alexametrics
26.5 C
Denpasar
Friday, August 12, 2022

Bom Teroris Canggih, Pastika: Polri Seperti Nonton Ikan di Akuarium

DENPASAR– Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengaku sudah berkoordinasi dengan Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose pasca tragedi bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur.

Tujuannya untuk mengambil langkah-langkah antisipatif. “Saya melihat sudah terjadi peningkatan masalah pengamanan. Mudah-mudahan ini tidak menjalar ke Bali,” ujar Gubernur Pastika.

Pak Gub menilai teror atau serangan yang terjadi saat ini semakin ofensif. “Para teroris ini semakin ofensif dan saya melihat bom yang meledak ini semakin canggih.

Tri aseton tri peroksida. Lebih canggih dari yang lama, black powder,” tandas mantan Kapolda Bali 2003-2005 yang menjabat pasca Bom Bali 1 di Paddy’s Pub dan Sari Club ini.

Baca Juga:  Dipanggil Penyidik, Pelapor Minta Kasus Tak Diintervensi

Gubernur Pastika mengimbau masyarakat Bali untuk lebih berhati-hati. “Tidak bisa tidak kita harus lebih berhati-hati,” tandasnya. 

Pemprov Bali berharap tragedi bom Surabaya tidak berpengaruh pada agenda atau hajatan kenegaraan dan lintas negara di Pulau Dewata.

“Mudah-mudahan tidak. Tapi ini kita tidak bisa menentukan. Kalau terus-menerus ini tidak bisa kita redam saya kira bisa jadi mengganggu,” ungkapnya.

Mantan Kapolda NTT, Irian Jaya, dan Wakil Kabareskrim Mabes Polri ini menginginkan aparat penegak hukum punya kewenangan untuk mengambil tindakan sebelum mereka (teroris, red) bertindak.

“Untuk kejadian ini (teror, red) karena ada niat dan kesempatan. Secara sederhana rumusnya seperti itu. Gimana melihat niat ini? Kan susah. Kita tidak tahu ada yang punya niat nggak di sini,” bebernya.

Baca Juga:  Positif Nyabu, Jero Jangol Pernah Sebulan Jalani Rehabilitasi di BNNP

Bila pihak keamanan, khususnya Polri memiliki kewenangan “menggarap” niat itu dengan indikasi-indikasi tertentu, maka akan lebih awal kita tahu dan mengambil tindakan,” tegasnya.

Pastika menyebut situasi yang kini dihadapi Polri dan penegak hukum menurut para ahli ibarat menonton ikan di akuarium.

“Banyak ikan di dalamnya. Sudah diketahui ikan itu bahaya semua. Cuma nggak bisa ditangkap. Karena itu tadi. Selama mereka tidak berbuat sesuatu,

selama tidak ada barang bukti padanya ya susah mau bertindak bagaimana. Jadi nunggu dulu sampai ada barang bukti,” jelas Pastika



DENPASAR– Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengaku sudah berkoordinasi dengan Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose pasca tragedi bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur.

Tujuannya untuk mengambil langkah-langkah antisipatif. “Saya melihat sudah terjadi peningkatan masalah pengamanan. Mudah-mudahan ini tidak menjalar ke Bali,” ujar Gubernur Pastika.

Pak Gub menilai teror atau serangan yang terjadi saat ini semakin ofensif. “Para teroris ini semakin ofensif dan saya melihat bom yang meledak ini semakin canggih.

Tri aseton tri peroksida. Lebih canggih dari yang lama, black powder,” tandas mantan Kapolda Bali 2003-2005 yang menjabat pasca Bom Bali 1 di Paddy’s Pub dan Sari Club ini.

Baca Juga:  OMG! Sehari Ada 250 Kasus Cerai, KPN Denpasar: Numpuk Seperti Pasar

Gubernur Pastika mengimbau masyarakat Bali untuk lebih berhati-hati. “Tidak bisa tidak kita harus lebih berhati-hati,” tandasnya. 

Pemprov Bali berharap tragedi bom Surabaya tidak berpengaruh pada agenda atau hajatan kenegaraan dan lintas negara di Pulau Dewata.

“Mudah-mudahan tidak. Tapi ini kita tidak bisa menentukan. Kalau terus-menerus ini tidak bisa kita redam saya kira bisa jadi mengganggu,” ungkapnya.

Mantan Kapolda NTT, Irian Jaya, dan Wakil Kabareskrim Mabes Polri ini menginginkan aparat penegak hukum punya kewenangan untuk mengambil tindakan sebelum mereka (teroris, red) bertindak.

“Untuk kejadian ini (teror, red) karena ada niat dan kesempatan. Secara sederhana rumusnya seperti itu. Gimana melihat niat ini? Kan susah. Kita tidak tahu ada yang punya niat nggak di sini,” bebernya.

Baca Juga:  Polisi Gelar Pra-Rekonstruksi Pengrusakan Penjor Galungan di Gianyar

Bila pihak keamanan, khususnya Polri memiliki kewenangan “menggarap” niat itu dengan indikasi-indikasi tertentu, maka akan lebih awal kita tahu dan mengambil tindakan,” tegasnya.

Pastika menyebut situasi yang kini dihadapi Polri dan penegak hukum menurut para ahli ibarat menonton ikan di akuarium.

“Banyak ikan di dalamnya. Sudah diketahui ikan itu bahaya semua. Cuma nggak bisa ditangkap. Karena itu tadi. Selama mereka tidak berbuat sesuatu,

selama tidak ada barang bukti padanya ya susah mau bertindak bagaimana. Jadi nunggu dulu sampai ada barang bukti,” jelas Pastika


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/