alexametrics
24.8 C
Denpasar
Thursday, May 26, 2022

Setubuhi Siswi di Ruang UKS, Oknum Kepsek Dituntut 12 Tahun Penjara

NEGARA– GK, 58, oknum kepala sekolah salah satu SD di Jembrana ini tak hanya kehilangan jabatan.

Namun, gara-gara perbuatannya, pria yang sebentar lagi pensiun ini juga bakal terancam menua di balik penjara.

GK yang merupakan terdakwa kasus persetubuhan terhadap muridnya yang masih di bawah umur, dituntut pidana penjara selama 12 tahun.

Bahkan tak hanya hukuman penjara, Terdakwa GK juga dituntut membayar denda sebesar Rp 15 juta dengan subsider selama 6 bulan penjara.

Kasipidum Kejari Jembrana Delfi Trimariono menjelaskan, berdasarkan fakta persidangan kasus dugaan persetubuhan terdakwa GK, 58, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 81 ayat (1) dan (3) Undang-Undang (UU) RI No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang perlindungan anak,” terangnya.

Baca Juga:  Truk Sarat Muatan Tepung Terguling di Jalan Tikungan, Sopir Selamat

Menurutnya, tuntutan terhadap terdakwa lebih berat karena sebagai seorang pendidik hukuman ditambah sepertiga.

Sehingga, hal yang memberatkan diantaranya terdakwa berbelit belit dalam memberikan keterangan di persidangan, terdakwa merupakan tenaga pendidik yang seharusnya menjadi teladan, memberi rasa aman dan memperhatikan perkembangan anak murid, serta perbuatan terdakwa menimbulkan trauma mendalam terhadap anak korban dan merusak masa depan anak korban.

“Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum,” tegas Delfi Trimariono.

Mengenai tuntutan tersebut, I Nyoman Aria Merta, selaku kuasa hukum terdakwa dari pos bantuan hukum PN Negara yang ditunjuk majelis hakim menyatakan, bahwa terdakwa akan menyampaikan pledoi atau pembelaan tertulis dalam sidang berikutnya.

Menurutnya, tuntutan jaksa penuntut umum terhadap Terdakwa GK dinilai terlalu tinggi. Sedangkan sesuai fakta persidangan kasus dugaan persetubuhan tidak terbukti ada tindak pidana persetubuhan.

“Terdakwa tadi sudah menyampaikan akan menyampaikan nota pledoi tertulis pada sidang berikutnya,” terang Aria Merta.

Baca Juga:  TRAGIS! Gilas Pecahan Beton, Pemotor Digilas Tronton di Jalur Setan

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang siswi sekolah dasar (SD) di Jembrana diduga menjadi korban asusila oknum kepala sekolah, GK,58.  Siswi yang masih duduk di kelas IV tersebut disetubuhi oknum kepala sekolah cabul saat klinik pembelajaran yang digelar secara tatap muka terbatas di sekolah.

Dugaan pelecehan seksual terhadap siswi tersebut terungkap saat korban bersama teman sekolahnya belajar kelompok di rumah korban.

Saat itu, salah satu teman korban mengungkapkan pada ibu korban bahwa korban merupakan siswi paling disayang kepala sekolah, bahkan korban pernah dicium kepala sekolah.

Namun cerita teman korban tidak dihiraukan ibu korban.

Pada malam hari, ibu korban menanyakan pada korban langsung mengenai cerita teman korban.

Saat itu, korban menceritakan yang dialami pada ibu korban, bahwa kepala sekolah melakukan pelecehan seksual pada korban di ruang UKS sekolah saat siswa lain saat sekolah sepi.

Mendengar cerita anaknya, ayah korban melaporkan kejadian tersebut ke Polres Jembrana. 


NEGARA– GK, 58, oknum kepala sekolah salah satu SD di Jembrana ini tak hanya kehilangan jabatan.

Namun, gara-gara perbuatannya, pria yang sebentar lagi pensiun ini juga bakal terancam menua di balik penjara.

GK yang merupakan terdakwa kasus persetubuhan terhadap muridnya yang masih di bawah umur, dituntut pidana penjara selama 12 tahun.

Bahkan tak hanya hukuman penjara, Terdakwa GK juga dituntut membayar denda sebesar Rp 15 juta dengan subsider selama 6 bulan penjara.

Kasipidum Kejari Jembrana Delfi Trimariono menjelaskan, berdasarkan fakta persidangan kasus dugaan persetubuhan terdakwa GK, 58, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar Pasal 81 ayat (1) dan (3) Undang-Undang (UU) RI No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang perlindungan anak,” terangnya.

Baca Juga:  Kurangi Kecepatan, Tiga Mobil Terlibat Tabrakan di Jalur Tengkorak

Menurutnya, tuntutan terhadap terdakwa lebih berat karena sebagai seorang pendidik hukuman ditambah sepertiga.

Sehingga, hal yang memberatkan diantaranya terdakwa berbelit belit dalam memberikan keterangan di persidangan, terdakwa merupakan tenaga pendidik yang seharusnya menjadi teladan, memberi rasa aman dan memperhatikan perkembangan anak murid, serta perbuatan terdakwa menimbulkan trauma mendalam terhadap anak korban dan merusak masa depan anak korban.

“Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum,” tegas Delfi Trimariono.

Mengenai tuntutan tersebut, I Nyoman Aria Merta, selaku kuasa hukum terdakwa dari pos bantuan hukum PN Negara yang ditunjuk majelis hakim menyatakan, bahwa terdakwa akan menyampaikan pledoi atau pembelaan tertulis dalam sidang berikutnya.

Menurutnya, tuntutan jaksa penuntut umum terhadap Terdakwa GK dinilai terlalu tinggi. Sedangkan sesuai fakta persidangan kasus dugaan persetubuhan tidak terbukti ada tindak pidana persetubuhan.

“Terdakwa tadi sudah menyampaikan akan menyampaikan nota pledoi tertulis pada sidang berikutnya,” terang Aria Merta.

Baca Juga:  Pasang TV Kabel, Pekerja Lepas Tersengat Listrik, Begini Kejadiannya..

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang siswi sekolah dasar (SD) di Jembrana diduga menjadi korban asusila oknum kepala sekolah, GK,58.  Siswi yang masih duduk di kelas IV tersebut disetubuhi oknum kepala sekolah cabul saat klinik pembelajaran yang digelar secara tatap muka terbatas di sekolah.

Dugaan pelecehan seksual terhadap siswi tersebut terungkap saat korban bersama teman sekolahnya belajar kelompok di rumah korban.

Saat itu, salah satu teman korban mengungkapkan pada ibu korban bahwa korban merupakan siswi paling disayang kepala sekolah, bahkan korban pernah dicium kepala sekolah.

Namun cerita teman korban tidak dihiraukan ibu korban.

Pada malam hari, ibu korban menanyakan pada korban langsung mengenai cerita teman korban.

Saat itu, korban menceritakan yang dialami pada ibu korban, bahwa kepala sekolah melakukan pelecehan seksual pada korban di ruang UKS sekolah saat siswa lain saat sekolah sepi.

Mendengar cerita anaknya, ayah korban melaporkan kejadian tersebut ke Polres Jembrana. 


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/