tidak semakin meluas. “Dampak lingkungan di sana ada tumpahan oli.

Saya menyarankan ke KSOP Pelabuhan Benoa supaya diblokir dengan sistem ban, istilahnya diblokir sehingga tidak melebar.

Baca Juga:  Rumah Terbakar, 50 Ayam Aduan, Kandang Babi Hingga Mobil Jadi Arang

Dilokalisasi lah. Saya menyarankan ke sana, saya dengan Kementerian Lingkungan Hidup  sudah hadir kemarin (Selasa). Staf kami sudah turun hari ini (kemarin),” ucapnya.

Dikatakan alat untuk melokalisasi tumpahan itu dimiliki oleh Pertamina, diharapkan KSOP segera berkoordinasi dengan Pertamina.

Pemasangan jaring sendiri belum bisa dilakukan karena masih ada api dan asap di dermaga barat pelabuhan Benoa.

Hingga kemarin petugas juga masih melakukan pendinginan. “Itu masih pendinginan. Asap dan api masih ada, jadi belum bisa dilaksanakan.

Kami meminta tolong segera agar alat dari Pertamina yang punya. Saya sudah berkoordinasi dengan KSOP.

Selain oli, puing-puing juga berpengaruh. Tapi, memang yang paling berdampak oli. Solar kelihatannya juga ada,” imbuhnya.

Baca Juga:  Kejar Perampok ATM Maybank, Polisi Bentuk Tim Khusus

Wisada juga meminta bahan bakar yang masih tersisa dalam kapal  agar diambil dan dikumpulkan agar tidak menambah pencemaran.

Sebab akan berdampak pada biota laut dan ekosistem laut. Tapi, menurutnya pencemaran tidak banyak, hanya seputaran tempat kejadian kebakaran.

Sedangkan untuk waktu pemulihan, Wisada mengaku belum menganalisis sedalam itu. 

 

 

 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/