alexametrics
30.8 C
Denpasar
Sunday, May 29, 2022

Aktivis Anak Desak Polisi Terapkan Pasal Pembunuhan Berencana Ke Kicen

PENYIDIK unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Karangasem telah menetapkan I Nengah Kicen sebagai tersangka.

 

Pria 33 tahun warga Banjar Babakan, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang, Karangasem, ini ditetapkan tersangka atas dugaan penganiayaan berat hingga menewaskan I Kadek Sepi, 13, anak kandungnya.

 

Usai ditetapkan tersangka, banyak pihak menaruh simpati dan respon atas kasus ini.

Salah satunya, reaksi datang dari praktisi yang juga aktivis anak Siti Sapurah. Seperti apa?

 

 

MARCELL PAMPURS, Denpasar

 

MENINGGALNYA I Kadek Sepi, siswa kelas VI SDN 4 Purwakerthi di tangan ayah kandung (I Nengah Kicen) terus menghiasi pemberitaan media.

 

Ia tewas setelah dianiaya dengan sadis oleh ayah kandungnya hanya gara-gara main air di teras rumah saat diminta tersangka menjaga sang adik IKH.

 

Bocah yang semasa hidup dikenal sopan, rajin dan penurut ini dihantam pakai tongkat bambu, dan mainan pedang-pedangan yang terbuat dari kayu hingga ambruk dan kejang-kejang akibat pembuluh darah di bagian leher pecah.

 

Selain dipukul pakai tongkat, korban juga dibekap mulutnya dengan baju saat meronta kesakitan di dalam kamar.

 

Selain mengalami sesak akibat disumpal mulut dengan baju, korban juga dibiarkan kesakitan dengan kondisi muntah dan mencret di dalam kamar oleh tersangka.

Baca Juga:  Mimih, Pemburu Tikus Ditemukan Tewas Bunuh Diri, Penyebabnya Misterius

 

Singkat cerita, saat kondisi korban sekarat, tersangka Kicen dan istrinya (Saksi Ni Nyoman Sutini) bukannya membawa korban ke RS.

 

Melainkan, mereka justru membawa korban ke balian atau dukun dengan alasan keyakinan dan tak punya kendaraan.

 

Jelas akibat luka di leher akibat pukulan tersangka, korban akhirnya dinyatakan meninggal.

 

Belakangan setelah meninggal, baru muncul dugaan ketidakwajaran dari kematian Sepi. Munculnya keganjilan itu terungkap saat jenazah Kadek Sepi dimandikan.

 

Selanjutnya, setelah dilaporkan polisi dan dilakukan pembongkaran kuburan, dari keterangan sejumlah saksi dan hasil otopsi, akhirnya polisi menetapkan Kiceng sebagai tersangka.

 

Usai ditetapkan tersangka dan ditahan, polisi menjerat Tersangka Kicen dengan pasal berlapis.

 

Selain sangkaan primer Pasal 80 Ayat (4) Juncto Pasal 76 huruf C Undang Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.

 

Polisi juga menjerat tersangka dengan sangkaan subsider Pasal 44 Ayat (3) undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT.

 

Terkait penerapan pasal itu, aktivis perlindungan anak dan perempuan Siti Sapurah berang. 

Baca Juga:  Korban Penyekapan Diteror, Pelaku Penyekapan Masih Bebas Berkeliaran

 

Dia menilai penerapan pasal yang disangkakan polisi itu tidak sesuai dengan aksi keji yang dialami oleh korban hingga akhirnya meregang nyawa.

 

Menurut dia, pelaku yang merupakan ayah kandung korban itu harus dikenai pasal pembunuhan berencana.

 

“Harusnya Pasal 80 ayat (3) dan ayat (4) UU Nomor 35 tahun 2014 perubahan pertama dari UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Yang kedua, juncto Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dan juncto Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan berencana,” kata Ipung_sapaan Siti Sapurah kepada awak media di Denpasar Jumat (15/10).

 

Lanjut dia, bahwa dalam menerapkan pasal itu, polisi harus berkaca pada hasil otopsi korban.

 

Dimana korban dihabisi dengan cara yang sadis dan juga sudah mengandung unsur perencanaan.

 

 

“Kenapa bisa masuk ke pasal 340 KUHP pembunuha berencana? karena dia dengan sengaja membunuh seseorang. Korban mengalami pendarahan keras, dan muntah-muntah.

Tak cukup sampai di situ saat korban muntah-muntah, pelaku membuka baju korban dan kemudian dipakai untuk membekap mulut korban dan menutup hidungnya. Artinya apa? Mau dibunuh kan? Saya menilai ini dari hasil otopsi,” tegas Ipung.


PENYIDIK unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Karangasem telah menetapkan I Nengah Kicen sebagai tersangka.

 

Pria 33 tahun warga Banjar Babakan, Desa Purwakerthi, Kecamatan Abang, Karangasem, ini ditetapkan tersangka atas dugaan penganiayaan berat hingga menewaskan I Kadek Sepi, 13, anak kandungnya.

 

Usai ditetapkan tersangka, banyak pihak menaruh simpati dan respon atas kasus ini.

Salah satunya, reaksi datang dari praktisi yang juga aktivis anak Siti Sapurah. Seperti apa?

 

 

MARCELL PAMPURS, Denpasar

 

MENINGGALNYA I Kadek Sepi, siswa kelas VI SDN 4 Purwakerthi di tangan ayah kandung (I Nengah Kicen) terus menghiasi pemberitaan media.

 

Ia tewas setelah dianiaya dengan sadis oleh ayah kandungnya hanya gara-gara main air di teras rumah saat diminta tersangka menjaga sang adik IKH.

 

Bocah yang semasa hidup dikenal sopan, rajin dan penurut ini dihantam pakai tongkat bambu, dan mainan pedang-pedangan yang terbuat dari kayu hingga ambruk dan kejang-kejang akibat pembuluh darah di bagian leher pecah.

 

Selain dipukul pakai tongkat, korban juga dibekap mulutnya dengan baju saat meronta kesakitan di dalam kamar.

 

Selain mengalami sesak akibat disumpal mulut dengan baju, korban juga dibiarkan kesakitan dengan kondisi muntah dan mencret di dalam kamar oleh tersangka.

Baca Juga:  Rem Blong, Truk Pasir Hajar Tiga Motor, Satu Tewas Dilindas Roda Truk

 

Singkat cerita, saat kondisi korban sekarat, tersangka Kicen dan istrinya (Saksi Ni Nyoman Sutini) bukannya membawa korban ke RS.

 

Melainkan, mereka justru membawa korban ke balian atau dukun dengan alasan keyakinan dan tak punya kendaraan.

 

Jelas akibat luka di leher akibat pukulan tersangka, korban akhirnya dinyatakan meninggal.

 

Belakangan setelah meninggal, baru muncul dugaan ketidakwajaran dari kematian Sepi. Munculnya keganjilan itu terungkap saat jenazah Kadek Sepi dimandikan.

 

Selanjutnya, setelah dilaporkan polisi dan dilakukan pembongkaran kuburan, dari keterangan sejumlah saksi dan hasil otopsi, akhirnya polisi menetapkan Kiceng sebagai tersangka.

 

Usai ditetapkan tersangka dan ditahan, polisi menjerat Tersangka Kicen dengan pasal berlapis.

 

Selain sangkaan primer Pasal 80 Ayat (4) Juncto Pasal 76 huruf C Undang Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.

 

Polisi juga menjerat tersangka dengan sangkaan subsider Pasal 44 Ayat (3) undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT.

 

Terkait penerapan pasal itu, aktivis perlindungan anak dan perempuan Siti Sapurah berang. 

Baca Juga:  Teror Bom Hantui Jatim, Polda Bali Perintahkan Tembak Ditempat

 

Dia menilai penerapan pasal yang disangkakan polisi itu tidak sesuai dengan aksi keji yang dialami oleh korban hingga akhirnya meregang nyawa.

 

Menurut dia, pelaku yang merupakan ayah kandung korban itu harus dikenai pasal pembunuhan berencana.

 

“Harusnya Pasal 80 ayat (3) dan ayat (4) UU Nomor 35 tahun 2014 perubahan pertama dari UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Yang kedua, juncto Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dan juncto Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan berencana,” kata Ipung_sapaan Siti Sapurah kepada awak media di Denpasar Jumat (15/10).

 

Lanjut dia, bahwa dalam menerapkan pasal itu, polisi harus berkaca pada hasil otopsi korban.

 

Dimana korban dihabisi dengan cara yang sadis dan juga sudah mengandung unsur perencanaan.

 

 

“Kenapa bisa masuk ke pasal 340 KUHP pembunuha berencana? karena dia dengan sengaja membunuh seseorang. Korban mengalami pendarahan keras, dan muntah-muntah.

Tak cukup sampai di situ saat korban muntah-muntah, pelaku membuka baju korban dan kemudian dipakai untuk membekap mulut korban dan menutup hidungnya. Artinya apa? Mau dibunuh kan? Saya menilai ini dari hasil otopsi,” tegas Ipung.


Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru


/