alexametrics
25.4 C
Denpasar
Tuesday, August 9, 2022

Dua Kelian Banjar Sudihati Pemalak Duktang dan Terjaring OTT P-21

BANGLI – Masih ingat kasus dua kelian di Banjar Sudihati, Desa Kintamani, Kecamatan Kintamani yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) karena memungut penduduk pendatang Mei 2018 lalu?

 

Terbaru atas kasus yang menjerat kelian Dinas Banjar Sudihati, Ali Usman, 42, dan Kelian Adat Sudihati, Dahlan, 37, kini mulai masuk babak baru.

Dua kelian yang terjaring OTT oleh tim saber pungli Polres Bangli pada Sabtu malam (19/5) itu sudah masuk P-21.

 

Seperti dibenarkan Kasat Reskrim Polres Bangli, AKP M. Akbar Eka Putra Samosir. Didampingi Kasubag Humas Polres Bangli, AKP Sulhadi, ia menjelaskan jika perbuatan para pelaku melawan hukum karena pungutan tersebut tidak diatur dalam Peraturan Desa Kintamani. Perbuatan mereka juga bertentangan dengan Undang-undang nomor 23 tahun 2006 tentang administrasi kependudukan.

Baca Juga:  Layani 8 Pria per Malam, Lima ABG Itu Sebulan Bisa Kantongi Rp 72 Juta

 

“Terhadap perkara tersebut, penyidik telah melakukan langkah-langkah koordinasi dengan JPU Kejaksaan Negeri Bangli terkait kelengkapan formil dan materiilnya. Sudah dinyatakan lengkap dengan diterbitkannya  P21 dengan nomor masing-masing,” terangnya.

Lebih lanjut, kata Akbar, terkait proses pelimpahan tersangka dan barang bukti (tahap II) masih dilakukan koordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Bangli.

 

Sedangkan  Kasubag Humas Polres Bangli, AKP Sulhadi, menambahkan penangkapan keduanya dipimpin oleh Ipda I Nengah Sarjana.

 

“Diduga melakukan pungutan berupa uang kepada penduduk pendatang atau non permanen yang tinggal di wilayah Desa/Kecamatan Kintamani,” ujarnya.

 

Kedua pelaku beraksi dengan cara mendatangi tempat tinggal penduduk pendatang. Keduanya juga didampingi pecalang kampung  dengan maksud melakukan pendataan penduduk pendatang.

 

Saat pendataan, pelaku menyampaikan bahwa penduduk pendatang berkewajiban untuk melaporkan diri kepada kepala lingkungan. “Sebagai bentuk pengawasan dan pengikat terhadap keberadaan penduduk pendatang di wilayah Desa Kintamani, pelaku mewajibkan penduduk pendatang untuk mengisi formulir,” jelasnya.

Baca Juga:  Jatuh Usai Sruduk Avanza, Mahasiswi Tewas Tertabrak Truk

 

Ada tiga formulir yang yang disodorkan oleh kedua tersangka itu kepada pendatang. Para pendatang juga diminta menandatangani tiga surat itu. Yakni surat pernyataan kesanggupan mematuhi aturan dusun dengan kewajiban membayar sejumlah Rp 350 ribu.

 

Kedua, surat rekomendasi kelian  banjar dinas Sudihati agar dapat dipertimbangkan untuk menjadi penduduk Desa Kintamani.

 

Ketiga, surat pernyataan selaku penampung penduduk pendatang.

 

“Selanjutnya formulir yang telah diisi biodata penduduk pendatang dan ditandatangani diserahkan kembali kepada pelaku D (Dahlan).

Sementara uang sebagai persyaratan mematuhi aturan dusun  sebesar Rp 350 ribu diserahkan kepada pelaku AU (Ali Usman),” tukasnya.



BANGLI – Masih ingat kasus dua kelian di Banjar Sudihati, Desa Kintamani, Kecamatan Kintamani yang terjaring operasi tangkap tangan (OTT) karena memungut penduduk pendatang Mei 2018 lalu?

 

Terbaru atas kasus yang menjerat kelian Dinas Banjar Sudihati, Ali Usman, 42, dan Kelian Adat Sudihati, Dahlan, 37, kini mulai masuk babak baru.

Dua kelian yang terjaring OTT oleh tim saber pungli Polres Bangli pada Sabtu malam (19/5) itu sudah masuk P-21.

 

Seperti dibenarkan Kasat Reskrim Polres Bangli, AKP M. Akbar Eka Putra Samosir. Didampingi Kasubag Humas Polres Bangli, AKP Sulhadi, ia menjelaskan jika perbuatan para pelaku melawan hukum karena pungutan tersebut tidak diatur dalam Peraturan Desa Kintamani. Perbuatan mereka juga bertentangan dengan Undang-undang nomor 23 tahun 2006 tentang administrasi kependudukan.

Baca Juga:  Remaja Asal Bangli Tewas di Pohon Manggis, Polisi Singgung Masalah Ini

 

“Terhadap perkara tersebut, penyidik telah melakukan langkah-langkah koordinasi dengan JPU Kejaksaan Negeri Bangli terkait kelengkapan formil dan materiilnya. Sudah dinyatakan lengkap dengan diterbitkannya  P21 dengan nomor masing-masing,” terangnya.

Lebih lanjut, kata Akbar, terkait proses pelimpahan tersangka dan barang bukti (tahap II) masih dilakukan koordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Bangli.

 

Sedangkan  Kasubag Humas Polres Bangli, AKP Sulhadi, menambahkan penangkapan keduanya dipimpin oleh Ipda I Nengah Sarjana.

 

“Diduga melakukan pungutan berupa uang kepada penduduk pendatang atau non permanen yang tinggal di wilayah Desa/Kecamatan Kintamani,” ujarnya.

 

Kedua pelaku beraksi dengan cara mendatangi tempat tinggal penduduk pendatang. Keduanya juga didampingi pecalang kampung  dengan maksud melakukan pendataan penduduk pendatang.

 

Saat pendataan, pelaku menyampaikan bahwa penduduk pendatang berkewajiban untuk melaporkan diri kepada kepala lingkungan. “Sebagai bentuk pengawasan dan pengikat terhadap keberadaan penduduk pendatang di wilayah Desa Kintamani, pelaku mewajibkan penduduk pendatang untuk mengisi formulir,” jelasnya.

Baca Juga:  Ngamuk Lempari Perabotan Dapur, Warga Desa Tamanbali Bangli Diamankan

 

Ada tiga formulir yang yang disodorkan oleh kedua tersangka itu kepada pendatang. Para pendatang juga diminta menandatangani tiga surat itu. Yakni surat pernyataan kesanggupan mematuhi aturan dusun dengan kewajiban membayar sejumlah Rp 350 ribu.

 

Kedua, surat rekomendasi kelian  banjar dinas Sudihati agar dapat dipertimbangkan untuk menjadi penduduk Desa Kintamani.

 

Ketiga, surat pernyataan selaku penampung penduduk pendatang.

 

“Selanjutnya formulir yang telah diisi biodata penduduk pendatang dan ditandatangani diserahkan kembali kepada pelaku D (Dahlan).

Sementara uang sebagai persyaratan mematuhi aturan dusun  sebesar Rp 350 ribu diserahkan kepada pelaku AU (Ali Usman),” tukasnya.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/